Jejak Bumi Sriwijaya Menuju Kemandirian Energi

Sumatera Selatan selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung energi Indonesia. Namun, di balik dominasi energi fosil, provinsi ini juga menyimpan potensi energi terbarukan yang sangat besar dan mulai menunjukkan langkah nyata menuju kemandirian energi.
Melalui publikasi Bumi Sriwijaya’s Footsteps to Energy Independence, Institute for Essential Services Reform (IESR) mendokumentasikan perjalanan pemanfaatan energi terbarukan di Sumatera Selatan, termasuk berbagai proyek yang telah memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pada 2022, bauran energi terbarukan Sumatera Selatan telah mencapai sekitar 23,85 persen, lebih tinggi dibanding target bauran energi terbarukan nasional sebesar 23 persen pada 2025. Capaian ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mempercepat transisi energi.
Potensi energi terbarukan di Sumatera Selatan diperkirakan mencapai sekitar 21.032 MW. Potensi terbesar berasal dari tenaga surya sekitar 17.233 MWp, disusul bioenergi 2.132 MW, panas bumi sekitar 918 MW, tenaga air 448 MW, serta tenaga angin sekitar 301 MW.
Namun, pemanfaatan potensi tersebut masih relatif kecil dibandingkan kapasitas yang tersedia. Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang pengembangan energi bersih di Sumatera Selatan masih sangat luas.
Salah satu contoh menarik terdapat di Desa Tanjung Raja, Muara Enim. Pembangkit listrik tenaga surya sekitar 16,5 kWp dimanfaatkan untuk mendukung sistem irigasi pertanian. Fasilitas tersebut memberikan manfaat kepada ratusan petani dan membantu meningkatkan peluang panen dalam setahun.
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa energi terbarukan tidak hanya berfungsi menghasilkan listrik. Ketika diterapkan sesuai kebutuhan lokal, teknologi energi bersih juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ekonomi desa, dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional.
Sumatera Selatan juga memiliki potensi panas bumi dan tenaga air yang telah mulai dimanfaatkan. Sejumlah fasilitas energi terbarukan menjadi contoh penerapan nyata, mulai dari PLTS di sektor industri, PLTS untuk irigasi pertanian, pembangkit listrik tenaga mikrohidro, hingga pembangkit panas bumi.
Namun, besarnya potensi tersebut membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten. Pemerintah daerah dapat mempercepat pemanfaatan energi surya melalui regulasi yang mendukung, pengembangan PLTS atap dan PLTS skala lahan, peningkatan pengetahuan masyarakat, serta insentif bagi sektor swasta dan rumah tangga.
Kolaborasi menjadi faktor penting. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat perlu bekerja bersama agar pengembangan energi bersih tidak hanya terkonsentrasi pada proyek besar, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Perjalanan Bumi Sriwijaya menunjukkan bahwa kemandirian energi dapat dimulai dari potensi yang tersedia di daerah. Dari matahari yang menggerakkan pompa irigasi, aliran sungai yang menghasilkan listrik, hingga panas bumi dari dalam tanah, Sumatera Selatan memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari lumbung energi fosil menjadi salah satu pusat energi bersih Indonesia.
Sumber: Institute for Essential Services Reform (IESR)
https://iesr.or.id/en/pustaka/bumi-sriwijayas-footsteps-to-energy-independence/




