BRIN Dorong PLTSa Masuk Wilayah 3T, Solusi Sampah Sekaligus Energi untuk Daerah Terpencil

Badan Riset dan Inovasi Nasional terus mendorong pengembangan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah sebagai solusi strategis dalam menangani persoalan sampah, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Upaya ini dinilai tidak hanya mampu mengurangi volume sampah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif yang berkelanjutan.
Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wiharja, menjelaskan bahwa pengembangan PLTSa pada dasarnya bertujuan untuk membuktikan bahwa sampah di Indonesia memiliki nilai guna yang signifikan apabila dikelola dengan teknologi yang tepat. Ia menekankan bahwa wilayah 3T justru menjadi lokasi yang sangat potensial untuk penerapan teknologi ini.
“Nah, saya setuju untuk di daerah 3T ini PLTSa bisa dilakukan di situ,” ujar Wiharja dalam sebuah diskusi di Jakarta.
Menurutnya, implementasi PLTSa di wilayah terpencil akan memberikan dampak ganda. Selain mengurangi timbunan sampah—termasuk sampah kiriman dari laut yang sering terbawa ombak ke pulau-pulau kecil—teknologi ini juga dapat menekan ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini menjadi sumber energi utama di banyak daerah terpencil.
Sebagai bukti konkret, BRIN telah mengembangkan PLTSa Merah Putih di TPA Bantar Gebang. Fasilitas ini mampu mengolah sekitar 100 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik hingga 700 kilowatt (kW). Keberhasilan proyek ini menjadi landasan penting untuk replikasi teknologi serupa di berbagai daerah lain di Indonesia, baik dalam skala yang sama maupun lebih besar.
Wiharja menegaskan bahwa pihaknya siap mendukung pemerintah dalam memperluas implementasi PLTSa. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan proyek sangat bergantung pada kesiapan dan perencanaan dari pemerintah daerah. Oleh karena itu, pemetaan masalah sampah di masing-masing wilayah menjadi langkah krusial agar teknologi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lokal.
“Pemerintah daerah perlu memahami karakteristik sampah di wilayahnya masing-masing agar PLTSa bisa diterapkan secara optimal,” ujarnya.
Di sisi lain, dukungan terhadap pengembangan PLTSa juga sejalan dengan arahan Prabowo Subianto yang meminta seluruh jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk lebih konsisten dalam menangani persoalan sampah nasional. Salah satu langkah konkret yang didorong adalah melalui Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Rapi, dan Indah (ASRI), yang berfokus pada penguatan kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah berkelanjutan.
Dengan sinergi antara lembaga riset, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya, pengembangan PLTSa di wilayah 3T diharapkan tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga menjadi pendorong kemandirian energi di daerah-daerah terpencil. Langkah ini sekaligus memperkuat komitmen Indonesia dalam menghadirkan pembangunan yang merata dan berkelanjutan di seluruh wilayah Nusantara.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




