Artikel

Armada Sampah Juga Harus Layak: Bukan Hanya Soal Truk Masih Bisa Jalan

Pelayanan persampahan sering dinilai dari satu hal yang paling mudah terlihat: berapa banyak sampah yang berhasil diangkut setiap hari. Ukuran ini memang penting, karena ketika sampah tidak terangkut, dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

Namun, ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: bagaimana sampah itu diangkut?

Truk sampah bukan sekadar kendaraan pemindah dari TPS atau sumber sampah menuju TPA. Bak kendaraan juga harus mampu menahan muatan dengan baik, mencegah sampah tercecer, dan mengendalikan lindi selama perjalanan.

Karena itu, kendaraan yang masih bisa berjalan belum tentu masih layak digunakan.

Jumlah Armada Tidak Sama dengan Armada Siap Operasi

Dalam perencanaan pelayanan persampahan, kebutuhan armada biasanya dihitung berdasarkan volume timbulan sampah, kapasitas kendaraan, jarak perjalanan, dan jumlah ritasi.

Masalahnya, kondisi di lapangan tidak selalu ideal.

Sebagian kendaraan bisa masuk bengkel, mengalami kerusakan, membutuhkan perawatan, atau sudah mendekati akhir umur teknisnya. Artinya, jumlah kendaraan yang tercatat sebagai aset belum tentu sama dengan jumlah kendaraan yang benar-benar siap dan layak beroperasi.

Perbedaan ini penting karena dapat langsung memengaruhi kapasitas pelayanan.

Jika kendaraan yang kurang layak dihentikan sementara, jumlah armada operasional akan berkurang. Namun, apabila kendaraan tetap dipaksakan beroperasi, risikonya adalah muatan tercecer, lindi menetes di jalan, gangguan keselamatan, dan bertambahnya biaya kerusakan.

Solusinya Bukan Sekadar Membeli Truk Baru

Penguatan armada persampahan tidak cukup hanya dengan menambah kendaraan.

Yang dibutuhkan adalah manajemen siklus hidup armada, mulai dari pengadaan, pemeliharaan berkala, pemeriksaan kelayakan, perbaikan, penyediaan unit cadangan, hingga penentuan waktu penggantian kendaraan.

Dengan perencanaan seperti ini, pemerintah atau operator dapat mengetahui berapa banyak kendaraan yang benar-benar tersedia untuk melayani wilayah tertentu setiap hari.

Armada cadangan juga penting agar gangguan pada satu atau dua unit tidak langsung menurunkan kualitas pelayanan secara keseluruhan.

Kondisi Armada Harus Jadi Indikator Kinerja

Selama ini indikator pelayanan persampahan sering berfokus pada volume yang terangkut. Padahal, kualitas kendaraan juga seharusnya masuk dalam penilaian kinerja.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain kondisi bak kendaraan, sistem penutup muatan, kemampuan menahan lindi, kelayakan mesin dan rem, kebersihan kendaraan, serta frekuensi kerusakan.

Data tersebut dapat membantu pemerintah mengetahui kapan sebuah kendaraan masih ekonomis untuk diperbaiki dan kapan sudah lebih tepat untuk diganti.

Pengangkutan adalah Bagian dari Sistem Lingkungan

Rantai pengelolaan sampah tidak berhenti ketika sampah berhasil keluar dari permukiman. Proses pengangkutan juga merupakan bagian dari perlindungan lingkungan.

Jangan sampai satu kawasan berhasil dibersihkan, tetapi sepanjang perjalanan menuju TPA justru muncul masalah baru berupa sampah tercecer, lindi menetes, bau, atau risiko kecelakaan.

Karena itu, keberhasilan pelayanan persampahan seharusnya tidak hanya diukur dari berapa ton sampah yang dibawa, tetapi juga dari seberapa aman, bersih, andal, dan layak proses pengangkutannya.

Sudah waktunya kondisi dan keandalan armada ditempatkan sebagai bagian penting dari evaluasi pelayanan persampahan. Sebab sistem yang baik bukan hanya mampu memindahkan sampah, tetapi memastikan sampah sampai ke fasilitas pengelolaan tanpa menciptakan persoalan baru di sepanjang jalan.

Sumber:
https://www.linkedin.com/posts/dewidwirianti_saya-dan-mungkin-rekan-juga-sempat-melihat-share-7509142334073221120-uGEd/?utm_source=share&utm_medium=member_desktop&rcm=ACoAABPIeEkBQ6GvlxFXmZ8nP4yZeLtBo4pqYyk

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO