Praktik Baik

China Ubah Air Laut Menjadi Jutaan Ton Air Tawar, Kapasitas Desalinasi Ditargetkan 4,5 Juta Ton per Hari pada 2030

China semakin serius menjadikan laut sebagai sumber air tawar baru. Hingga akhir 2025, negara tersebut telah mengoperasikan 167 proyek desalinasi air laut dengan kapasitas gabungan mencapai sekitar 3,077 juta ton air per hari. Kapasitas sebesar itu disebut setara dengan kebutuhan air domestik sekitar 15 juta orang. Pemerintah China bahkan belum berhenti: melalui rencana pengembangan industri desalinasi nasional, kapasitas tersebut ditargetkan melampaui 4,5 juta ton per hari pada 2030.

Ekspansi desalinasi menjadi bagian dari strategi China menghadapi ketimpangan ketersediaan air, kebutuhan industri yang terus berkembang, serta kerentanan kota-kota pesisir dan pulau terhadap kekurangan sumber air tawar.

Pemerintah tidak lagi menempatkan desalinasi hanya sebagai teknologi darurat ketika sumber air konvensional tidak tersedia. Air hasil desalinasi mulai diposisikan sebagai salah satu komponen strategis dalam sistem ketahanan air, khususnya untuk kota pesisir, kawasan industri, pulau, kapal, serta wilayah yang menghadapi tekanan terhadap sumber air konvensional.

Pada Juli 2026, National Development and Reform Commission bersama Ministry of Natural Resources dan Ministry of Water Resources China menerbitkan rencana aksi pengembangan industri desalinasi air laut. Dokumen tersebut menetapkan target kapasitas nasional lebih dari 4,5 juta ton per hari pada 2030, dengan tambahan kapasitas sekurangnya 1,5 juta ton per hari selama periode pengembangan.

Dari 3,077 Juta Menuju 4,5 Juta Ton Per Hari

Skala pengembangan desalinasi China meningkat cukup cepat. Pada akhir 2025, total kapasitas nasional telah mencapai sekitar 3,077 juta ton per hari, bertambah sekitar 221 ribu ton per hari dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebanyak 167 proyek desalinasi tercatat telah beroperasi.

Jika target 2030 tercapai, kapasitas nasional akan meningkat menjadi setidaknya 4,5 juta ton per hari. Pemerintah China secara resmi merencanakan tambahan kapasitas lebih dari 1,5 juta ton per hari, terdiri dari sekitar 1,3 juta ton per hari untuk kota-kota pesisir dan sekitar 200 ribu ton per hari untuk wilayah kepulauan.

Skala tersebut menunjukkan perubahan posisi desalinasi dalam kebijakan air China. Teknologi ini tidak lagi hanya digunakan pada lokasi terpencil yang tidak memiliki sumber air tawar, tetapi mulai diintegrasikan ke dalam strategi penyediaan air perkotaan dan industri.

Bagi kota pesisir, keberadaan fasilitas desalinasi juga dapat berfungsi sebagai sumber air tambahan ketika pasokan konvensional menghadapi gangguan akibat kekeringan, intrusi air asin, pencemaran, atau kondisi cuaca ekstrem.

Apakah 3 Juta Ton Air Berarti 3 Juta Meter Kubik?

Dalam konteks air, satu ton air secara praktis mendekati satu meter kubik. Karena itu, kapasitas 3,077 juta ton per hari dapat dipahami secara sederhana sebagai sekitar 3,077 juta meter kubik air per hari.

Jumlah tersebut sangat besar.

Jika diasumsikan kebutuhan domestik sekitar 200 liter per orang per hari, secara matematis kapasitas tersebut memang berada pada kisaran kebutuhan sekitar 15 juta orang.

Namun perbandingan tersebut hanya merupakan ilustrasi skala. Tidak berarti seluruh air hasil desalinasi China digunakan untuk memasok kebutuhan rumah tangga 15 juta penduduk.

Sebagian besar penggunaan desalinasi juga berkaitan dengan industri dan berbagai kebutuhan lainnya.

Justru sektor industri menjadi salah satu pasar penting yang ingin diperluas China dalam beberapa tahun mendatang.

Mengapa China Membutuhkan Air Laut?

China memiliki wilayah yang sangat luas, tetapi distribusi sumber air tawarnya tidak merata. Wilayah dengan aktivitas ekonomi dan populasi besar tidak selalu berada di lokasi dengan ketersediaan air yang berlimpah.

Kondisi tersebut menciptakan tantangan dalam menjaga ketahanan air.

Di kawasan pesisir, persoalannya menjadi menarik karena terdapat sumber air dalam jumlah praktis tidak terbatas tepat di depan kota: laut. Masalahnya, air tersebut mengandung garam sehingga tidak dapat langsung digunakan sebagai air minum maupun untuk banyak kebutuhan industri.

Desalinasi berusaha mengatasi persoalan tersebut dengan memisahkan garam dan berbagai zat terlarut dari air laut sehingga dihasilkan air dengan kualitas yang dapat disesuaikan untuk kebutuhan tertentu.

China melihat teknologi ini sebagai salah satu cara memperluas sumber air nonkonvensional.

Air hasil desalinasi tidak dimaksudkan menggantikan seluruh sumber air dari sungai, waduk, air tanah, atau sistem konservasi. Sebaliknya, teknologi tersebut menjadi bagian dari portofolio sumber air yang lebih beragam.

Bagaimana Air Laut Diubah Menjadi Air Tawar?

Salah satu teknologi yang paling banyak digunakan dalam desalinasi modern adalah reverse osmosis atau RO.

Pada proses osmosis alami, air bergerak melalui membran semipermeabel menuju larutan dengan konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi. Reverse osmosis membalik proses tersebut dengan memberikan tekanan tinggi pada air laut.

Air dipaksa melewati membran dengan pori yang sangat kecil. Sebagian besar garam dan berbagai zat terlarut tertahan, sedangkan molekul air melewati membran.

Secara sederhana, alurnya dapat dibayangkan sebagai:

air laut → penyaringan awal → pompa tekanan tinggi → membran RO → air hasil desalinasi → penyesuaian kualitas → distribusi.

Namun fasilitas sebenarnya jauh lebih kompleks.

Air laut yang masuk harus melalui tahap pretreatment untuk mengurangi pasir, material tersuspensi, organisme, dan kontaminan lain yang dapat merusak atau menyumbat membran.

Setelah melewati membran, air hasil desalinasi juga membutuhkan proses lanjutan agar karakteristik kimianya sesuai dengan penggunaan yang dituju.

Jika akan digunakan sebagai air minum, misalnya, air harus memenuhi standar kualitas air minum yang berlaku.

Energi Menjadi Tantangan Terbesar

Meskipun laut menyediakan air dalam jumlah luar biasa besar, memisahkan garam dari air membutuhkan energi.

Pada teknologi reverse osmosis air laut, sebagian besar kebutuhan energi digunakan untuk menciptakan tekanan tinggi agar air dapat melewati membran.

Karena itu, harga listrik mempunyai pengaruh besar terhadap biaya produksi air hasil desalinasi.

Perkembangan teknologi telah membuat proses tersebut jauh lebih efisien dibandingkan generasi fasilitas desalinasi sebelumnya. Sistem energy recovery memungkinkan sebagian energi tekanan dari aliran konsentrat dimanfaatkan kembali sehingga kebutuhan energi keseluruhan dapat dikurangi.

China juga memasukkan efisiensi energi dan pengembangan teknologi rendah karbon ke dalam strategi pengembangan industri desalinasinya.

Hal tersebut penting karena memperluas kapasitas desalinasi tanpa memperhatikan sumber energinya dapat menciptakan persoalan baru. Jika seluruh kebutuhan listrik tambahan berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil, peningkatan ketahanan air dapat disertai peningkatan emisi.

Karena itu, integrasi desalinasi dengan energi rendah karbon menjadi salah satu arah penting perkembangan teknologi air di masa depan.

China Mengejar Kemandirian Teknologi Membran

Pengembangan desalinasi China juga memiliki dimensi industri yang lebih luas. Negara tersebut tidak hanya ingin membangun lebih banyak instalasi, tetapi juga memperkuat kemampuan memproduksi komponen utama secara domestik.

Membran reverse osmosis menjadi salah satu teknologi penting yang dikembangkan.

Pemerintah China mendorong penelitian terhadap membran RO berkinerja tinggi, membran nanofiltrasi, serta teknologi pemisahan baru dengan target meningkatkan kemampuan aliran air, ketahanan terhadap kontaminasi, dan umur penggunaan.

Selain membran, pompa tekanan tinggi dan perangkat pemulihan energi menjadi komponen strategis.

Pada fasilitas desalinasi skala besar, keandalan komponen tersebut sangat menentukan biaya operasional dan kontinuitas produksi.

Strategi ini menunjukkan bahwa desalinasi bagi China tidak hanya dipandang sebagai proyek infrastruktur air, tetapi juga sebagai industri teknologi.

Industri Menjadi Pasar Besar Air Desalinasi

Salah satu bagian penting dari rencana China adalah memperluas penggunaan air hasil desalinasi di kawasan industri pesisir.

Industri petrokimia, baja, pembangkit listrik, dan berbagai fasilitas industri lainnya membutuhkan air dalam jumlah sangat besar. Jika seluruh kebutuhan tersebut mengambil sumber air tawar konvensional, tekanan terhadap sumber air untuk masyarakat dan ekosistem dapat meningkat.

Karena itu, pemerintah China mendorong kawasan industri pesisir untuk meningkatkan penggunaan air hasil desalinasi.

Dalam beberapa kasus, fasilitas dapat dibangun secara terpusat untuk melayani satu kawasan industri. Perusahaan besar juga dapat mengembangkan fasilitasnya sendiri.

Air kemudian dapat diproduksi dengan kualitas berbeda sesuai kebutuhan masing-masing industri.

Pendekatan tersebut dikenal sebagai fit-for-purpose water: kualitas air disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga tidak seluruh air harus diproses hingga memiliki standar yang sama.

Desalinasi sebagai Cadangan Air Kota

Rencana China juga menempatkan desalinasi sebagai bagian dari ketahanan kota.

Kota-kota besar di pesisir didorong untuk mempertimbangkan pembangunan fasilitas desalinasi skala besar yang dapat digunakan dalam kondisi normal sekaligus menjadi sumber cadangan ketika terjadi keadaan darurat.

Konsep tersebut relevan menghadapi perubahan iklim.

Kekeringan berkepanjangan dapat menurunkan ketersediaan air baku. Intrusi air laut dapat meningkatkan salinitas sumber air di kawasan pesisir, sementara pencemaran sungai atau waduk dapat mengganggu sistem penyediaan air.

Fasilitas desalinasi memberikan sumber air yang mempunyai karakter berbeda karena bahan bakunya berasal dari laut.

Diversifikasi tersebut dapat meningkatkan ketahanan sistem.

Pulau Menjadi Lokasi yang Sangat Cocok

Selain kota pesisir, wilayah kepulauan menjadi salah satu prioritas pengembangan.

Pulau kecil sering menghadapi persoalan air yang sangat berbeda dengan wilayah daratan besar. Sumber air tanah terbatas, pembangunan jaringan perpipaan dari daratan dapat sangat mahal, sedangkan pengiriman air menggunakan kapal membutuhkan biaya logistik tinggi.

Desalinasi dapat menjadi alternatif apabila kondisi teknis dan ekonominya sesuai.

China menargetkan tambahan kapasitas sekitar 200 ribu ton per hari untuk wilayah kepulauan hingga 2030.

Pada pulau dengan populasi yang cukup besar dan jaringan distribusi yang memadai, pemerintah bahkan mendorong pembangunan fasilitas desalinasi terpusat.

Pendekatan ini sangat relevan bagi negara kepulauan lain yang menghadapi persoalan serupa.

Tetapi Ada Persoalan Besar Bernama Brine

Desalinasi menghasilkan dua aliran utama.

Pertama adalah air dengan kandungan garam yang jauh lebih rendah. Kedua adalah aliran konsentrat dengan kadar garam lebih tinggi yang sering disebut brine.

Brine menjadi salah satu tantangan lingkungan utama industri desalinasi.

Jika dibuang kembali ke laut tanpa desain yang tepat, peningkatan salinitas lokal dan karakteristik kimia aliran buangan dapat memengaruhi lingkungan laut di sekitar titik pembuangan.

Karena itu, lokasi saluran pembuangan, sistem difuser, arus laut, karakteristik ekosistem, temperatur, serta kandungan bahan kimia yang digunakan dalam proses harus dipertimbangkan dalam perencanaan fasilitas.

Semakin besar kapasitas desalinasi, semakin penting pula persoalan pengelolaan konsentrat.

China Ingin Mengubah Brine Menjadi Sumber Daya

Menariknya, strategi China mulai bergerak lebih jauh dari sekadar membuang konsentrat kembali ke laut.

Pemerintah mendorong penelitian dan pengembangan pemanfaatan brine untuk memperoleh material bernilai.

Konsentrat hasil desalinasi masih mengandung berbagai unsur dan mineral. China mendorong pengembangan teknologi untuk menghasilkan garam serta mengekstraksi bromin, kalium, dan material lainnya.

Penelitian bahkan diarahkan pada ekstraksi unsur strategis dari air laut, termasuk litium dan uranium.

Teknologinya masih memiliki tantangan besar karena konsentrasi sejumlah unsur tersebut sangat rendah. Namun jika suatu saat dapat dilakukan secara ekonomis, fasilitas desalinasi berpotensi berkembang menjadi fasilitas pengolahan sumber daya laut yang jauh lebih kompleks.

Konsepnya berubah dari:

air laut → air tawar + limbah konsentrat

menjadi:

air laut → air tawar + mineral + produk samping bernilai.

Pendekatan seperti ini dapat menjadi bagian dari ekonomi sirkular industri desalinasi.

Desalinasi Bukan Izin untuk Boros Air

Besarnya kapasitas China juga perlu dilihat dengan perspektif yang tepat. Desalinasi bukan berarti konservasi air menjadi tidak diperlukan.

Memproduksi air dari laut umumnya membutuhkan teknologi, energi, infrastruktur, serta biaya yang lebih besar dibandingkan menjaga sumber air tawar yang masih tersedia dengan baik.

Karena itu, hierarki pengelolaan air tetap penting.

Mengurangi kebocoran jaringan, meningkatkan efisiensi penggunaan air, mendaur ulang air limbah, melindungi daerah tangkapan air, memanfaatkan air hujan, dan menjaga air tanah tetap merupakan strategi utama.

Desalinasi kemudian berfungsi sebagai salah satu sumber tambahan ketika kondisi geografis dan kebutuhan membuatnya layak.

Pelajaran Besar bagi Indonesia

Perkembangan China menarik untuk diperhatikan Indonesia karena karakter geografis Indonesia justru memberikan alasan yang sangat kuat untuk mempelajari teknologi desalinasi.

Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang dan ribuan pulau berpenghuni. Sebagian wilayah kepulauan menghadapi keterbatasan sumber air tawar, terutama ketika musim kemarau.

Distribusi air menuju pulau-pulau tertentu juga dapat menjadi mahal.

Dalam kondisi seperti ini, desalinasi dapat menjadi salah satu alternatif.

Namun Indonesia tidak perlu mengejar skala China. Pendekatan yang lebih relevan adalah menentukan lokasi di mana teknologi tersebut memberikan manfaat paling besar dibandingkan alternatif lain.

Pulau kecil, kawasan pariwisata, industri pesisir, pelabuhan, kawasan ekonomi khusus, dan wilayah yang mengalami intrusi air laut dapat menjadi kandidat untuk kajian lebih lanjut.

Indonesia Juga Bisa Menggabungkan Desalinasi dengan Energi Terbarukan

Salah satu peluang menarik bagi Indonesia adalah mengembangkan fasilitas desalinasi yang terintegrasi dengan energi terbarukan.

Pulau-pulau kecil sering memiliki potensi energi surya yang cukup baik. Sistem fotovoltaik dapat membantu memasok sebagian kebutuhan listrik fasilitas reverse osmosis, dengan penyimpanan energi atau konfigurasi operasi yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Model seperti ini tidak selalu berarti fasilitas dapat sepenuhnya beroperasi hanya menggunakan panel surya. Desainnya harus mempertimbangkan kebutuhan operasi kontinu, penyimpanan air, baterai, jaringan listrik, kapasitas produksi, dan biaya investasi.

Namun kombinasi energi terbarukan dan desalinasi dapat menjadi salah satu pilihan menarik untuk meningkatkan ketahanan air sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar yang harus dikirim menuju pulau.

Masa Depan Air Tidak Lagi Hanya Bergantung pada Sungai dan Waduk

Ekspansi besar-besaran yang dilakukan China menunjukkan perubahan penting dalam cara negara melihat sumber daya air.

Selama ribuan tahun, manusia sangat bergantung pada hujan, sungai, danau, mata air, dan air tanah. Teknologi memungkinkan laut mulai masuk ke dalam portofolio sumber air tawar dalam skala yang semakin besar.

China kini memiliki kapasitas desalinasi sekitar 3,077 juta ton per hari dari 167 proyek dan menargetkan lebih dari 4,5 juta ton per hari pada 2030. Angka tersebut menunjukkan bahwa desalinasi mulai bergerak dari teknologi khusus menjadi salah satu komponen strategis infrastruktur air negara tersebut.

Namun keberhasilan desalinasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah instalasi yang dibangun. Efisiensi energi, sumber listrik, biaya produksi, kualitas membran, pengelolaan brine, perlindungan ekosistem laut, serta integrasinya dengan jaringan air menjadi faktor yang sama pentingnya.

Pelajaran terbesarnya bukan bahwa semua negara pesisir harus segera membangun fasilitas desalinasi raksasa. Pelajarannya adalah bahwa ketahanan air membutuhkan diversifikasi sumber.

Konservasi daerah tangkapan air, efisiensi konsumsi, pemanfaatan air hujan, daur ulang air limbah, pengendalian kebocoran jaringan, perlindungan air tanah, dan desalinasi dapat ditempatkan sebagai bagian dari satu strategi yang saling melengkapi.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, perkembangan tersebut layak diperhatikan. Laut yang selama ini dipandang sebagai batas antara pulau-pulau suatu hari dapat semakin berperan sebagai salah satu sumber air bagi masyarakat pesisir dan kepulauan—selama teknologi digunakan secara efisien dan dampak lingkungannya dikendalikan.

China sedang menunjukkan bahwa laut dapat menjadi bagian dari solusi krisis air. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa ketika manusia mengambil air tawar dari laut dalam skala jutaan ton setiap hari, solusi tersebut tidak justru menciptakan tekanan lingkungan baru bagi laut yang menjadi sumbernya.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO