Artikel

RUPTL 2025–2034 Dinilai Masih Menyimpan Risiko Ketergantungan Energi Fosil

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL 2025–2034 membawa arah baru bagi transisi energi Indonesia. Target kapasitas energi terbarukan dinaikkan secara signifikan, dengan rencana penambahan sekitar 42,6 GW energi terbarukan dan 10,3 GW kapasitas penyimpanan energi hingga 2034.

Dalam rencana terbaru tersebut, porsi energi terbarukan dari tambahan kapasitas pembangkit mencapai sekitar 74 persen jika penyimpanan baterai tidak dihitung. Ini menunjukkan adanya pergeseran yang lebih kuat menuju energi bersih dibandingkan RUPTL sebelumnya.

Namun, Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menilai masih terdapat risiko besar karena pada lima tahun pertama, yaitu periode 2025–2029, pembangkit berbasis fosil masih mendapat porsi yang signifikan. Pada fase ini, sekitar 12,7 GW atau 45 persen tambahan kapasitas masih berasal dari energi fosil, sementara energi terbarukan berada di kisaran 12,2 GW atau 44 persen.

Salah satu perhatian utama adalah rencana ekspansi pembangkit berbahan bakar gas. Gas sering diposisikan sebagai energi transisi, tetapi ketergantungan yang terlalu besar terhadapnya dapat menimbulkan risiko finansial karena harga gas sangat dipengaruhi volatilitas pasar global dan nilai tukar.

IEEFA memperkirakan ketergantungan yang berlanjut pada energi fosil dapat menyebabkan tambahan beban sekitar US$60 miliar selama periode 2025–2034 dibandingkan skenario yang lebih berorientasi pada energi terbarukan.

Beban tersebut menjadi penting karena sektor kelistrikan Indonesia masih sangat bergantung pada subsidi dan kompensasi pemerintah. Pada 2024, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp177 triliun untuk subsidi dan kompensasi listrik.

Selain persoalan biaya, efisiensi pembangkit gas juga menjadi perhatian. Pada 2024, pembangkit berbahan bakar gas di Indonesia disebut hanya beroperasi sekitar 30 persen dari kapasitasnya. Kondisi ini menunjukkan adanya kapasitas yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Sebaliknya, pembangkit surya dan angin menunjukkan faktor pemanfaatan yang cukup kompetitif. Energi surya mencatat sekitar 20 persen, sedangkan tenaga angin mencapai sekitar 44 persen, menunjukkan bahwa kedua sumber tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas.

Ketergantungan terhadap batu bara dan gas juga dapat memengaruhi daya tarik investasi Indonesia. Perusahaan global semakin membutuhkan pasokan listrik rendah karbon untuk memenuhi target dekarbonisasi dan komitmen energi terbarukan mereka.

Dalam survei yang dikutip IEEFA, 88 persen pemimpin bisnis Indonesia menginginkan sebagian besar pasokan energi nasional berasal dari energi terbarukan dalam sepuluh tahun ke depan. Sebagian perusahaan bahkan mempertimbangkan pemindahan operasi atau rantai pasok apabila ketersediaan energi bersih tidak mencukupi.

Karena itu, lima tahun pertama RUPTL dinilai menjadi periode yang sangat menentukan. Percepatan energi surya, angin, hidro, panas bumi, penyimpanan energi, serta penguatan jaringan kelistrikan dapat membantu mengurangi risiko finansial sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.

RUPTL 2025–2034 telah menunjukkan arah yang lebih hijau, tetapi tantangan sesungguhnya terletak pada seberapa cepat Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dan gas. Transisi energi bukan hanya persoalan menurunkan emisi, tetapi juga menentukan biaya listrik, ketahanan energi, dan daya saing investasi Indonesia di masa depan.

Sumber: Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA)
https://ieefa.org/resources/risks-fossil-fuel-dependence-indonesias-electricity-supply-business-plan-ruptl-2025-0

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO