Pembasahan Gambut Harus Terus Dilakukan, Kunci Cegah Karhutla Berulang

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut tidak cukup ditangani hanya dengan memadamkan api di permukaan. Tantangan yang lebih besar justru berada di bawah tanah, karena gambut yang kering dapat menyimpan bara dan kembali terbakar meskipun api terlihat sudah padam.
Karena itu, Wakil Menteri Lingkungan Hidup menekankan pentingnya pembasahan gambut secara terus-menerus di wilayah yang terdampak karhutla.
Langkah ini penting karena karakter gambut sangat berbeda dengan tanah mineral biasa. Gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik selama waktu yang sangat panjang dan secara alami menyimpan air dalam jumlah besar.
Ketika kondisi hidrologinya tetap terjaga, gambut relatif basah dan lebih sulit terbakar.
Masalah muncul ketika gambut mengalami drainase, kekeringan panjang, atau perubahan tata air.
Gambut Kering Sangat Mudah Terbakar
Gambut yang kehilangan kelembapan berubah menjadi material yang sangat mudah terbakar.
Berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa, api pada lahan gambut dapat merambat di bawah permukaan.
Bara dapat bertahan berhari-hari bahkan lebih lama, lalu muncul kembali ketika kondisi memungkinkan.
Inilah sebabnya pemadaman karhutla gambut membutuhkan waktu dan air dalam jumlah besar.
Petugas tidak cukup hanya menyiram bagian permukaan.
Air harus mampu membasahi lapisan gambut hingga kedalaman tertentu agar bara benar-benar padam.
Pembasahan Bukan Hanya untuk Memadamkan Api
Pembasahan atau rewetting memiliki fungsi lebih besar daripada sekadar penanganan darurat.
Tujuan utamanya adalah mengembalikan kelembapan gambut sehingga ekosistem kembali mendekati kondisi alaminya.
Jika muka air tanah dapat dipertahankan cukup tinggi, risiko gambut mengering dan terbakar dapat ditekan.
Karena itu, pembasahan harus dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan jangka panjang, bukan hanya ketika kebakaran sudah terjadi.
Pendekatan ini penting terutama menjelang dan selama musim kemarau.
Kanal Menjadi Bagian Penting dari Persoalan
Banyak kawasan gambut memiliki jaringan kanal.
Kanal dapat digunakan untuk transportasi atau berbagai kegiatan ekonomi, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, air dari lahan gambut dapat keluar terlalu cepat.
Akibatnya, muka air tanah turun dan gambut mengering.
Karena itu, restorasi gambut sering melibatkan pembangunan sekat kanal atau pengaturan tata air.
Tujuannya bukan sekadar menahan air, tetapi menjaga agar kelembapan gambut tetap stabil.
Dengan demikian, pencegahan karhutla sebenarnya berkaitan langsung dengan pengelolaan hidrologi.
Air Menjadi Benteng Pertama Gambut
Gambut yang sehat pada dasarnya adalah ekosistem basah.
Selama air tetap tersedia, risiko kebakaran jauh lebih rendah.
Karena itu, menjaga air di dalam lanskap gambut dapat dianggap sebagai bentuk perlindungan paling dasar.
Prinsipnya sederhana: gambut basah sulit terbakar, gambut kering sangat rentan terbakar.
Namun dalam praktiknya, menjaga gambut tetap basah membutuhkan koordinasi antara pemerintah, perusahaan, masyarakat, dan pengelola lahan.
Sebab air tidak berhenti di batas konsesi atau administrasi.
Satu kawasan yang dikeringkan dapat memengaruhi kondisi hidrologi wilayah di sekitarnya.
Karhutla Gambut Memiliki Dampak Besar terhadap Iklim
Kebakaran gambut tidak hanya menghasilkan asap.
Gambut menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar yang terkumpul selama ratusan hingga ribuan tahun.
Ketika terbakar, karbon tersebut dilepaskan ke atmosfer.
Karena itu, satu kejadian kebakaran gambut dapat menghasilkan emisi yang sangat besar dibandingkan kebakaran vegetasi biasa.
Dampaknya kemudian menjadi dua arah.
Perubahan iklim meningkatkan risiko kekeringan dan cuaca ekstrem.
Sementara kebakaran gambut menambah emisi yang memperburuk pemanasan global.
Inilah yang membuat perlindungan gambut sangat penting dalam agenda iklim.
Asap Menjadi Ancaman Kesehatan
Karhutla gambut juga menghasilkan asap pekat yang dapat bertahan lama.
Partikulat halus dapat menyebar jauh dari lokasi kebakaran dan memengaruhi kualitas udara.
Paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki penyakit tertentu.
Karena itu, pencegahan karhutla juga merupakan kebijakan kesehatan masyarakat.
Semakin cepat gambut dijaga tetap basah, semakin kecil kemungkinan masyarakat harus menghadapi krisis asap.
Pencegahan Harus Lebih Murah daripada Pemadaman
Pemadaman karhutla membutuhkan sumber daya besar.
Petugas, peralatan, helikopter water bombing, pompa, logistik, serta layanan kesehatan membutuhkan biaya tinggi.
Belum termasuk kerugian akibat gangguan ekonomi, transportasi, pendidikan, dan kesehatan.
Sebaliknya, menjaga tata air gambut sejak awal dapat menjadi investasi pencegahan.
Pembasahan, sekat kanal, patroli, pemantauan muka air tanah, serta sistem peringatan dini dapat membantu mengurangi risiko sebelum kebakaran berkembang.
Karena itu, strategi pengelolaan seharusnya bergeser dari firefighting menuju fire prevention.
Teknologi Bisa Membantu
Pengelolaan gambut kini dapat didukung berbagai teknologi.
Sensor muka air tanah dapat memberikan informasi kondisi kelembapan.
Citra satelit dapat mendeteksi hotspot dan perubahan tutupan lahan.
Drone dapat digunakan untuk memantau area yang sulit dijangkau.
Data cuaca dapat membantu memprediksi periode risiko tinggi.
Jika seluruh data tersebut digabungkan, pemerintah dan pengelola kawasan dapat mengetahui wilayah mana yang membutuhkan pembasahan lebih cepat.
Dengan pendekatan berbasis data, intervensi dapat dilakukan sebelum kebakaran membesar.
Masyarakat Lokal Menjadi Bagian Penting
Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gambut memiliki peran sangat besar.
Mereka mengetahui kondisi lahan, lokasi kanal, perubahan muka air, serta titik-titik yang sering mengalami kebakaran.
Karena itu, program pembasahan dan pencegahan sebaiknya melibatkan komunitas lokal.
Pelibatan masyarakat tidak hanya membantu pengawasan, tetapi juga dapat menciptakan mata pencaharian yang tidak bergantung pada praktik pengeringan atau pembakaran lahan.
Pendekatan ini sering disebut sebagai bagian dari revitalisasi ekonomi masyarakat gambut.
Restorasi Gambut Harus Dilihat sebagai Satu Sistem
Pembasahan saja belum cukup jika sumber penyebab kekeringan tidak diperbaiki.
Restorasi gambut membutuhkan beberapa langkah sekaligus: memperbaiki tata air, memulihkan vegetasi, mencegah kebakaran, serta mendukung ekonomi masyarakat.
Jika hanya satu aspek yang dilakukan, hasilnya bisa tidak bertahan lama.
Misalnya, penanaman kembali vegetasi akan sulit berhasil jika tanah tetap terlalu kering.
Sebaliknya, gambut yang sudah dibasahi juga membutuhkan perlindungan agar tidak kembali dikeringkan.
Jangan Menunggu Api Muncul
Pesan paling penting dari kebijakan pembasahan gambut adalah bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum api terlihat.
Ketika hotspot sudah muncul dalam jumlah besar, ruang untuk bertindak menjadi jauh lebih sempit.
Sebaliknya, jika muka air tanah dipantau sejak awal dan pembasahan dilakukan secara rutin, risiko dapat ditekan.
Karhutla gambut sebenarnya bukan hanya persoalan api. Ia adalah persoalan air.
Selama gambut tetap basah, ekosistem memiliki pertahanan alami terhadap kebakaran.
Karena itu, menjaga air di dalam lanskap gambut adalah salah satu strategi paling penting untuk melindungi hutan, kesehatan masyarakat, dan iklim.
Pembasahan gambut bukan pekerjaan darurat musiman. Ia harus menjadi bagian dari pengelolaan ekosistem sepanjang tahun.
Karena ketika gambut dibiarkan kering, api hanya menunggu waktu untuk kembali.
Sumber: ANTARA News
https://www.antaranews.com/berita/5778133/wamen-lh-minta-pembasahan-gambut-terus-dilakukan-di-wilayah-karhutla




