Anak Muda Yogyakarta Kelola 22 Ton Sampah Setahun, Ubah Limbah Menjadi Gerakan Sosial dan Pertanian Kota

Di tengah persoalan sampah yang dihadapi Yogyakarta, sekelompok anak muda memilih tidak berhenti pada keluhan. Melalui Great and Green Indonesia, mereka membangun gerakan berbasis komunitas di Warungboto yang menggabungkan pengelolaan sampah organik dan anorganik, pertanian perkotaan, budidaya maggot, edukasi masyarakat, hingga sistem insentif bagi warga. Dalam setahun, komunitas tersebut mencatat mampu menangani sekitar 22 ton sampah, sekaligus menunjukkan bahwa solusi persoalan sampah dapat tumbuh dari lingkungan terkecil ketika masyarakat dilibatkan secara langsung.
Great and Green Indonesia bermula dari kegelisahan terhadap kondisi darurat sampah di Yogyakarta. Gerakan yang dibentuk sejak November 2023 tersebut diinisiasi Siti Nurlaela dengan melibatkan mahasiswa untuk membangun model pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Manajer Great and Green Indonesia, Salsadila Panicara, menjelaskan gerakan tersebut tidak hanya berfokus pada aktivitas mengumpulkan sampah. Berbagai program dikembangkan secara terintegrasi, mulai dari edukasi pemilahan, pembentukan kelompok tani, pengelolaan sampah organik, hingga pengembangan pertanian perkotaan.
Pendekatan tersebut menarik karena menempatkan sampah bukan sebagai persoalan yang berdiri sendiri. Material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah justru dihubungkan dengan kegiatan pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan perubahan perilaku warga.
Dari Darurat Sampah Lahir Gerakan Anak Muda
Persoalan sampah di Yogyakarta menjadi salah satu alasan utama lahirnya Great and Green Indonesia. Alih-alih menunggu seluruh persoalan diselesaikan melalui sistem pengangkutan dan fasilitas pembuangan, komunitas tersebut mencoba mengambil peran dari tingkat lingkungan.
Mahasiswa menjadi salah satu motor gerakannya. Pada kelompok relawan pertama, Great and Green Indonesia berhasil menghimpun 25 relawan dari sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST).
Kegiatan relawan dilakukan secara berkala setiap Sabtu. Mereka tidak hanya berkutat dengan pemilahan dan pengolahan sampah, tetapi juga terlibat dalam pertanian serta budidaya maggot di Ruang Terbuka Hijau.
Kombinasi tersebut membuat kegiatan lingkungan tidak berhenti sebagai aktivitas membersihkan sampah. Anak muda yang terlibat dapat melihat hubungan antara pola konsumsi, limbah yang dihasilkan, pengolahan material organik, produksi kompos, hingga bagaimana hasil pengolahan tersebut dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian.
Kelola 100 hingga 150 Kilogram Sampah Per Hari
Great and Green Indonesia mencatat rata-rata sampah yang mereka tangani mencapai sekitar 100 hingga 150 kilogram per hari. Secara akumulatif, komunitas tersebut menyebut volume sampah yang berhasil dikelola mencapai sekitar 22 ton dalam setahun.
Material yang masuk tidak hanya berupa sampah organik, tetapi juga sampah anorganik. Masing-masing membutuhkan jalur pengelolaan yang berbeda sehingga pemilahan menjadi bagian penting dari sistem.
Untuk sampah anorganik seperti botol plastik, misalnya, komunitas melakukan pengumpulan sekitar dua minggu sekali. Material tersebut kemudian dijual dan hasil penjualannya dimasukkan ke kas Kelompok Tani Tegal Hijau Lestari.
Pola seperti ini memberikan gambaran sederhana mengenai ekonomi sirkular pada tingkat komunitas. Sampah tidak langsung kehilangan nilainya setelah digunakan. Selama material masih dapat dikumpulkan, dipilah, dan memiliki jalur pemanfaatan berikutnya, sebagian nilai ekonominya dapat dipertahankan dan dikembalikan kepada masyarakat.
Warga Tukar Sampah dengan Kompos dan Bibit Tanaman
Salah satu pendekatan menarik yang diterapkan Great and Green Indonesia adalah sistem insentif bagi masyarakat yang rutin menyerahkan sampah melalui mekanisme komunitas.
Warga yang telah enam kali berpartisipasi dalam pengumpulan sampah akan mendapatkan pupuk kompos atau bibit tanaman secara gratis. Sistem tersebut dirancang untuk mendorong kebiasaan memilah sekaligus menghubungkan pengelolaan sampah dengan kegiatan penghijauan dan pertanian perkotaan.
Pendekatan berbasis insentif seperti ini dapat membantu menjawab salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah, yaitu mengubah perilaku.
Masyarakat sering kali sudah mengetahui bahwa sampah sebaiknya dipilah, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu berubah menjadi kebiasaan. Dibutuhkan sistem yang sederhana, mudah diikuti, konsisten, dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan.
Ketika warga membawa sampah kemudian memperoleh bibit tanaman atau kompos, hubungan antara sampah dan sumber daya menjadi lebih mudah dipahami. Material yang tadinya dianggap tidak berguna ternyata dapat menghasilkan sesuatu yang kembali bermanfaat bagi rumah tangga.
Sampah dan Pertanian Kota Dipertemukan
Salah satu kekuatan model Great and Green Indonesia adalah upaya menghubungkan pengelolaan sampah dengan pertanian perkotaan.
Dalam sistem persampahan konvensional, sampah biasanya bergerak dalam satu arah: dari rumah menuju tempat pengumpulan, kemudian diangkut menuju fasilitas pengolahan atau pembuangan akhir. Setelah sampah meninggalkan rumah, masyarakat tidak lagi mengetahui apa yang terjadi terhadap material tersebut.
Great and Green mencoba membangun siklus yang berbeda. Sampah organik dikelola, kegiatan pertanian dikembangkan, dan masyarakat mendapatkan kompos atau bibit sebagai insentif. Dengan demikian, ada hubungan yang lebih terlihat antara apa yang dibuang masyarakat dengan sumber daya yang dapat dihasilkan kembali.
Pendekatan tersebut sekaligus dapat menjadi sarana pendidikan lingkungan. Warga dapat memahami bahwa sisa organik tidak selalu harus berakhir sebagai timbunan sampah. Dalam sistem yang tepat, sebagian material organik dapat dimanfaatkan melalui pengomposan atau metode biologis lainnya.
Budidaya Maggot Menjadi Bagian dari Sistem
Kegiatan Great and Green Indonesia juga mencakup budidaya maggot. Dalam pengelolaan sampah organik, larva Black Soldier Fly (BSF) telah banyak digunakan untuk membantu mengolah jenis material organik tertentu.
Namun pemanfaatannya membutuhkan pengelolaan yang tepat. Tidak semua jenis sampah dapat langsung dimasukkan ke sistem budidaya maggot, sehingga pemilahan bahan baku tetap menjadi kebutuhan utama.
Hal tersebut kembali menunjukkan mengapa pemilahan dari rumah sangat penting. Ketika sisa makanan telah bercampur dengan plastik, logam, kaca, bahan kimia rumah tangga, atau residu lainnya, proses pengolahan biologis menjadi jauh lebih sulit.
Karena itu, teknologi atau metode pengolahan di hilir akan selalu bergantung pada kedisiplinan pemilahan di hulu.
Sekitar 50 Keluarga Mulai Terlibat
Gerakan tersebut perlahan mulai mendapatkan partisipasi masyarakat. Berdasarkan keterangan Salsadila, sekitar 50 kepala keluarga telah rutin menyerahkan sampah sesuai sistem yang dikembangkan Great and Green Indonesia.
Jumlah tersebut mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan penduduk Yogyakarta. Namun dalam pendekatan berbasis komunitas, konsistensi puluhan keluarga dapat menjadi laboratorium sosial untuk menguji apakah sebuah sistem benar-benar dapat berjalan.
Jika 50 keluarga mampu mempertahankan kebiasaan memilah, tantangan berikutnya adalah bagaimana model tersebut dapat diperluas menjadi 100, 500, atau bahkan ribuan keluarga tanpa kehilangan kualitas pengelolaan.
Skalabilitas inilah yang menjadi salah satu tantangan utama banyak gerakan lingkungan berbasis masyarakat. Sistem yang bekerja dengan baik pada puluhan rumah belum tentu otomatis berjalan dengan pola yang sama ketika melibatkan ribuan rumah.
Dibutuhkan fasilitas yang lebih besar, sistem pencatatan, jadwal pengangkutan, tenaga pengelola, pembiayaan, serta pasar yang mampu menerima material hasil pemilahan.
Edukasi Tidak Dilakukan Hanya Melalui Media Sosial
Great and Green Indonesia juga aktif mengikuti rapat-rapat warga untuk memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah dari rumah. Pendekatan langsung tersebut menjadi penting karena perubahan perilaku tidak selalu dapat dibangun hanya melalui poster, media sosial, atau kampanye satu arah.
Pertemuan warga memberikan ruang untuk membicarakan persoalan yang benar-benar mereka hadapi. Masyarakat dapat mengetahui jenis sampah yang diterima, cara memilah, jadwal pengumpulan, serta manfaat yang diperoleh dari partisipasi mereka.
Interaksi langsung juga memungkinkan pengelola menerima masukan ketika sistem tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Model ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah sebenarnya sangat berkaitan dengan kemampuan membangun komunitas. Infrastruktur memang diperlukan, tetapi partisipasi masyarakat tidak muncul hanya karena tempat sampah baru telah tersedia.
Gerakan Anak Muda Mendapat Pengakuan
Upaya yang dilakukan Great and Green Indonesia kemudian memperoleh pengakuan melalui Sayembara Aksi Jaga Bumi yang digelar Kitabisa dan difasilitasi UNDP.
Komunitas tersebut terpilih menjadi salah satu Tim Penggerak Terbaik se-DIY dan mewakili daerahnya untuk bersaing dengan 33 tim dari berbagai wilayah Indonesia. Great and Green Indonesia kemudian berhasil masuk dalam 10 besar sehingga diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan gerakannya.
Dalam kompetisi tersebut, komunitas ini memperoleh penghargaan The Most Inclusive Youth Sociopreneurship serta dana pengembangan sebesar Rp10 juta.
Dana tersebut digunakan untuk memperkuat kegiatan komunitas, termasuk memperluas program edukasi serta fasilitas pengelolaan sampah.
Penghargaan tersebut menarik karena menempatkan gerakan lingkungan bukan hanya dalam konteks aktivitas sosial, tetapi juga sociopreneurship. Artinya, persoalan sosial dan lingkungan mulai dilihat sebagai ruang untuk mengembangkan model kegiatan yang mempunyai manfaat sekaligus berupaya membangun keberlanjutan operasional.
Gerakan Lingkungan Membutuhkan Model Pembiayaan
Salah satu persoalan yang sering dihadapi komunitas lingkungan adalah keberlanjutan setelah pendanaan awal berakhir. Banyak gerakan dapat berjalan ketika memperoleh hibah atau bantuan, tetapi mengalami kesulitan mempertahankan aktivitas ketika sumber dana tersebut berhenti.
Great and Green Indonesia mencoba memperkuat keberlanjutan gerakannya melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Yakesma. Selain itu, penjualan material seperti botol plastik memberikan pemasukan yang kemudian masuk ke kas kelompok tani.
Meski nilainya mungkin belum cukup untuk membiayai seluruh kegiatan, pola tersebut menunjukkan pentingnya membangun sumber pendanaan yang beragam.
Gerakan pengelolaan sampah tetap membutuhkan biaya untuk membeli alat, merawat fasilitas, mengangkut material, memberikan edukasi, menyediakan sarana keselamatan, dan mendukung orang-orang yang menjalankan operasional.
Karena itu, konsep bahwa seluruh pengelolaan sampah berbasis komunitas harus selalu dilakukan secara gratis melalui relawan perlu mulai dievaluasi. Relawan sangat penting untuk memulai gerakan, tetapi sistem yang ingin bertahan dalam jangka panjang membutuhkan struktur pembiayaan yang sehat.
Mengapa 22 Ton Tetap Berarti?
Dibandingkan volume sampah sebuah kota, 22 ton per tahun mungkin bukan angka yang sangat besar. Namun melihat dampak Great and Green Indonesia hanya dari tonase juga tidak sepenuhnya menggambarkan nilai gerakan tersebut.
Ada puluhan keluarga yang mulai belajar memilah sampah, mahasiswa yang memperoleh pengalaman langsung mengelola lingkungan, kelompok tani yang memperoleh manfaat dari material anorganik, kegiatan pertanian perkotaan yang berkembang, budidaya maggot, produksi kompos, serta terbentuknya jaringan komunitas.
Dalam gerakan berbasis masyarakat, dampak perilaku seperti ini sering kali sama pentingnya dengan jumlah tonase yang berhasil dikelola.
Sebab krisis sampah tidak hanya terjadi karena kekurangan fasilitas pengolahan. Persoalan juga berasal dari pola konsumsi dan kebiasaan mencampurkan seluruh material setelah digunakan.
Jika perilaku di tingkat rumah tangga tidak berubah, fasilitas di hilir akan terus menerima sampah dalam kondisi tercampur dan sulit diolah.
Kota Tidak Bisa Hanya Mengandalkan TPA
Pengalaman Yogyakarta menghadapi persoalan sampah memberikan pelajaran mengenai risiko ketika sebuah kota terlalu bergantung pada sistem pengangkutan dan pembuangan akhir.
Dalam model konvensional, masyarakat membuang sampah, petugas mengangkutnya, kemudian material dibawa menuju fasilitas pembuangan. Selama sampah sudah tidak terlihat di depan rumah, persoalan seolah selesai.
Padahal sampah hanya berpindah lokasi.
Pendekatan berbasis komunitas seperti Great and Green Indonesia mencoba mengintervensi aliran tersebut sebelum sampah masuk ke sistem pengangkutan. Material organik dan anorganik dipilah sehingga sebagian dapat dialihkan menuju jalur pemanfaatan lain.
Semakin banyak sampah yang dapat diselesaikan di tingkat rumah tangga, lingkungan, kelurahan, pasar, sekolah, kampus, restoran, dan kawasan komersial, semakin kecil beban yang harus ditanggung fasilitas pengolahan akhir.
Bukan Berarti Semua Sampah Harus Dikelola Sendiri
Mendorong pengelolaan berbasis masyarakat bukan berarti seluruh tanggung jawab sampah dipindahkan kepada warga.
Pemerintah tetap mempunyai peranan besar dalam membangun sistem persampahan, menyediakan infrastruktur, menetapkan regulasi, mengawasi fasilitas, memastikan residu terangkut, dan menciptakan ekosistem industri daur ulang.
Komunitas sebaiknya menjadi bagian dari sistem tersebut, bukan pengganti pemerintah.
Model ideal adalah ketika pemilahan masyarakat terhubung dengan sistem pengumpulan terpilah, fasilitas pengolahan organik, Bank Sampah, industri daur ulang, dan fasilitas pengelolaan residu.
Jika masyarakat sudah bersusah payah memisahkan sampah tetapi kemudian seluruh material dicampurkan kembali ketika diangkut, kepercayaan terhadap program dapat hilang.
Model Warungboto Bisa Menjadi Laboratorium Sosial
Apa yang dilakukan Great and Green Indonesia di Warungboto dapat dilihat sebagai laboratorium kecil mengenai bagaimana sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas dibangun.
Modelnya tidak hanya meminta masyarakat membuang sampah pada tempat yang benar. Ada insentif, pertanian perkotaan, budidaya maggot, relawan mahasiswa, kelompok tani, edukasi warga, serta jalur ekonomi untuk sebagian material anorganik.
Pendekatan multidimensi seperti ini memiliki peluang lebih besar untuk bertahan karena manfaatnya tidak hanya berada pada satu sisi.
Masyarakat memperoleh lingkungan yang lebih terkelola dan insentif berupa kompos atau bibit. Kelompok tani memperoleh manfaat ekonomi dari material tertentu. Mahasiswa mendapatkan ruang pembelajaran dan pengabdian. Sampah organik memperoleh jalur pengolahan, sementara material anorganik dapat masuk kembali ke rantai pemanfaatan.
Anak Muda Bukan Hanya Target Kampanye Lingkungan
Gerakan Great and Green Indonesia juga memperlihatkan perubahan peran generasi muda dalam isu lingkungan. Anak muda sering ditempatkan hanya sebagai sasaran edukasi atau peserta kampanye, padahal mereka dapat menjadi perancang dan pengelola solusi.
Keterlibatan mahasiswa dari berbagai universitas menunjukkan bahwa isu sampah dapat menjadi ruang pembelajaran lintas disiplin. Persoalan tersebut tidak hanya membutuhkan pengetahuan lingkungan, tetapi juga komunikasi masyarakat, teknologi, desain sistem, kewirausahaan, pertanian, ekonomi, dan manajemen.
Ketika keterampilan tersebut bertemu di tingkat komunitas, inovasi dapat muncul dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari Sampah Menuju Ketahanan Komunitas
Hal yang membuat Great and Green Indonesia menarik bukan semata keberhasilannya mengelola sekitar 22 ton sampah dalam setahun. Nilai yang lebih besar terletak pada bagaimana sampah digunakan sebagai pintu masuk untuk membangun kegiatan lain.
Sampah organik terhubung dengan pengolahan biologis dan pertanian. Material anorganik memiliki jalur ekonomi. Warga memperoleh insentif untuk berpartisipasi. Mahasiswa menjadi relawan, sementara kelompok tani ikut memperoleh manfaat.
Dari sini terlihat bahwa pengelolaan sampah sebenarnya dapat berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih luas apabila dirancang dengan baik.
Tantangan berikutnya adalah mempertahankan konsistensi dan memperbesar skala tanpa kehilangan prinsip dasarnya. Jumlah rumah tangga yang terlibat perlu bertambah, kapasitas pengolahan harus mengikuti, pendanaan harus semakin mandiri, dan kualitas pengelolaan harus tetap terjaga.
Jika pola tersebut dapat direplikasi di banyak kampung, satu komunitas mungkin hanya mengelola puluhan ton sampah. Namun ratusan komunitas dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar.
Pengalaman Great and Green Indonesia membawa satu pesan penting bagi kota-kota yang menghadapi persoalan sampah: solusi tidak selalu harus menunggu hadirnya fasilitas raksasa. Sebagian perubahan dapat dimulai dari kelompok kecil yang mampu membuat masyarakat melihat kembali apa yang selama ini mereka sebut sebagai sampah.
Ketika warga mulai memilah, anak muda terlibat mengelola, sampah organik dikembalikan ke siklus pertanian, dan material bernilai masuk kembali ke rantai ekonomi, pengelolaan sampah tidak lagi sekadar kegiatan membersihkan lingkungan. Ia mulai berkembang menjadi bagian dari pembangunan komunitas dan ekonomi sirkular.




