Dokumen

Power Wheeling Dinilai Bisa Percepat Investasi Energi Terbarukan di Indonesia

Indonesia membutuhkan investasi besar untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan. Target penambahan kapasitas energi bersih yang ambisius tidak akan mudah dicapai jika hanya mengandalkan pembiayaan pemerintah dan PLN.

Institute for Essential Services Reform (IESR) menyoroti salah satu opsi yang dapat membuka ruang investasi lebih luas, yaitu Pemanfaatan Bersama Jaringan Transmisi atau PBJT, yang juga dikenal sebagai power wheeling.

Melalui mekanisme ini, produsen listrik dapat menggunakan jaringan transmisi yang sudah tersedia untuk menyalurkan listrik kepada konsumen tertentu. Skema tersebut dinilai dapat memberikan pilihan lebih luas bagi perusahaan yang ingin memperoleh listrik dari sumber energi terbarukan.

Kebutuhan mekanisme seperti ini semakin penting karena Indonesia menargetkan tambahan sekitar 75 GW kapasitas energi terbarukan hingga 2040. Besarnya kebutuhan investasi membuat keterlibatan sektor swasta menjadi sangat penting.

Saat ini, salah satu tantangan pengembangan energi terbarukan adalah terbatasnya pilihan pengadaan listrik bagi perusahaan. Persoalan geografis juga menjadi kendala karena lokasi sumber energi terbarukan tidak selalu berada dekat dengan kawasan industri atau pusat konsumsi listrik.

Melalui pemanfaatan bersama jaringan transmisi, pembangkit energi terbarukan di suatu wilayah berpotensi menyalurkan listrik kepada konsumen di lokasi berbeda tanpa harus membangun jaringan listrik sendiri secara keseluruhan.

Mekanisme ini juga dapat menarik perusahaan global yang tergabung dalam inisiatif seperti RE100, yaitu perusahaan-perusahaan yang memiliki komitmen menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan.

Bagi perusahaan tersebut, ketersediaan akses langsung terhadap listrik bersih semakin penting karena target dekarbonisasi tidak hanya berkaitan dengan operasional perusahaan, tetapi juga dengan rantai pasok dan daya saing produk di pasar internasional.

IESR menilai PBJT juga dapat memberikan manfaat bagi PLN apabila dirancang dengan regulasi yang tepat. Penggunaan jaringan transmisi oleh pihak lain dapat menghasilkan pendapatan jangka panjang melalui biaya pemanfaatan jaringan.

Dengan demikian, mekanisme ini tidak harus dipandang sebagai persaingan antara PLN dan produsen listrik swasta. Dengan tata kelola yang jelas, PBJT dapat dirancang menjadi solusi yang memberikan manfaat bagi PLN, investor, konsumen industri, dan pengembangan energi terbarukan nasional.

Selain pengembangan pembangkit, percepatan energi terbarukan juga membuka peluang bagi industri manufaktur dalam negeri. Indonesia memiliki kesempatan untuk memperkuat produksi modul surya, turbin angin, baterai, dan berbagai komponen teknologi energi bersih.

Pengembangan industri tersebut berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ketahanan energi, membangun rantai pasok domestik, serta membantu menurunkan biaya teknologi energi terbarukan dalam jangka panjang.

Namun, penerapan power wheeling membutuhkan aturan yang jelas mengenai tarif penggunaan jaringan, prioritas akses, keandalan sistem, pembagian tanggung jawab, serta posisi PLN sebagai pengelola sistem ketenagalistrikan.

Transisi energi Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar target kapasitas pembangkit. Diperlukan juga reformasi mekanisme pasar dan jaringan listrik agar investasi swasta dapat masuk lebih cepat. Pemanfaatan bersama jaringan transmisi dapat menjadi salah satu instrumen untuk membuka akses tersebut sekaligus mempercepat pertumbuhan energi terbarukan nasional.

Sumber: Institute for Essential Services Reform (IESR)
https://iesr.or.id/en/pustaka/accelerating-renewables-investment-in-indonesia-shared-use-of-the-transmission-network/

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO