Kanal di Lahan Gambut: Ketika Air Dikeluarkan, Tanah yang Seharusnya Basah Berubah Menjadi Bahan Bakar

Jika ingin memahami mengapa kebakaran gambut di Indonesia begitu sulit dipadamkan, kita tidak cukup hanya melihat api yang muncul di permukaan. Kita juga harus melihat apa yang terjadi terhadap air di bawah tanah. Gambut pada dasarnya merupakan ekosistem lahan basah yang terbentuk dari akumulasi material organik selama ratusan hingga ribuan tahun dalam kondisi jenuh air. Ketika kanal drainase dibangun dan air secara terus-menerus dialirkan keluar, muka air tanah dapat turun, lapisan gambut mulai mengering dan material organik yang sebelumnya terlindungi oleh kelembapan perlahan berubah menjadi bahan bakar. Dalam kondisi sangat kering, kebakaran tidak lagi hanya menghanguskan rumput, semak dan pepohonan di atas permukaan, tetapi dapat merambat ke dalam lapisan gambut dan bertahan sebagai bara di bawah tanah.
Inilah salah satu alasan mengapa keberadaan kanal menjadi bagian penting dalam pembicaraan mengenai kerusakan dan kebakaran gambut. Kanal pada dasarnya merupakan saluran air, sehingga fungsi dan dampaknya bergantung pada bagaimana kanal tersebut dirancang dan digunakan. Namun ketika kanal berfungsi sebagai drainase untuk mengeluarkan air dari ekosistem gambut, keseimbangan hidrologi kawasan dapat berubah. Air yang sebelumnya tersimpan di dalam gambut memperoleh jalan untuk mengalir keluar, muka air tanah menurun, dan semakin tebal bagian gambut yang berada di atas muka air serta kehilangan kelembapannya. Proses ini menjadi semakin berisiko ketika terjadi pada jaringan kanal yang luas dan bertemu dengan musim kemarau panjang.
Dalam video yang menjadi sumber tulisan ini diperlihatkan kanal yang disebut dibuat menggunakan ekskavator dengan ukuran sekitar dua meter lebar dan dua meter dalam. Angka tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai ukuran standar seluruh kanal gambut karena dimensi kanal di lapangan dapat berbeda-beda menurut lokasi, fungsi dan desainnya. Hal yang jauh lebih penting daripada ukurannya adalah memahami perubahan hidrologi yang ditimbulkannya: seberapa banyak air keluar, seberapa jauh muka air tanah turun, dan seberapa luas gambut di sekitarnya yang kemudian kehilangan kelembapan.
Gambut Bukan Tanah Kering Biasa, Melainkan Ekosistem yang Bergantung pada Air
Gambut terbentuk ketika sisa tumbuhan seperti daun, akar, batang dan material organik lainnya terakumulasi dalam lingkungan yang sangat basah sehingga proses penguraiannya berlangsung lambat. Proses tersebut berlangsung sangat lama dan menghasilkan lapisan gambut yang pada beberapa tempat dapat mencapai kedalaman beberapa meter. Karena terbentuk dalam kondisi jenuh air, keberadaan air bukan sekadar unsur tambahan bagi gambut, melainkan bagian penting dari sistem ekologis yang mempertahankan karakter dan kestabilannya.
Dalam keadaan relatif alami, gambut mempunyai kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar dan berperan dalam pengaturan hidrologi bentang alam. Kondisi basah juga membantu memperlambat dekomposisi material organik sehingga karbon dapat tersimpan dalam tanah dalam waktu sangat panjang. Karena itulah gambut menjadi salah satu penyimpan karbon daratan yang sangat penting, tetapi sekaligus menjadi ekosistem yang rentan apabila tata airnya mengalami perubahan besar.
Ketika manusia melihat gambut semata-mata sebagai lahan yang terlalu basah untuk digunakan, solusi yang sering muncul adalah mengeluarkan airnya. Di sinilah kanal drainase mulai memainkan peran. Air dialirkan keluar agar kondisi permukaan menjadi lebih kering dan memungkinkan penggunaan lahan tertentu. Secara teknis cara tersebut memang dapat mengubah kondisi lahan, tetapi secara ekologis yang sedang dilakukan sebenarnya adalah mengubah salah satu komponen terpenting dari ekosistem gambut, yaitu sistem airnya.
Kanal Drainase Mengubah Cara Air Bergerak di Dalam Gambut
Kanal memberikan jalur yang lebih cepat bagi air untuk meninggalkan kawasan. Air dari pori-pori gambut bergerak menuju saluran dan kemudian mengalir mengikuti jaringan drainase. Apabila jaringan kanal cukup luas dan tidak dikelola dengan baik, muka air tanah dapat turun dan pengaruhnya dapat menjangkau gambut di sekitar saluran. Karena itu, dampak sebuah kanal tidak selalu berhenti tepat pada dinding kanal tersebut; perubahan muka air dapat terjadi pada kawasan di sekitarnya dengan besaran yang bergantung pada kondisi hidrologi, topografi, karakter gambut, musim dan konfigurasi jaringan kanal.
Kajian lapangan di Indonesia bahkan menemukan bahwa pengaruh kanal terhadap penurunan muka air dapat terdeteksi hingga ratusan meter dari saluran pada kondisi tertentu. Temuan semacam ini memperlihatkan mengapa persoalan kanal tidak dapat dinilai hanya berdasarkan luas fisik parit yang digali. Sebuah kanal mungkin hanya selebar beberapa meter, tetapi yang berubah adalah sistem pergerakan air pada bentang gambut yang jauh lebih luas.
Ketika kanal kemudian saling terhubung membentuk jaringan drainase, efeknya dapat menjadi semakin kompleks. Dari udara, jaringan tersebut dapat terlihat seperti garis-garis panjang yang membelah kawasan gambut. Namun secara hidrologis, garis-garis tersebut merupakan jalan keluar bagi air yang sebelumnya tersimpan di dalam ekosistem.
Mengapa Drainase Digunakan dalam Pemanfaatan Lahan Gambut?
Dalam berbagai bentuk pemanfaatan lahan, drainase dibuat karena kondisi gambut alami yang sangat basah tidak selalu sesuai dengan kebutuhan tanaman budidaya tertentu ataupun kegiatan manusia lainnya. Pada pengembangan perkebunan di gambut, termasuk budidaya kelapa sawit, pengaturan muka air menjadi salah satu bagian dari pengelolaan lahan. Tujuannya adalah menciptakan kondisi air yang memungkinkan tanaman tumbuh dan aktivitas perkebunan berlangsung.
Namun persoalan muncul ketika pengaturan tersebut berubah menjadi pengeringan berlebihan. Gambut mempunyai batas ekologis, dan ketika terlalu banyak air dikeluarkan, lapisan organiknya semakin terpapar udara. Oksigen kemudian mempercepat proses oksidasi dan dekomposisi material organik, sementara struktur gambut mengalami penyusutan dan pemadatan. Dalam jangka panjang, permukaan tanah dapat turun melalui proses yang dikenal sebagai subsidensi.
Karena itu, persoalannya tidak dapat disederhanakan menjadi sekadar keberadaan kelapa sawit atau kanal. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana suatu bentang gambut dikelola, seberapa besar perubahan hidrologinya, apakah muka air tetap dijaga, dan apakah pengelolaannya meningkatkan risiko kebakaran serta degradasi jangka panjang.
Ketika Air Keluar, Gambut Perlahan Berubah Menjadi Bahan Bakar
Cara sederhana untuk memahami hubungan air dan kebakaran adalah membayangkan material organik yang basah dibandingkan material yang telah lama dikeringkan. Selama kandungan airnya tinggi, energi panas yang diterima material harus terlebih dahulu mengatasi kelembapan tersebut sebelum pembakaran dapat berlangsung secara efektif. Sebaliknya, ketika sebagian besar air telah hilang, material organik menjadi jauh lebih mudah mempertahankan pembakaran setelah bertemu sumber penyalaan.
Prinsip serupa terjadi pada gambut, meskipun mekanismenya jauh lebih kompleks. Ketika muka air tanah turun, lapisan gambut di atasnya mulai kehilangan kelembapan. Semakin lama periode tanpa hujan dan semakin dalam muka air turun, semakin besar bagian gambut yang berada dalam kondisi relatif kering. Vegetasi di permukaan, ranting, serasah dan material organik lainnya juga dapat ikut mengering sehingga jumlah bahan bakar meningkat.
Pada kondisi seperti ini, sumber api yang relatif kecil dapat mempunyai konsekuensi jauh lebih besar dibandingkan ketika gambut berada dalam kondisi basah. Inilah mengapa musim kemarau panjang dan fenomena iklim seperti El Niño dapat meningkatkan bahaya kebakaran pada bentang gambut yang telah mengalami drainase.
Namun satu hal harus dibedakan dengan jelas: kanal tidak dengan sendirinya menyalakan api. Drainase menciptakan atau memperburuk kondisi yang membuat gambut lebih mudah terbakar, sedangkan kebakaran tetap membutuhkan sumber penyalaan. Membedakan antara penyebab pengeringan dan sumber penyalaan sangat penting agar analisis karhutla tidak berubah menjadi kesimpulan yang terlalu sederhana.
Api Gambut Dapat Masuk ke Bawah Permukaan
Kebakaran gambut mempunyai karakter yang berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa karena tanah gambut itu sendiri tersusun dari material organik. Ketika lapisannya cukup kering dan api berhasil mencapai material tersebut, pembakaran dapat berkembang menjadi smouldering combustion atau pembakaran membara. Proses ini tidak selalu menghasilkan nyala api besar seperti kebakaran pepohonan, tetapi bara dapat bertahan di dalam lapisan gambut dan bergerak secara perlahan mengikuti material yang cukup kering serta mendapatkan suplai oksigen.
Kondisi inilah yang membuat kebakaran gambut sangat sulit dipadamkan. Dari permukaan, petugas mungkin telah berhasil memadamkan nyala api dan kawasan terlihat tidak lagi terbakar, tetapi beberapa bagian di bawah tanah masih dapat menyimpan panas dan bara. Apabila kondisi memungkinkan, bara tersebut dapat terus membakar material organik dan bahkan kembali memunculkan asap atau api di bagian permukaan lainnya.
Karena itu, pemadaman kebakaran gambut tidak cukup hanya menyiram bagian yang terlihat terbakar. Air perlu mencapai lapisan yang menyimpan panas, sementara pada skala bentang alam kondisi hidrologi juga perlu diperbaiki agar gambut tidak terus berada dalam keadaan sangat kering.
Mengapa Kebakaran Gambut Menghasilkan Asap yang Begitu Sulit Ditangani?
Pembakaran membara berlangsung lebih lambat dibandingkan kebakaran dengan nyala terbuka, tetapi dapat bertahan lama dan menghasilkan asap dalam jumlah besar. Karena yang terbakar bukan hanya vegetasi di permukaan tetapi juga material organik di dalam tanah, kebakaran gambut dapat melepaskan karbon yang sebelumnya tersimpan selama waktu yang sangat panjang.
Dampaknya kemudian tidak berhenti di lokasi kebakaran. Asap dapat bergerak mengikuti arah angin dan menurunkan kualitas udara di wilayah yang jauh dari titik api, mengganggu aktivitas masyarakat, meningkatkan risiko gangguan kesehatan, menghambat transportasi dan pada peristiwa besar dapat berkembang menjadi persoalan lintas wilayah bahkan lintas negara.
Dari perspektif iklim, kebakaran gambut juga mempunyai konsekuensi serius karena karbon yang telah tersimpan lama di dalam tanah dilepaskan kembali ke atmosfer. Dengan demikian, sebuah perubahan tata air yang awalnya terlihat sebagai persoalan lokal dapat berkembang menjadi persoalan lingkungan, kesehatan, ekonomi dan iklim dalam skala yang jauh lebih luas.
Pengeringan Gambut Tidak Hanya Meningkatkan Risiko Kebakaran
Ketika gambut kehilangan air, material organiknya lebih banyak bersentuhan dengan oksigen sehingga proses oksidasi berlangsung lebih cepat. Bersamaan dengan itu terjadi pemadatan dan penyusutan yang menyebabkan permukaan tanah turun. Proses subsidensi tersebut dapat berlangsung terus selama gambut tetap didrainase.
Fenomena ini menciptakan persoalan jangka panjang yang sering kurang mendapatkan perhatian. Kanal pada awalnya dibuat untuk mengurangi kelebihan air dan membuat lahan lebih mudah dimanfaatkan, tetapi ketika permukaan gambut terus turun sementara elevasi sungai atau laut relatif tidak berubah, kemampuan membuang air secara gravitasi dapat semakin berkurang. Pada kawasan tertentu, kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan kerentanan terhadap genangan atau banjir.
Artinya, pengeringan gambut dapat menghasilkan dua masalah yang terlihat bertolak belakang. Pada musim kemarau, lahan menjadi semakin rentan terhadap kekeringan dan kebakaran, sedangkan dalam perspektif jangka panjang penurunan permukaan tanah dapat memperbesar persoalan pengelolaan air dan risiko banjir.
Karena Itu Pencegahan Karhutla Gambut Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Pemadaman
Jika kita menunggu sampai asap terlihat dan hotspot muncul, berarti intervensi dilakukan ketika proses kebakaran sudah dimulai. Pada ekosistem gambut, pendekatan pencegahan seharusnya dimulai jauh sebelum api muncul, yaitu dengan menjaga kondisi hidrologi agar gambut tidak mencapai tingkat kekeringan yang berbahaya.
Tinggi muka air tanah menjadi salah satu indikator penting. Data muka air dapat digabungkan dengan curah hujan, prakiraan musim, kelembapan tanah, kondisi vegetasi dan informasi hotspot untuk membangun sistem peringatan dini. Ketika muka air turun terus-menerus dan prakiraan menunjukkan periode tanpa hujan yang panjang, pemerintah, perusahaan dan masyarakat dapat meningkatkan patroli, memastikan sumber air tersedia, membatasi aktivitas yang berpotensi menghasilkan api dan menyiapkan respons sebelum kebakaran berkembang.
Pendekatan seperti ini mengubah cara kita melihat pencegahan karhutla. Kita tidak lagi hanya mencari api dari satelit, tetapi juga mencari kondisi yang memungkinkan api menjadi bencana.
Jika Kanal Mengeluarkan Air, Sekat Kanal Berusaha Menahannya Kembali
Salah satu pendekatan yang digunakan dalam restorasi gambut adalah pembasahan kembali atau rewetting. Pada kawasan yang telah memiliki jaringan drainase, sekat kanal atau canal blocking dapat dibangun untuk memperlambat keluarnya air sehingga muka air di kanal dan gambut sekitarnya dapat dipertahankan lebih tinggi.
Prinsipnya merupakan kebalikan dari pengeringan. Jika kanal drainase memberikan jalan bagi air untuk keluar, sekat kanal berusaha menghambat aliran tersebut sehingga air bertahan lebih lama di dalam bentang gambut. Dengan meningkatnya kelembapan, laju oksidasi dapat ditekan dan kondisi yang membuat gambut mudah terbakar dapat dikurangi.
Namun pembangunan sekat kanal juga tidak boleh dipahami sebagai solusi instan. Lokasinya harus dirancang berdasarkan kondisi hidrologi dan topografi, jumlahnya harus sesuai kebutuhan, konstruksinya harus dipelihara, dan perubahan muka air perlu dipantau. Tujuannya bukan sekadar menutup sebuah parit, melainkan memperbaiki sistem air yang telah berubah.
Restorasi Gambut Tidak Berhenti pada Air
Setelah kondisi hidrologi diperbaiki, vegetasi yang hilang juga perlu dipulihkan. Pendekatan restorasi gambut di Indonesia umumnya mengenal hubungan antara pembasahan kembali, revegetasi dan pemulihan penghidupan masyarakat. Ketiganya penting karena menjaga gambut tetap basah tanpa memberikan pilihan ekonomi yang sesuai bagi masyarakat dapat membuat upaya restorasi sulit bertahan dalam jangka panjang.
Di sinilah konsep paludikultur menjadi relevan. Prinsip dasarnya adalah memilih tanaman atau komoditas yang dapat hidup pada kondisi gambut basah sehingga kegiatan ekonomi tidak selalu membutuhkan drainase mendalam. Pendekatan tersebut membalik cara berpikir lama: bukan gambut yang harus dikeringkan agar sesuai dengan tanaman, melainkan jenis pemanfaatan yang dipilih agar sesuai dengan karakter ekologis gambut.
Jika pendekatan semacam ini dapat berkembang secara ekonomi, perlindungan gambut tidak harus selalu ditempatkan berhadapan dengan kesejahteraan masyarakat. Justru kondisi gambut yang sehat dapat menjadi fondasi bagi pemanfaatan yang lebih berkelanjutan.
Pelajaran Terpenting: Jangan Hanya Mencari Korek Api, Cari Juga Mengapa Gambut Bisa Begitu Kering
Ketika karhutla terjadi, pertanyaan pertama yang muncul biasanya adalah siapa yang menyalakan api. Pertanyaan tersebut memang penting karena hampir setiap kebakaran membutuhkan sumber penyalaan, dan apabila terdapat unsur kesengajaan atau kelalaian maka harus dilakukan penyelidikan berdasarkan bukti.
Namun pada kebakaran gambut, penyelidikan seharusnya tidak berhenti di sana. Kita juga perlu melihat kondisi bentang alam sebelum api muncul: apakah terdapat kanal drainase, bagaimana tinggi muka air tanahnya, apakah hutannya telah dibuka, bagaimana sejarah penggunaan lahannya, apakah terjadi pengeringan berlebihan dan seberapa luas jaringan kanal memengaruhi kawasan tersebut.
Dengan pendekatan seperti itu, kita akan memahami bahwa sebuah kebakaran besar mungkin memang bermula dari satu titik api pada satu hari tertentu, tetapi kondisi yang membuat api mampu berkembang menjadi bencana dapat terbentuk selama bertahun-tahun sebelumnya.
Sebuah ekskavator dapat menggali kanal dalam waktu relatif singkat, sementara perubahan hidrologi yang ditimbulkannya dapat berlangsung jauh lebih lama. Gambut yang kehilangan air mengalami oksidasi, permukaannya turun dan kerentanannya terhadap kebakaran meningkat. Ketika kemudian terbakar, sebagian material organik yang membutuhkan ratusan hingga ribuan tahun untuk terbentuk dapat hilang menjadi asap dan emisi hanya dalam satu musim kebakaran.
Di situlah terdapat ketimpangan waktu yang luar biasa: alam membutuhkan waktu sangat panjang untuk membentuk gambut, manusia dapat mengubah tata airnya dalam waktu relatif singkat, dan api dapat menghancurkan sebagian lapisannya jauh lebih cepat lagi.
Karena itu, menjaga gambut tidak cukup hanya dengan melarang orang menggunakan api. Kita juga harus menjaga air tetap berada di dalam ekosistemnya, mengendalikan drainase, mempertahankan tinggi muka air, memulihkan kawasan yang telah terdegradasi dan memastikan kegiatan ekonomi menyesuaikan diri dengan batas ekologis gambut.
Jika ingin memahami kebakaran gambut secara utuh, jangan hanya bertanya siapa yang membawa korek api. Kita juga harus bertanya mengapa gambut yang seharusnya basah bisa menjadi begitu kering, bagaimana airnya keluar, bagaimana kanal mengubah tata air kawasan, dan apa yang harus dilakukan agar tanah yang telah berubah menjadi bahan bakar itu kembali menjadi ekosistem lahan basah.




