Video

Kita Mengejar Kekayaan, tetapi Mengapa Udara Bersih Justru Semakin Mahal?

Manusia bekerja, membangun industri, membuka kawasan ekonomi, mengembangkan teknologi, dan mengejar pertumbuhan dengan satu tujuan besar: menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera. Kita membayangkan kesejahteraan sebagai keadaan ketika keluarga mempunyai rumah yang layak, makanan yang cukup, pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, serta pendapatan yang memungkinkan berbagai kebutuhan terpenuhi tanpa kecemasan. Namun di tengah perlombaan menuju kemakmuran itu, ada pertanyaan sederhana yang semakin penting untuk diajukan: apa gunanya kekayaan apabila untuk memperoleh kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan—udara bersih—manusia akhirnya harus membayar mahal?

Selama ribuan tahun, alam menyediakan udara tanpa rekening, tanpa tagihan bulanan, dan tanpa membedakan siapa yang kaya atau miskin. Seorang anak tidak perlu mempunyai tabungan untuk menarik napas. Seorang pekerja tidak perlu menunjukkan kartu kredit untuk memperoleh oksigen. Tidak ada meteran yang menghitung berapa liter udara yang kita gunakan setiap hari.

Udara merupakan salah satu bentuk kesejahteraan yang begitu mendasar sehingga manusia sering tidak menyadari nilainya selama ia masih tersedia dalam keadaan bersih.

Kita baru memahami betapa berharganya udara ketika sesuatu terjadi padanya.

Ketika hutan dan lahan terbakar, langit berubah. Asap memasuki kota dan permukiman, masyarakat mulai menggunakan masker, anak-anak mengurangi aktivitas di luar rumah, sekolah harus menyesuaikan kegiatan, dan fasilitas kesehatan bersiap menghadapi peningkatan keluhan pernapasan. Pada kondisi tertentu, pemerintah bahkan harus menyediakan rumah oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan pernapasan.

Sesuatu yang sebelumnya tidak mempunyai harga tiba-tiba menciptakan biaya yang sangat besar.

Ketika Bernapas Menjadi Persoalan

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia sepanjang 2026 kembali memperlihatkan hubungan yang sangat dekat antara kondisi lingkungan dan kesehatan manusia. Asap dari kebakaran dapat membawa berbagai polutan, termasuk partikel halus PM2.5 yang menjadi salah satu perhatian utama karena ukurannya sangat kecil dan dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

Kementerian Kesehatan memberikan perhatian khusus terhadap kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit bawaan. Anak-anak menjadi kelompok yang sangat perlu dilindungi karena tubuh dan sistem pernapasan mereka masih berkembang, sementara mereka mempunyai kebutuhan udara yang tidak dapat ditunda hanya karena kualitas lingkungan sedang buruk.

Besarnya dampak kesehatan terlihat dari data pemerintah. Hingga 20 Oktober 2026, Kementerian Kesehatan mencatat secara kumulatif 314.124 kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di tujuh provinsi dan 65 kabupaten/kota yang terdampak karhutla. Dari jumlah tersebut, 70.890 kasus terjadi pada anak berusia 0–5 tahun.

Angka tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Tidak berarti seluruh kasus ISPA tersebut secara individual dapat dinyatakan disebabkan langsung oleh asap karhutla. ISPA dapat disebabkan berbagai faktor, termasuk infeksi virus dan bakteri. Namun paparan asap dan kualitas udara yang buruk dapat mengiritasi saluran pernapasan, memperburuk kondisi kesehatan tertentu, dan meningkatkan beban kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.

Karena itu, pemerintah tidak hanya mengerahkan petugas untuk memadamkan kebakaran. Sistem kesehatan juga harus bergerak untuk menghadapi konsekuensinya.

Ketika Oksigen Harus Disediakan sebagai Respons Darurat

Salah satu gambaran paling kuat mengenai nilai udara bersih dapat dilihat dari respons pemerintah terhadap kabut asap. Kementerian Kesehatan menyiapkan 477 rumah oksigen di puskesmas, rumah sakit, dan sejumlah lokasi lain di wilayah terdampak karhutla.

Sebanyak 295 rumah oksigen disiapkan di Kalimantan Tengah, sementara fasilitas lainnya tersebar di sejumlah provinsi terdampak. Pemerintah juga memperkuat kesiapan ribuan puskesmas dan ratusan rumah sakit, mengerahkan tenaga kesehatan, mendistribusikan obat-obatan, masker, oxygen concentrator, dan berbagai kebutuhan kesehatan lainnya.

Semua itu tentu diperlukan untuk melindungi masyarakat.

Namun keadaan tersebut sekaligus menghadirkan sebuah ironi yang layak direnungkan.

Dalam kondisi normal, manusia memperoleh oksigen melalui udara di sekelilingnya tanpa harus memikirkan infrastruktur khusus. Ketika lingkungan tercemar, kita membutuhkan masker untuk menyaring udara, alat untuk membersihkan udara di dalam ruangan, fasilitas kesehatan untuk menangani gangguan pernapasan, hingga rumah oksigen untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

Kita kemudian mengeluarkan uang untuk mencoba mendapatkan kembali kualitas kehidupan yang sebelumnya diberikan alam tanpa biaya.

Kita Sering Mengukur Kemajuan dengan Apa yang Dibangun

Selama puluhan tahun, pembangunan sering diterjemahkan melalui angka-angka yang mudah terlihat. Berapa besar pertumbuhan ekonomi, berapa banyak investasi yang masuk, berapa panjang jalan yang dibangun, berapa banyak kawasan industri yang beroperasi, berapa besar produksi komoditas, serta berapa banyak lapangan kerja yang berhasil diciptakan.

Semua indikator tersebut penting. Masyarakat membutuhkan pekerjaan, perusahaan membutuhkan ruang untuk berkembang, negara membutuhkan pendapatan, dan pembangunan ekonomi diperlukan untuk mengurangi kemiskinan serta meningkatkan kualitas kehidupan.

Persoalannya muncul ketika ukuran keberhasilan berhenti pada angka ekonomi dan tidak memperhitungkan apa yang hilang dalam proses mencapainya.

Jika sebuah kegiatan menghasilkan keuntungan besar tetapi mencemari udara yang digunakan jutaan orang, apakah seluruh keuntungan tersebut benar-benar mencerminkan peningkatan kesejahteraan?

Jika pembukaan suatu kawasan menghasilkan pendapatan tetapi kemudian masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kesehatan, kehilangan hari kerja, membatasi kegiatan sekolah, membeli masker, atau menghadapi kerusakan ekosistem, bagaimana biaya tersebut diperhitungkan?

Pertanyaan seperti ini bukan argumen untuk menghentikan pembangunan.

Justru pertanyaan tersebut diperlukan agar kita dapat membedakan antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang sesungguhnya.

Alam Memberikan Banyak Hal yang Tidak Pernah Masuk Tagihan

Udara bukan satu-satunya contoh.

Hutan membantu menjaga siklus air, menyimpan karbon, menyediakan habitat bagi keanekaragaman hayati, menjaga tanah, serta memberikan berbagai fungsi ekologis yang menopang kehidupan manusia. Sungai menyediakan air. Lahan basah membantu mengatur air. Mangrove membantu melindungi sebagian kawasan pesisir. Tanah yang sehat mendukung produksi pangan.

Banyak fungsi tersebut tidak mempunyai harga pasar yang terlihat setiap hari.

Karena tidak mempunyai label harga, manusia mudah menganggapnya tidak mempunyai nilai ekonomi.

Padahal yang terjadi justru sebaliknya.

Nilainya baru terlihat ketika fungsi tersebut rusak dan manusia harus membangun teknologi atau infrastruktur untuk menggantikannya.

Ketika air tercemar, kita membangun instalasi pengolahan yang lebih kompleks. Ketika suhu kota meningkat, kebutuhan pendingin ruangan bertambah. Ketika udara tercemar, kita membeli air purifier. Ketika terjadi banjir, kita membangun infrastruktur pengendali. Ketika ekosistem pesisir rusak, kita mengeluarkan biaya untuk memperkuat perlindungan pantai.

Kita sering menyebut teknologi yang menggantikan fungsi alam sebagai kemajuan, tetapi lupa bertanya mengapa fungsi yang sebelumnya tersedia secara alami sampai harus digantikan.

Udara Bersih Tidak Mengenal Status Ekonomi, tetapi Polusi Tidak Berdampak Sama

Secara teoritis, semua manusia menghirup atmosfer yang sama. Namun kemampuan menghadapi polusi sangat berbeda.

Keluarga dengan kemampuan ekonomi tinggi mungkin dapat memasang pendingin ruangan dan air purifier, mengganti filter secara berkala, membeli masker respirator berkualitas, mengurangi aktivitas luar rumah, atau sementara berpindah ke tempat dengan udara lebih baik.

Tidak semua keluarga mempunyai pilihan tersebut.

Pekerja lapangan tetap harus bekerja. Pedagang tetap harus mencari nafkah. Pengemudi harus tetap berada di jalan. Petugas kebersihan, pekerja konstruksi, kurir, petani, petugas pemadam, dan berbagai profesi lain tidak selalu dapat bekerja dari dalam ruangan.

Anak dari keluarga berpenghasilan rendah juga tidak otomatis mempunyai ruangan dengan sistem filtrasi udara yang baik.

Di sinilah polusi udara berubah dari persoalan lingkungan menjadi persoalan keadilan sosial.

Udara tercemar mungkin berada di atmosfer yang sama, tetapi kemampuan manusia untuk melindungi dirinya tidak pernah benar-benar sama.

Jangan Menyederhanakan Semua Karhutla sebagai Bencana Alam

Kebakaran hutan dan lahan sering muncul bersamaan dengan musim kering sehingga mudah dipahami semata-mata sebagai akibat cuaca. Padahal berbagai kejadian karhutla juga berkaitan dengan aktivitas manusia, baik akibat kesengajaan maupun kelalaian.

Kondisi kering, angin, dan fenomena iklim dapat meningkatkan risiko dan membuat api lebih cepat menyebar. Namun sumber api tetap perlu diselidiki pada setiap kejadian.

Pemerintah sendiri telah menegaskan bahwa pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar tidak dapat dibenarkan. Dalam sejumlah kasus karhutla 2026, proses penegakan hukum juga dilakukan terhadap individu maupun korporasi yang diduga melakukan pelanggaran.

Namun prinsip hukum tetap harus dijaga. Keberadaan api di suatu lahan atau konsesi tidak otomatis membuktikan siapa yang membakarnya, apa motifnya, atau apakah terdapat unsur kesengajaan. Semua itu membutuhkan investigasi dan pembuktian.

Yang dapat dipastikan adalah bahwa ketika kebakaran dapat dicegah tetapi tetap terjadi akibat tindakan manusia, masyarakat luas akhirnya menanggung konsekuensinya.

Keuntungan Bisa Bersifat Privat, tetapi Kerugiannya Menjadi Publik

Di sinilah terdapat persoalan ekonomi yang lebih dalam.

Bayangkan suatu tindakan menghasilkan keuntungan bagi sekelompok kecil orang, sementara dampak lingkungannya menyebar kepada jutaan masyarakat.

Pihak tertentu mungkin memperoleh manfaat ekonomi.

Namun masyarakat membayar melalui kesehatan.

Pemerintah membayar melalui operasi pemadaman.

Rumah sakit membayar melalui peningkatan kebutuhan pelayanan.

Sekolah membayar melalui terganggunya kegiatan belajar.

Perusahaan lain membayar melalui penurunan produktivitas pekerja.

Keluarga membayar melalui obat, masker, pemeriksaan kesehatan, dan berbagai kebutuhan perlindungan lainnya.

Ekonomi mengenal fenomena semacam ini sebagai eksternalitas: sebagian biaya dari suatu aktivitas tidak ditanggung sepenuhnya oleh pihak yang menghasilkan dampak, tetapi dialihkan kepada masyarakat atau lingkungan.

Karena itu, keuntungan finansial suatu kegiatan tidak selalu sama dengan manfaat ekonomi bersih bagi masyarakat.

Anak-anak Membayar Harga dari Keputusan yang Tidak Pernah Mereka Buat

Ada dimensi lain yang jauh lebih sulit diukur dengan rupiah: keadilan antargenerasi.

Seorang anak tidak pernah ikut memutuskan apakah hutan akan dibuka, apakah lahan akan dibakar, apakah kota akan dipenuhi kendaraan beremisi tinggi, atau apakah suatu industri akan menggunakan teknologi yang mencemari lingkungan.

Namun anak-anak tetap menghirup udara yang dihasilkan oleh keputusan generasi sebelumnya.

Mereka menerima konsekuensi dari kebijakan yang tidak pernah mereka pilih.

Inilah mengapa persoalan lingkungan tidak cukup dibicarakan hanya sebagai masalah hari ini. Keputusan mengenai hutan, energi, air, tanah, dan udara selalu mempunyai dimensi antargenerasi.

Generasi sekarang mempunyai kekuasaan yang sangat besar terhadap kondisi lingkungan yang akan diterima generasi berikutnya.

Sebaliknya, generasi yang belum lahir tidak mempunyai suara dalam rapat perusahaan, parlemen, perencanaan pembangunan, atau keputusan investasi hari ini.

Mereka hanya akan menerima hasilnya.

Warisan Tidak Hanya Berbentuk Rumah dan Tabungan

Orang tua bekerja keras untuk meninggalkan sesuatu kepada anak-anaknya.

Kita menabung untuk pendidikan. Membeli rumah. Menyiapkan tanah. Membentuk usaha. Menyediakan asuransi. Bahkan sebagian orang mempersiapkan investasi puluhan tahun untuk memastikan anak mereka mempunyai kehidupan yang lebih baik.

Semua itu merupakan bentuk tanggung jawab yang penting.

Namun ada jenis warisan yang tidak dapat dimasukkan ke dalam rekening bank.

Udara yang layak dihirup.

Air yang dapat digunakan.

Tanah yang masih produktif.

Hutan yang masih menjalankan fungsi ekologisnya.

Sungai yang tidak menjadi saluran limbah.

Laut yang tidak dipenuhi sampah.

Iklim yang masih memungkinkan manusia hidup dengan aman.

Kita dapat mewariskan sebuah rumah kepada anak, tetapi rumah itu tidak banyak berarti apabila lingkungan di sekelilingnya tidak lagi sehat untuk ditinggali.

Paradoks Kesejahteraan

Di sinilah kita berhadapan dengan paradoks.

Manusia mengejar uang agar dapat memperoleh kehidupan yang lebih nyaman. Namun apabila cara memperoleh kekayaan tersebut merusak lingkungan, uang yang dihasilkan akhirnya digunakan kembali untuk membeli perlindungan terhadap kerusakan yang kita ciptakan sendiri.

Kita membakar energi untuk meningkatkan produksi, kemudian membeli teknologi untuk membersihkan udara.

Kita merusak sumber air, kemudian membangun teknologi mahal untuk memurnikannya.

Kita menghilangkan vegetasi yang membantu menurunkan suhu, kemudian memasang pendingin ruangan lebih banyak.

Kita mencemari udara, kemudian membeli alat pemurni udara.

Pada titik tertentu kita perlu bertanya: apakah ini benar-benar efisiensi?

Atau kita sedang menciptakan ekonomi yang memperoleh keuntungan dari merusak sesuatu, kemudian menciptakan pasar baru untuk menjual kembali penggantinya?

Kemajuan Tidak Harus Berarti Memilih antara Ekonomi dan Lingkungan

Pertanyaan tentang kemajuan tidak berarti bahwa industri harus dihentikan atau manusia kembali hidup tanpa teknologi. Indonesia tetap membutuhkan pertumbuhan ekonomi, pekerjaan, infrastruktur, energi, industri, dan investasi.

Yang perlu diubah adalah cara kita memahami hubungan antara ekonomi dan lingkungan.

Ekonomi bukan sistem yang berdiri di luar alam.

Pabrik membutuhkan air.

Pekerja membutuhkan udara.

Pertanian membutuhkan tanah dan iklim.

Pembangkit membutuhkan sumber daya.

Kota membutuhkan pasokan air dan lingkungan yang mampu menopang kehidupan jutaan penduduk.

Jika fondasi ekologis tersebut rusak, ekonomi juga akan membayar harganya.

Karena itu, perlindungan lingkungan seharusnya tidak ditempatkan sebagai lawan pembangunan. Lingkungan justru merupakan salah satu infrastruktur paling mendasar yang memungkinkan pembangunan berlangsung.

Hutan Adalah Infrastruktur yang Tidak Kita Bangun

Ketika berbicara mengenai infrastruktur, kita membayangkan jalan tol, bendungan, pelabuhan, jaringan listrik, dan gedung.

Namun alam juga mempunyai infrastrukturnya sendiri.

Hutan merupakan salah satunya.

Hutan menyimpan karbon, mengatur sebagian siklus air, melindungi tanah, menyediakan habitat, serta menghasilkan berbagai jasa ekosistem. Kita tidak membangun sistem tersebut dari nol. Generasi manusia menerimanya sebagai bagian dari planet yang sudah berfungsi.

Karena itu, kehilangan hutan bukan sekadar kehilangan sejumlah pohon.

Kita juga kehilangan sebagian fungsi sistem ekologis yang menopang kehidupan.

Dalam konteks karhutla, persoalannya bahkan lebih besar. Vegetasi dan material organik yang terbakar melepaskan asap dan berbagai polutan ke atmosfer, sementara

https://www.instagram.com/p/DenmwDavPOt

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO