Penataan Kawasan Pejalan Kaki Perlu Memprioritaskan Pengguna

Pembangunan dan penataan kawasan berbasis pejalan kaki di beberapa area perkotaan semakin gencar dilakukan. Namun, sering kali pembangunan ini belum mengedepankan fungsi utama yang mempermudah mobilitas pejalan kaki.
Contoh nyata bisa dilihat di kawasan Senen, Jakarta, di mana Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) lebih diperbesar dan dipercantik. Ironisnya, banyak pejalan kaki justru lebih memilih menyeberang menggunakan pelican crossing atau zebra cross daripada melalui JPO. Redesain kawasan yang seharusnya lebih fokus pada penyeberangan di permukaan jalan, malah memprioritaskan JPO yang tidak sesuai dengan preferensi pengguna jalan.
Situasi serupa dapat terjadi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang dikenal sebagai area kelas menengah ke atas dengan lingkungan pemukiman dan bisnis. Pertanyaannya, apakah mayoritas pejalan kaki di kawasan ini sesuai dengan target pengguna yang diutamakan dalam penataan kawasan?
Survei yang dilakukan oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) selama 24 jam bertujuan untuk mengidentifikasi siapa saja yang melakukan perjalanan pejalan kaki terbanyak di kawasan tersebut. Hasil survei ini sangat penting sebagai dasar perencanaan yang tepat guna untuk penataan kawasan agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan mayoritas pengguna.
Penelitian dan perencanaan berbasis data ini diharapkan dapat mendorong kebijakan penataan kawasan pejalan kaki yang lebih efektif, berfokus pada kenyamanan dan kemudahan bagi pengguna, bukan sekadar estetika atau pembangunan yang kurang tepat sasaran.
sumber :
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




