Indonesia Jadi Penyumbang Emisi Karhutla Terbesar di Dunia, Jauh Melampaui Brasil dan Australia

Indonesia mencatatkan emisi kebakaran hutan dan lahan tertinggi di dunia pada awal Oktober 2026, dengan rata-rata sekitar 2,93 juta ton karbon per hari. Kondisi ini menunjukkan semakin besarnya tekanan terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, sekaligus memperlihatkan tantangan serius dalam pengendalian kebakaran hutan, terutama di kawasan Sumatera dan Kalimantan.
Indonesia kembali menghadapi persoalan lingkungan serius setelah tercatat sebagai negara dengan emisi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla terbesar di dunia selama periode 1–14 Oktober 2026. Berdasarkan data Fire Emissions Watch yang dikembangkan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), emisi akibat kebakaran di Indonesia mencapai rata-rata sekitar 2,93 juta ton karbon per hari, melampaui negara-negara lain yang juga mengalami kebakaran hutan berskala besar, termasuk Brasil dan Australia.
Data pemantauan berbasis satelit tersebut memperlihatkan bahwa emisi karhutla Indonesia mencapai lebih dari tiga kali lipat dibandingkan Brasil yang berada di posisi kedua dengan 892 ribu ton karbon per hari, sementara Australia menempati peringkat ketiga dengan sekitar 324 ribu ton karbon per hari. Besarnya perbedaan tersebut menunjukkan tingginya intensitas emisi kebakaran di Indonesia pada periode pengamatan, meskipun peringkat ini didasarkan pada jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer dan bukan luas hutan maupun lahan yang terbakar.
Indonesia Mendominasi Emisi Kebakaran Global
Dalam daftar sepuluh negara dengan emisi karhutla terbesar pada 1–14 Oktober 2026, Papua Nugini menempati posisi keempat dengan sekitar 189 ribu ton karbon per hari, disusul Mongolia sebesar 134 ribu ton serta Rusia dan Angola yang masing-masing menghasilkan sekitar 117 ribu ton. Tanzania, Zambia, dan Madagaskar melengkapi daftar tersebut dengan emisi masing-masing sekitar 97 ribu ton, 91 ribu ton, dan 80 ribu ton karbon per hari.
Emisi karhutla tertinggi dunia
Rata-rata harian, 1–14 Oktober 2026 • Juta ton karbon per hari

Sumber: Fire Emissions Watch (CAMS), diolah Databoks.
Besarnya emisi dari Indonesia juga menjadi perhatian internasional karena dampak kebakaran tidak berhenti pada wilayah yang mengalami kerusakan secara langsung. Reuters melaporkan pada 13 Oktober 2026 bahwa emisi kebakaran Indonesia telah menjadi yang tertinggi di dunia selama sekitar satu bulan dan menyumbang hampir separuh emisi kebakaran global dalam tujuh hari sebelumnya, sehingga persoalan karhutla Indonesia telah menjadi perhatian penting dalam konteks pencemaran udara regional dan perubahan iklim.
Kalimantan dan Sumatera Menjadi Pusat Emisi Karhutla
Tingginya emisi nasional tidak terlepas dari kebakaran yang melanda sejumlah wilayah, terutama kawasan yang memiliki tutupan vegetasi dan lahan gambut luas. Berdasarkan data Fire Emissions Watch untuk periode yang sama, Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan emisi karhutla terbesar, yakni sekitar 1,11 juta ton karbon per hari, diikuti Sumatera Selatan sebesar 957 ribu ton dan Kalimantan Barat sebesar 292 ribu ton per hari.
Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan secara bersama-sama menyumbang sekitar 71 persen dari total emisi kebakaran nasional, sehingga kedua provinsi tersebut memiliki peranan besar dalam tingginya angka emisi Indonesia pada awal Oktober 2026. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya pengendalian kebakaran di kawasan yang rentan, terutama lahan gambut yang dapat mengalami kebakaran berkepanjangan dan sulit dipadamkan ketika kondisi lingkungan mengering.
Kabut Asap Mengancam Kesehatan dan Aktivitas Masyarakat
Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan peningkatan emisi karbon yang memperburuk perubahan iklim, tetapi juga dengan pelepasan asap dan partikel berbahaya yang dapat menurunkan kualitas udara. Paparan polusi tersebut berisiko mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan, sementara gangguan aktivitas pendidikan, pekerjaan, serta kegiatan ekonomi dapat memperbesar kerugian sosial yang harus ditanggung keluarga terdampak.
Pemantauan Copernicus menunjukkan bahwa asap dari kebakaran di Indonesia telah memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Singapura, sehingga dampaknya melampaui batas negara. Kondisi tersebut memperkuat kebutuhan koordinasi pengendalian kebakaran, pemantauan kualitas udara, dan perlindungan kesehatan masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan.
Pengendalian Karhutla Tidak Boleh Hanya Mengandalkan Pemadaman
Besarnya emisi kebakaran pada Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla membutuhkan strategi yang lebih luas daripada sekadar memadamkan api ketika kebakaran telah menyebar. Perlindungan kawasan gambut, pengawasan aktivitas pembukaan lahan, kesiapan menghadapi musim kemarau, serta penguatan sistem deteksi dini merupakan bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran yang berulang.
Pengendalian kebakaran juga perlu memperhatikan pemulihan kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat yang terdampak, mengingat kerugian yang ditimbulkan tidak hanya berupa hilangnya vegetasi, tetapi juga mencakup gangguan kesehatan, kehilangan mata pencaharian, dan meningkatnya kebutuhan pengeluaran rumah tangga. Tanpa pendekatan pencegahan serta pemulihan yang menyeluruh, masyarakat berpotensi terus menghadapi dampak yang sama setiap kali musim kebakaran kembali terjadi.
Pada akhirnya, posisi Indonesia sebagai negara dengan emisi karhutla terbesar di dunia pada awal Oktober 2026 menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan telah menjadi tantangan lingkungan yang membutuhkan perhatian serius dan tindakan berkelanjutan. Pengurangan emisi tidak cukup hanya diukur dari keberhasilan memadamkan titik api, tetapi juga harus diwujudkan melalui perlindungan ekosistem, pencegahan kebakaran berulang, serta jaminan bahwa masyarakat dapat menikmati udara bersih dan lingkungan yang sehat tanpa terus menanggung konsekuensi dari kerusakan hutan dan lahan.
Sumber:
Data Fire Emissions Watch — Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), serta pemberitaan Reuters dan Databoks Katadata.
https://www.instagram.com/p/DevZH4WH3hs




