Berita

China Ubah Sampah Jadi Listrik dengan Teknologi Canggih, Bisa Jadi Contoh untuk Dunia

Di sebuah pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Xinxiang, Provinsi Henan, lengan robot raksasa dengan lincah memindahkan ribuan ton sampah kota ke dalam tungku pembakaran. Di dalam insinerator berteknologi tinggi, suhu mencapai 1.000 derajat Celsius mengubah sampah menjadi energi listrik sekaligus solusi pengelolaan limbah berkelanjutan.

Dari TPA ke PLTSa: Revolusi Pengelolaan Sampah China

China telah melakukan transformasi besar-besaran dalam pengelolaan sampah. Jika dulu mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berisiko mencemari tanah dan air, kini negeri Tirai Bambu itu menjadi pelopor teknologi insinerasi sampah modern.

  • Lebih dari 1.000 PLTSa beroperasi di seluruh China
  • 1,1 juta ton sampah diolah per hari (setara 440 kolam renang Olimpiade)
  • Standar emisi setara Uni Eropa, bahkan lebih ketat di beberapa wilayah seperti Beijing dan Shanghai

“Dengan teknologi domestik, efisiensi termal kami naik 40% dalam 10 tahun terakhir,” kata Ma Kejun, ahli PLTSa di Shaanxi.

Teknologi Mutakhir: Bakar Sampah, Hasilkan Listrik Bersih

Prosesnya dimulai dengan fermentasi sampah, kemudian pembakaran pada suhu ultra-tinggi. Uap panasnya menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik, sementara sistem pemantauan real-time memastikan emisi gas beracun seperti dioksin 90% lebih rendah dari standar UE.

“PLTSa kami mengubah 1.800 ton sampah jadi listrik setiap hari,” ujar Wang Limin, pengelola PLTSa Xinxiang.

Ekspor Teknologi ke Seluruh Dunia

Keberhasilan China menarik minat global. Hingga 2025, perusahaan China telah terlibat dalam 79 proyek insinerasi sampah di Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika.

“Industri kami berkembang dari sekadar pembuangan sampah menjadi pemanfaatan sumber daya berkelanjutan,” kata Xie Yuhong, pakar lingkungan China.

Peringatan Ahli: Jangan Andalkan Insinerasi Saja!

Meski canggih, insinerasi bukan solusi utama.

  • Limbah plastik dari e-commerce dan pengiriman makanan terus meledak
  • Pembakaran plastik tetap hasilkan emisi karbon tinggi
  • Prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) harus jadi prioritas

“Insinerasi itu mahal, baik secara finansial maupun ekologis. Pengurangan sampah dari sumber jauh lebih penting,” tegas Zhang Jingning, aktivis lingkungan.

China sendiri telah mengadopsi Undang-Undang Ekonomi Sirkular sejak 2008. Langkah ini diharapkan bisa memperkuat pengelolaan sampah berkelanjutan di masa depan.

Sumber: Antara News

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO