Tahukah Anda

Bumi Terancam Memanas hingga 2,8 Derajat Celsius, PBB Peringatkan Dunia Harus Mempercepat Pengurangan Emisi

Laporan terbaru Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mengungkapkan bahwa kebijakan iklim yang diterapkan berbagai negara saat ini masih belum cukup untuk membatasi kenaikan suhu bumi. Tanpa perubahan besar, pemanasan global diproyeksikan mencapai 2,8 derajat Celsius pada abad ini, jauh melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius yang menjadi sasaran utama Perjanjian Paris.

Dunia menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin serius setelah laporan terbaru United Nations Environment Programme (UNEP) memperlihatkan bahwa berbagai kebijakan pengurangan emisi yang telah diterapkan pemerintah belum mampu membawa bumi menuju jalur pemanasan yang aman. Melalui Emissions Gap Report 2026: The Point of Return, UNEP memperkirakan bahwa apabila kebijakan saat ini terus berlanjut tanpa penguatan yang berarti, kenaikan suhu rata-rata global dapat mencapai sekitar 2,8 derajat Celsius dibandingkan masa praindustri dalam abad ini, sehingga meningkatkan risiko kerusakan ekosistem dan berbagai dampak perubahan iklim terhadap kehidupan manusia.

Laporan yang diluncurkan pada Oktober 2026 tersebut menegaskan bahwa dunia semakin mendekati kondisi ketika kenaikan suhu global melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius, sementara upaya untuk mengembalikannya membutuhkan penurunan emisi yang jauh lebih cepat dibandingkan pencapaian saat ini. Bahkan apabila seluruh komitmen iklim nasional yang dikenal sebagai Nationally Determined Contributions atau NDC dilaksanakan sepenuhnya dan upaya serupa terus dipertahankan, pemanasan global masih diproyeksikan mencapai sekitar 2,6 derajat Celsius.

Target Pengurangan Emisi Masih Jauh dari Kebutuhan

Salah satu temuan utama laporan UNEP adalah besarnya kesenjangan antara pengurangan emisi yang dibutuhkan untuk mengendalikan perubahan iklim dengan komitmen yang telah disampaikan berbagai negara. Untuk mengikuti jalur yang meminimalkan besarnya dan lamanya kenaikan suhu di atas 1,5 derajat Celsius, emisi gas rumah kaca global harus berkurang sekitar 18 persen pada 2030 dan 45 persen pada 2035 dibandingkan tingkat emisi tahun 2025.

Namun, komitmen iklim nasional yang telah tersedia diperkirakan hanya mampu menurunkan emisi sekitar 5 hingga 8 persen pada 2030 serta 11 hingga 15 persen pada 2035 apabila seluruhnya dilaksanakan secara penuh. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa dunia masih membutuhkan peningkatan ambisi dan pelaksanaan kebijakan secara signifikan untuk mengurangi risiko pemanasan yang lebih tinggi.

UNEP juga memperkirakan bahwa pengurangan emisi perlu mencapai sekitar 69 persen pada 2040 dibandingkan tingkat tahun 2025 untuk mengikuti skenario yang memungkinkan suhu global kembali ke batas 1,5 derajat Celsius pada akhir abad. Sasaran tersebut menuntut transformasi besar dalam penggunaan energi, transportasi, industri, pertanian, serta perlindungan ekosistem yang selama ini memiliki peranan penting dalam menyerap dan menyimpan karbon.

Kenaikan Suhu di Atas 1,5 Derajat Semakin Sulit Dihindari

Dalam laporan tersebut, UNEP menjelaskan bahwa keterlambatan pengurangan emisi selama beberapa dekade telah membuat pelampauan sementara ambang batas 1,5 derajat Celsius atau temperature overshoot semakin sulit dihindari. Meski demikian, dunia masih memiliki peluang membatasi puncak pemanasan pada kisaran 1,7 hingga 1,8 derajat Celsius sekitar pertengahan abad, kemudian secara bertahap menurunkannya kembali hingga mencapai atau berada di bawah 1,5 derajat Celsius pada 2100.

Skenario tersebut bukan jaminan bahwa suhu bumi akan kembali turun sesuai harapan, karena peluang keberhasilannya diperkirakan hanya sekitar 50 persen dan membutuhkan pengurangan emisi yang sangat besar serta berkelanjutan. Selain menekan pelepasan gas rumah kaca dari berbagai sektor, dunia juga perlu meningkatkan kemampuan menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer melalui perlindungan dan pemulihan ekosistem maupun teknologi penghilangan karbon.

UNEP memperkirakan kebutuhan penghilangan dan penyimpanan permanen karbon dioksida dalam skenario tersebut mencapai sekitar 320 miliar ton sepanjang abad ini, sebuah kebutuhan yang masih menghadapi berbagai tantangan teknologi, pembiayaan, penggunaan lahan, dan kelayakan penerapan dalam skala besar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pengembangan teknologi penghilangan karbon tidak dapat menjadi alasan untuk menunda pengurangan emisi langsung dari penggunaan bahan bakar fosil.

Energi Terbarukan Memberikan Harapan bagi Pengendalian Iklim

Di tengah besarnya tantangan tersebut, UNEP juga mencatat sejumlah perkembangan positif yang menunjukkan bahwa upaya mengurangi emisi sebenarnya telah memberikan hasil. Pengembangan energi terbarukan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perkiraan satu dekade sebelumnya, sementara berbagai kebijakan iklim telah terbukti mampu mengurangi emisi di sejumlah negara dan sektor ekonomi.

Pertumbuhan energi surya dan angin menjadi salah satu contoh bagaimana perkembangan teknologi, penurunan biaya, serta dukungan kebijakan dapat membantu mempercepat perubahan sistem energi. Selain itu, berbagai langkah peningkatan efisiensi energi, pengurangan penggunaan batu bara, minyak, dan gas, serta pengendalian emisi metana memiliki peluang untuk memberikan kontribusi penting dalam memperkecil kesenjangan antara kondisi saat ini dan kebutuhan pengurangan emisi global.

Meski demikian, perkembangan tersebut masih harus diperluas secara signifikan agar mampu mengimbangi besarnya emisi yang terus dilepaskan ke atmosfer. Keberhasilan kebijakan yang telah diterapkan perlu dijadikan dasar untuk memperkuat tindakan di berbagai negara, terutama melalui percepatan investasi energi bersih, perlindungan hutan, dan transformasi sektor ekonomi yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar fosil.

Setiap Kenaikan Suhu Memperbesar Risiko bagi Kehidupan

Ancaman pemanasan global tidak hanya berkaitan dengan perubahan angka suhu rata-rata bumi, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap meningkatnya risiko gelombang panas, kekeringan, hujan ekstrem, gangguan produksi pangan, serta kerusakan berbagai ekosistem alami. Semakin tinggi suhu global dan semakin lama dunia berada di atas ambang batas 1,5 derajat Celsius, semakin besar pula tekanan terhadap masyarakat dan lingkungan yang harus menghadapi perubahan kondisi iklim.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, persoalan tersebut memiliki relevansi besar karena perubahan iklim dapat memengaruhi wilayah pesisir, pertanian, ketersediaan air, kesehatan masyarakat, serta keberlanjutan ekosistem hutan dan laut. Oleh karena itu, upaya menekan emisi perlu berjalan bersama penguatan adaptasi agar masyarakat memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang sudah terjadi.

Pada akhirnya, Emissions Gap Report 2026 memberikan peringatan bahwa dunia tidak lagi memiliki banyak ruang untuk menunda tindakan pengurangan emisi, tetapi masih mempunyai kesempatan untuk membatasi tingkat kerusakan melalui kebijakan yang lebih kuat dan pelaksanaan yang konsisten. Setiap pengurangan emisi yang berhasil dicapai akan membantu menekan kenaikan suhu, sementara setiap keterlambatan berpotensi memperbesar risiko yang harus ditanggung generasi mendatang.

Masa depan iklim bumi tidak hanya ditentukan oleh komitmen yang diumumkan dalam pertemuan internasional, tetapi juga oleh keputusan nyata dalam pengembangan energi, pengelolaan industri, transportasi, perlindungan hutan, dan pola pembangunan. Semakin cepat dunia mengurangi ketergantungan terhadap sumber emisi tinggi, semakin besar peluang untuk membatasi pemanasan global dan mempertahankan kondisi lingkungan yang layak bagi kehidupan manusia serta berbagai ekosistem di bumi.


Sumber:

United Nations Environment Programme (UNEP), Emissions Gap Report 2026: The Point of Return, Oktober 2026.

https://www.unep.org/en/publications/report/emissions-gap-report-2026

UNEP, New UNEP Report Lays Out Emission Cuts Needed for Return to 1.5Β°C, 21 Oktober 2026.

https://www.unep.org/en/news-and-stories/press-release/new-unep-report-lays-out-emission-cuts-needed-return-15degc

Unggahan LinkedIn Antonio Vizcaya mengenai temuan Emissions Gap Report 2026:

https://www.linkedin.com/posts/antoniovizcaya_the-world-is-heading-for-28c-of-warming-share-7519189406260428800-a0ZV

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO