Ancaman Super El Niño 2026–2027: Peta Dunia Memerah, Indonesia Bersiap Menghadapi Kekeringan dan Krisis Lingkungan

Dunia tengah menghadapi perkembangan iklim yang mengkhawatirkan. Peta prakiraan suhu global yang didominasi warna merah memperlihatkan potensi suhu di atas rata-rata pada sebagian besar wilayah bumi menjelang akhir 2026. Di saat yang sama, fenomena El Niño di Samudra Pasifik terus menguat dan diperkirakan mencapai intensitas sangat kuat menjelang akhir tahun. Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization atau WMO), badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani cuaca, iklim, dan sumber daya air, memperingatkan bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko suhu ekstrem, kekeringan, perubahan pola hujan, serta berbagai gangguan terhadap kehidupan masyarakat di banyak negara.
Peringatan ini menjadi semakin penting setelah lembaga pemantauan iklim Amerika Serikat, NOAA, memperkirakan adanya peluang besar bahwa El Niño 2026–2027 dapat melampaui kekuatan sejumlah peristiwa historis yang tercatat sejak 1950. Fenomena ini kemudian banyak disebut sebagai Super El Niño, istilah populer untuk menggambarkan El Niño yang sangat kuat. Namun, istilah tersebut bukan klasifikasi resmi yang digunakan WMO. Yang telah dipastikan adalah bahwa El Niño sedang berlangsung dan menguat, sedangkan kemungkinan menjadi salah satu peristiwa terkuat dalam sejarah pengamatan masih merupakan hasil prakiraan yang harus terus diperbarui.
Bagi Indonesia, perkembangan tersebut tidak dapat dipandang sebagai persoalan iklim global yang jauh dari kehidupan sehari-hari. El Niño dapat memengaruhi distribusi curah hujan, memperbesar risiko kekeringan di sejumlah wilayah, meningkatkan kerentanan kebakaran hutan dan lahan, serta memberikan tekanan terhadap pertanian, ketersediaan air, kesehatan masyarakat, dan kegiatan ekonomi. Karena itu, peringatan mengenai El Niño seharusnya menjadi dasar untuk memperkuat kesiapsiagaan, bukan sekadar informasi mengenai kenaikan suhu dunia.
Mengapa Peta Suhu Dunia Berwarna Merah?
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian dari laporan mengenai El Niño 2026 adalah peta prakiraan suhu global yang didominasi warna merah. Dalam peta anomali suhu, warna merah umumnya digunakan untuk menunjukkan wilayah yang diperkirakan memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata pada periode acuan tertentu.
Artinya, warna merah tidak menunjukkan bahwa seluruh wilayah dunia akan mengalami suhu ekstrem dengan tingkat yang sama. Warna tersebut juga tidak berarti bahwa semua tempat akan mengalami kekeringan atau gelombang panas setiap hari.
Sebagai contoh, suatu wilayah yang secara alami memiliki iklim sejuk tetap dapat ditampilkan berwarna merah apabila suhu yang diprakirakan lebih tinggi daripada kondisi normal wilayah tersebut. Sebaliknya, daerah tropis yang memiliki suhu udara tinggi belum tentu menunjukkan anomali terbesar apabila kenaikannya relatif kecil dibandingkan rata-rata historis.
Dalam pembaruan prakiraan iklim yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, WMO memperkirakan suhu di atas rata-rata akan mendominasi sebagian besar wilayah dunia selama periode Oktober hingga Desember 2026. Kondisi tersebut mencerminkan adanya sinyal pemanasan musiman yang kuat, tetapi dampak aktualnya akan berbeda menurut wilayah, waktu, dan karakteristik iklim setempat.
Peta tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan kondisi atmosfer dan lautan dapat memengaruhi sistem iklim secara luas. Namun, untuk memahami risiko yang benar-benar dihadapi suatu daerah, masyarakat tetap perlu memperhatikan prakiraan iklim regional dan informasi dari lembaga meteorologi nasional.
El Niño 2026 Berpotensi Menjadi Salah Satu yang Terkuat Sejak 1950
Perkembangan paling menonjol dari fenomena El Niño tahun ini adalah besarnya anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis.
Dalam pembaruan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, NOAA menyampaikan bahwa El Niño terus menguat. Indeks suhu laut Niño-3.4 telah mencapai sekitar +2,1 derajat Celsius, sementara beberapa wilayah di Pasifik timur menunjukkan anomali suhu yang lebih tinggi.
NOAA juga memperkirakan peluang sebesar 83 persen bahwa intensitas El Niño pada periode Oktober–Desember 2026 akan melampaui ambang peristiwa historis yang sangat kuat berdasarkan indeks RONI. Angka tersebut merupakan probabilitas prakiraan, bukan kepastian bahwa rekor baru telah terjadi.
WMO sebelumnya telah memperingatkan bahwa El Niño diperkirakan mencapai intensitas sangat kuat menjelang akhir 2026 dan berpotensi memengaruhi kondisi cuaca hingga awal 2027.
Peristiwa El Niño kuat pernah terjadi pada 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016. Masing-masing memiliki karakteristik serta dampak regional yang tidak sepenuhnya sama. Karena itu, meskipun kekuatan El Niño dapat dibandingkan menggunakan indeks suhu laut, dampaknya terhadap suatu negara tidak dapat ditentukan hanya dari satu angka.
Perubahan pola angin, kondisi Samudra Hindia, suhu laut regional, musim, dan karakteristik geografis turut menentukan bagaimana pengaruh El Niño dirasakan.
Apa Sebenarnya El Niño dan Mengapa Bisa Mengubah Cuaca Dunia?
El Niño merupakan fase hangat dari fenomena iklim alami yang dikenal sebagai El Niño–Southern Oscillation atau ENSO. Fenomena ini berkaitan dengan perubahan suhu permukaan laut dan pola sirkulasi atmosfer di kawasan tropis Samudra Pasifik.
Dalam kondisi normal, angin pasat membantu mendorong air laut hangat menuju Pasifik bagian barat, termasuk kawasan yang relatif dekat dengan Indonesia. Pergerakan tersebut mendukung pembentukan awan dan hujan di wilayah Pasifik barat.
Ketika El Niño berkembang, pola angin dan distribusi suhu laut mengalami perubahan. Perairan Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat daripada biasanya, sementara pusat pembentukan awan dan hujan dapat bergeser.
Perubahan tersebut memengaruhi sirkulasi atmosfer tropis dan berpotensi mengubah pola curah hujan di berbagai kawasan dunia.
Di sebagian wilayah Amerika Selatan, El Niño dapat meningkatkan peluang hujan di atas normal. Sebaliknya, Indonesia, Australia, dan sejumlah wilayah Asia Tenggara sering menghadapi kecenderungan curah hujan yang lebih rendah selama fase tertentu El Niño.
Namun, pengaruh tersebut tidak selalu seragam. Sebagian daerah masih dapat mengalami hujan lebat meskipun El Niño sedang berlangsung.
Inilah sebabnya El Niño lebih tepat dipahami sebagai fenomena yang mengubah peluang dan distribusi kondisi cuaca, bukan sebagai penyebab tunggal seluruh kejadian ekstrem.
Mengapa El Niño Dapat Membuat Indonesia Lebih Kering?
Indonesia berada di wilayah tropis yang sangat dipengaruhi interaksi antara atmosfer, samudra, dan sistem monsun. Kondisi geografis sebagai negara kepulauan menyebabkan distribusi curah hujan sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Ketika El Niño menguat, perubahan sirkulasi atmosfer di kawasan Pasifik dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Dampaknya dapat berupa penurunan curah hujan, mundurnya awal musim hujan di sejumlah daerah, atau meningkatnya jumlah hari tanpa hujan.
Risiko tersebut menjadi lebih besar apabila pengaruh El Niño berlangsung bersamaan dengan faktor iklim lain yang mendukung kondisi kering.
Salah satu faktor penting adalah Indian Ocean Dipole atau IOD, yaitu fenomena perbedaan suhu permukaan laut antara bagian barat dan timur Samudra Hindia. Ketika IOD berada dalam fase positif, sebagian wilayah Indonesia dapat mengalami kecenderungan penurunan curah hujan.
WMO memperkirakan IOD positif turut memengaruhi kondisi iklim pada akhir 2026, meskipun kekuatannya diperkirakan menurun setelah mencapai puncak.
Kombinasi El Niño dan IOD positif dapat memperbesar risiko kekeringan di wilayah tertentu. Namun, besarnya dampak tetap bergantung pada perkembangan kedua fenomena tersebut dan kondisi atmosfer regional.
Ancaman Kekeringan Tidak Hanya Berkaitan dengan Berkurangnya Hujan
Kekeringan sering dipahami sebagai kondisi ketika hujan tidak turun dalam waktu lama. Padahal, dampaknya dapat berkembang melalui beberapa tahapan dan memengaruhi berbagai sektor kehidupan.
Pada tahap awal, penurunan curah hujan dapat menyebabkan berkurangnya kelembapan tanah. Apabila kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, tanaman dapat mengalami tekanan air sehingga pertumbuhan dan produktivitasnya menurun.
Dalam jangka lebih panjang, berkurangnya pasokan air dapat memengaruhi debit sungai, volume waduk, cadangan air tanah, dan ketersediaan air baku.
Persoalan menjadi lebih kompleks apabila wilayah tersebut telah memiliki masalah pengelolaan sumber daya air, seperti kerusakan daerah tangkapan air, penggunaan air tanah berlebihan, atau infrastruktur distribusi yang belum memadai.
Karena itu, kekeringan tidak semata-mata ditentukan oleh intensitas El Niño. Kondisi lingkungan dan kemampuan suatu wilayah menyimpan air turut menentukan tingkat kerentanannya.
Wilayah yang memiliki sumber air terlindungi, sistem penyimpanan memadai, dan penggunaan air efisien cenderung lebih siap menghadapi periode kering dibandingkan wilayah yang sangat bergantung pada curah hujan langsung.
Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Dapat Meningkat
Salah satu dampak El Niño yang paling perlu diwaspadai Indonesia adalah meningkatnya kondisi yang mendukung kebakaran hutan dan lahan.
Ketika curah hujan berkurang, vegetasi dan material organik di permukaan tanah dapat kehilangan kelembapan. Rumput, semak, daun kering, dan serasah menjadi lebih mudah terbakar apabila terdapat sumber penyalaan.
Pada lahan gambut, kondisi tersebut dapat menjadi lebih berbahaya. Gambut tersusun dari akumulasi material organik yang terbentuk selama waktu sangat panjang. Ketika muka air tanah turun dan lapisan gambut mengering, material tersebut dapat menjadi rentan terhadap kebakaran yang menjalar hingga ke bawah permukaan.
Kebakaran gambut sering sulit dipadamkan karena titik api dapat bertahan di dalam lapisan tanah meskipun kobaran di permukaan terlihat telah berkurang.
Dalam kondisi El Niño yang kuat, pengawasan kawasan rawan kebakaran perlu ditingkatkan. Namun, penting dipahami bahwa El Niño tidak secara otomatis menyalakan api. Kebakaran tetap membutuhkan sumber penyalaan, sementara kondisi iklim kering dapat memperbesar kemungkinan api menyebar dan sulit dikendalikan.
Pencegahan karhutla karena itu harus mencakup pengelolaan lahan, perlindungan hidrologi gambut, pengawasan aktivitas manusia, pemantauan titik panas, dan kesiapan penanganan sejak dini.
Pertanian dan Ketahanan Pangan Menghadapi Tekanan
Sektor pertanian merupakan salah satu bidang yang sangat bergantung pada kondisi iklim. Perubahan pola curah hujan dapat memengaruhi jadwal tanam, kebutuhan irigasi, pertumbuhan tanaman, dan hasil panen.
Ketika musim hujan mengalami keterlambatan atau curah hujan berada di bawah normal, petani dapat menghadapi kesulitan menentukan waktu tanam yang tepat.
Tanaman yang membutuhkan pasokan air relatif stabil, termasuk padi pada sistem budidaya tertentu, dapat mengalami tekanan apabila ketersediaan air irigasi menurun.
Kekeringan juga dapat memengaruhi produksi komoditas hortikultura dan tanaman perkebunan, bergantung pada jenis tanaman, fase pertumbuhan, kondisi tanah, serta ketersediaan air.
Dampak tersebut berpotensi meluas ke sistem pangan apabila gangguan produksi terjadi di banyak wilayah secara bersamaan.
Namun, tidak setiap El Niño otomatis menyebabkan gagal panen atau kenaikan harga pangan. Hasil akhirnya dipengaruhi oleh kemampuan petani beradaptasi, ketersediaan irigasi, cadangan pangan, distribusi, dan kebijakan pengelolaan produksi.
Karena itu, prakiraan El Niño seharusnya dimanfaatkan untuk menyesuaikan kalender tanam, memperbaiki efisiensi penggunaan air, serta memperkuat sistem informasi pertanian.
Ketahanan Air Perkotaan Juga Perlu Mendapat Perhatian
Ancaman El Niño tidak hanya dirasakan masyarakat pertanian dan pedesaan. Kawasan perkotaan juga dapat menghadapi tekanan apabila ketersediaan air baku mengalami penurunan.
Banyak kota bergantung pada sungai, waduk, dan sumber air tanah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, industri, perdagangan, serta fasilitas publik.
Ketika curah hujan menurun dalam waktu lama, pasokan air dari beberapa sumber dapat berkurang. Kondisi ini berpotensi menjadi persoalan apabila kebutuhan air terus meningkat sementara kapasitas penyimpanan dan pengelolaan belum berkembang secara memadai.
Karena itu, pemerintah daerah dan penyelenggara layanan air minum perlu memperhatikan keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air.
Pengurangan kehilangan air pada jaringan distribusi, perlindungan daerah tangkapan air, efisiensi penggunaan air, dan diversifikasi sumber air merupakan langkah yang dapat membantu meningkatkan ketahanan layanan.
Peristiwa El Niño juga mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur air tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi. Keandalan sumber air dan kemampuan sistem menghadapi perubahan iklim musiman sama pentingnya.
Gelombang Panas dan Risiko Kesehatan Masyarakat
WMO memperingatkan bahwa El Niño yang kuat dapat meningkatkan peluang suhu di atas rata-rata di berbagai wilayah dunia. Kondisi ini menjadi perhatian karena suhu tinggi dapat menimbulkan dampak terhadap kesehatan manusia, terutama ketika berlangsung dalam waktu lama.
Paparan panas berlebihan dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan akibat panas, dan gangguan kesehatan yang lebih serius pada kondisi tertentu.
Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, serta orang dengan penyakit tertentu membutuhkan perhatian lebih besar.
Di kawasan perkotaan, risiko panas dapat diperburuk oleh fenomena pulau panas perkotaan atau urban heat island. Permukaan beton, aspal, bangunan padat, dan terbatasnya vegetasi dapat menyebabkan suhu lingkungan terbangun lebih tinggi dibandingkan kawasan yang memiliki ruang hijau memadai.
Namun, peningkatan suhu musiman tidak berarti setiap wilayah akan mengalami gelombang panas menurut definisi meteorologis setempat.
Risiko kesehatan perlu dinilai berdasarkan suhu aktual, kelembapan, durasi paparan, kondisi lingkungan, serta kemampuan masyarakat melakukan perlindungan diri.
El Niño dan Perubahan Iklim Merupakan Dua Fenomena yang Berbeda
Salah satu hal penting dalam memahami peringatan iklim global adalah membedakan El Niño dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
El Niño merupakan bagian dari variasi alami sistem iklim bumi. Fenomena ini telah terjadi jauh sebelum peningkatan emisi gas rumah kaca modern.
Sementara itu, perubahan iklim jangka panjang terutama dipengaruhi oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia, termasuk pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan penggunaan lahan.
Keduanya merupakan fenomena berbeda, tetapi dapat berinteraksi.
Ketika El Niño berlangsung di tengah kondisi bumi yang telah mengalami pemanasan jangka panjang, peningkatan suhu sementara akibat El Niño dapat menambah tekanan terhadap sistem iklim.
Hal ini dapat meningkatkan peluang terjadinya suhu global yang sangat tinggi, meskipun dampak regionalnya tetap dipengaruhi berbagai faktor lain.
Karena itu, El Niño tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab pemanasan global. Sebaliknya, perubahan iklim juga tidak dapat digunakan untuk menjelaskan setiap perubahan cuaca yang terjadi selama El Niño.
Memahami perbedaan tersebut penting agar masyarakat memperoleh informasi yang tepat dan tidak menarik kesimpulan berlebihan dari satu fenomena.
Apakah Super El Niño Akan Menyebabkan Bencana di Seluruh Dunia?
Peta suhu global yang didominasi warna merah dapat menimbulkan kesan bahwa seluruh dunia akan menghadapi bencana secara bersamaan. Namun, interpretasi tersebut tidak tepat.
El Niño memengaruhi pola iklim secara luas, tetapi dampaknya sangat bergantung pada lokasi geografis dan kondisi regional.
Sebagian wilayah dapat mengalami kekeringan lebih besar, sementara wilayah lain justru menghadapi peningkatan curah hujan.
Ada daerah yang mengalami kenaikan suhu signifikan, tetapi ada pula wilayah yang pengaruhnya relatif lebih kecil.
Selain itu, intensitas El Niño yang tinggi tidak selalu menghasilkan dampak yang sama pada setiap kejadian historis.
Kondisi atmosfer, suhu laut di wilayah lain, pola monsun, dan karakteristik lingkungan lokal dapat memperkuat atau mengurangi pengaruh El Niño.
Karena itu, istilah Super El Niño perlu dipahami sebagai gambaran potensi intensitas fenomena, bukan kepastian bahwa seluruh negara akan mengalami bencana dengan skala yang sama.
Mengapa Peringatan Dini Sangat Penting?
Salah satu manfaat terbesar perkembangan ilmu iklim adalah kemampuan memperkirakan fenomena ENSO beberapa bulan sebelum dampaknya mencapai puncak.
Prakiraan tersebut memberikan waktu bagi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk mempersiapkan langkah antisipasi.
Dalam sektor pertanian, informasi El Niño dapat digunakan untuk menyesuaikan pola tanam dan kebutuhan irigasi. Dalam pengelolaan air, prakiraan dapat membantu perencanaan cadangan serta penggunaan air secara lebih efisien.
Sementara itu, pada kawasan rawan karhutla, peringatan dini dapat menjadi dasar untuk memperkuat patroli, menjaga kondisi hidrologis, dan meningkatkan kesiapan petugas.
Namun, peringatan dini hanya akan memberikan manfaat apabila diikuti tindakan.
Informasi mengenai kemungkinan kekeringan tidak cukup hanya disampaikan melalui laporan atau pemberitaan. Informasi tersebut perlu diterjemahkan menjadi keputusan operasional, pengalokasian sumber daya, dan langkah perlindungan yang sesuai dengan kondisi wilayah.
Dengan demikian, keberhasilan sistem peringatan dini tidak hanya ditentukan oleh ketepatan prakiraan, tetapi juga kemampuan masyarakat dan lembaga terkait merespons informasi tersebut.
Indonesia Perlu Memperkuat Ketahanan terhadap Risiko Iklim
Potensi El Niño sangat kuat pada akhir 2026 memberikan pelajaran penting mengenai kebutuhan membangun ketahanan lingkungan dan infrastruktur.
Indonesia memiliki karakteristik geografis yang kompleks, dengan wilayah kepulauan, kawasan pertanian luas, hutan tropis, lahan gambut, serta kota-kota yang terus berkembang.
Setiap wilayah menghadapi kerentanan berbeda.
Kawasan pertanian membutuhkan sistem pengelolaan air yang mampu menghadapi perubahan curah hujan. Wilayah gambut membutuhkan perlindungan kondisi hidrologis agar tidak mudah terbakar. Kota-kota besar memerlukan pengelolaan air baku, ruang hijau, dan sistem perlindungan kesehatan terhadap suhu tinggi.
Sementara itu, kawasan pesisir dan pulau kecil membutuhkan perencanaan sumber air yang mempertimbangkan keterbatasan cadangan air tawar.
Langkah adaptasi perlu disusun berdasarkan kondisi setempat, bukan hanya mengikuti gambaran umum mengenai dampak El Niño secara nasional.
Prakiraan Iklim Bukan Kepastian, tetapi Alasan untuk Bersiap
Salah satu aspek penting dalam pemberitaan mengenai Super El Niño adalah penggunaan istilah dan angka prakiraan secara tepat.
Ketika NOAA menyampaikan peluang 83 persen bahwa El Niño dapat mencapai intensitas historis tertentu pada periode Oktober–Desember 2026, angka tersebut menunjukkan tingkat kemungkinan berdasarkan informasi dan model yang tersedia saat prakiraan diterbitkan.
Angka itu tidak berarti bahwa peristiwa tersebut telah dipastikan menjadi yang terkuat sejak 1950.
Demikian pula, peta suhu dunia yang berwarna merah menunjukkan kecenderungan suhu di atas rata-rata, bukan kepastian bahwa seluruh wilayah akan mengalami bencana.
Prakiraan iklim terus diperbarui karena kondisi laut dan atmosfer berkembang dari waktu ke waktu.
Masyarakat perlu memperhatikan pembaruan resmi dari lembaga meteorologi dan iklim, terutama untuk memahami dampak yang lebih spesifik terhadap wilayah tempat tinggal atau kegiatan usahanya.
Pendekatan tersebut memungkinkan informasi iklim digunakan secara produktif tanpa menimbulkan kepanikan yang tidak diperlukan.
Dunia Memanas, tetapi Dampaknya Tidak Harus Menjadi Bencana
Peringatan mengenai El Niño 2026–2027 menunjukkan bahwa dunia menghadapi periode iklim yang berpotensi memberikan tekanan besar terhadap berbagai sektor kehidupan.
Kenaikan suhu laut di Pasifik, perubahan sirkulasi atmosfer, dan kecenderungan suhu global di atas rata-rata merupakan perkembangan yang perlu diperhatikan secara serius.
Namun, besarnya dampak terhadap masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fenomena alam.
Kondisi lingkungan, kualitas infrastruktur, kemampuan pemerintah, kesiapan masyarakat, serta pengelolaan sumber daya memiliki peran penting dalam menentukan tingkat risiko.
Kekeringan dapat menjadi lebih berat ketika sumber air tidak dikelola dengan baik.
Kebakaran hutan dapat meluas ketika kawasan rawan tidak memperoleh perlindungan memadai.
Gangguan produksi pangan dapat membesar ketika sistem pertanian tidak memiliki kemampuan beradaptasi.
Sebaliknya, kesiapsiagaan yang dilakukan sejak dini dapat membantu mengurangi kerugian dan melindungi kehidupan masyarakat.
El Niño 2026–2027 Menjadi Ujian bagi Ketahanan Lingkungan Indonesia
Potensi Super El Niño pada akhir 2026 seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi risiko iklim.
Pemerintah perlu memastikan informasi prakiraan diterjemahkan menjadi tindakan yang sesuai dengan kondisi daerah. Dunia usaha perlu mempertimbangkan risiko terhadap penggunaan air, energi, rantai pasok, dan kegiatan operasional. Sementara itu, masyarakat dapat meningkatkan kesiapsiagaan melalui penghematan air, pencegahan kebakaran, serta perhatian terhadap informasi cuaca dan iklim.
Yang tidak kalah penting, perlindungan ekosistem perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi menghadapi kondisi iklim yang semakin menantang.
Hutan yang sehat, daerah tangkapan air yang terlindungi, lahan gambut yang tetap basah, serta sistem pengelolaan air yang baik dapat membantu meningkatkan kemampuan lingkungan menghadapi tekanan.
Peringatan El Niño mengingatkan bahwa manusia tidak dapat mengendalikan seluruh proses alam. Namun, manusia dapat memperbaiki cara mengelola lingkungan agar dampaknya tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar.
Peta dunia yang memerah bukan berarti seluruh bumi telah memasuki kondisi bencana. Peta tersebut merupakan peringatan bahwa sistem iklim sedang mengalami tekanan yang perlu diantisipasi dengan serius.
El Niño mungkin merupakan fenomena alami, tetapi tingkat kerugian yang ditimbulkannya sangat dipengaruhi oleh keputusan manusia.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan hanya seberapa kuat El Niño akan berkembang pada akhir 2026, melainkan seberapa siap Indonesia menghadapi konsekuensinya.
Kita mungkin tidak dapat menghentikan El Niño, tetapi kita dapat mengurangi risiko kekeringan, kebakaran hutan, krisis air, dan gangguan pangan melalui kesiapsiagaan, pengelolaan lingkungan yang lebih baik, serta tindakan pencegahan sejak sekarang.
Sumber:
Kompas.com, 9 Oktober 2026 — Peta Seluruh Dunia Merah, PBB Peringatkan Super El Niño Terkuat sejak 1950.



