Berita

Menteri LH Tekankan Pemilahan Jadi Kunci Energi dari Limbah

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy / PSEL) yang akan dibangun di Bali hanya dapat mengolah sampah dengan kualitas tertentu—yakni sampah yang telah dipilah dan tidak tercampur.

Menurutnya, kualitas bahan baku menjadi faktor penentu keberhasilan teknologi tersebut. Sampah yang tercampur akan menyulitkan proses pengolahan, bahkan berpotensi tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

“PSEL membutuhkan sampah berkualitas, artinya tidak tercampur antara berbagai jenis, sehingga lebih mudah diproses,” ujarnya di Denpasar.

Ia menjelaskan, kondisi sampah yang selama ini menumpuk di TPA Suwung sebagian besar tidak memenuhi standar untuk diolah menjadi energi. Bahkan, jika tetap dipaksakan, hanya sekitar 10 persen yang dapat dimanfaatkan karena tingginya kandungan zat tertentu seperti sulfur.

Karena itu, pemerintah mendorong percepatan pemilahan sampah di tingkat daerah, khususnya di Denpasar dan Badung. Hanif meminta dukungan penuh dari pemerintah daerah untuk memastikan masyarakat aktif memilah sampah sejak dari sumbernya.

Ia mengakui bahwa persoalan sampah selama ini menjadi tantangan besar di berbagai daerah akibat pengelolaan yang belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan langkah bertahap mulai dari pembinaan masyarakat, penghentian praktik open dumping, hingga peningkatan kualitas sampah.

Meski demikian, Hanif mengapresiasi capaian masyarakat Denpasar dan Badung yang dalam waktu singkat mampu meningkatkan tingkat pemilahan hingga lebih dari 50 persen.

“Semua negara butuh waktu lama untuk membangun budaya ini. Dalam waktu kurang dari satu bulan, capaian ini sangat luar biasa,” katanya.

Namun, tantangan berikutnya adalah penyediaan sarana dan teknologi pengolahan, khususnya untuk sampah organik. Pemerintah menargetkan seluruh fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan TPS3R di Denpasar dan Badung dapat rampung pada akhir Juli 2026.

Dengan infrastruktur tersebut, TPA Suwung diharapkan tidak lagi menerima sampah organik, sehingga hanya sampah anorganik berkualitas yang masuk dan siap diolah menjadi energi.

Ke depan, saat PSEL mulai beroperasi dalam tiga tahun mendatang, sampah yang telah terkelola dengan baik bahkan dapat dimanfaatkan kembali, termasuk dari timbunan lama yang masih memiliki nilai energi.

Hanif menegaskan, kunci utama dari seluruh proses ini tetap satu: pemilahan sampah dari sumber. Tanpa itu, teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu bekerja secara optimal.

“Memilah sampah adalah langkah awal untuk menghasilkan sampah berkualitas sebagai bahan baku energi,” tegasnya.

https://www.antaranews.com/berita/5531279/menteri-lh-sebut-psel-hanya-terima-sampah-berkualitas

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO