Dahaga dalam Dekapan Asap yang Diderita Masyarakat Adat di Kalimantan

Kemarau panjang dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali membawa dampak serius bagi masyarakat di Kalimantan Barat.
Salah satu komunitas yang merasakan langsung dampaknya adalah Masyarakat Adat Binua Sunge Samak, anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).
Di wilayah mereka, krisis tidak datang dalam satu bentuk.
Air bersih semakin sulit diperoleh, asap semakin pekat, sungai mulai mengering, sementara kebakaran merambat ke lahan, perkebunan, peternakan, bahkan mendekati permukiman.
Bagi masyarakat adat yang menggantungkan hidup pada kondisi alam sekitar, kombinasi ini menjadi ancaman langsung terhadap kesehatan, kebutuhan dasar, dan mata pencaharian.
Ribuan Hotspot Masih Jadi Ancaman
Hingga September 2026, kondisi kekeringan dan kabut asap di Kalimantan Barat masih menjadi perhatian serius.
Pemantauan BPBD dan BMKG menunjukkan sebaran banyak titik panas di sejumlah wilayah, termasuk Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya.
Keberadaan hotspot tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko karhutla dan munculnya kabut asap yang dapat mengganggu jarak pandang maupun kualitas udara.
Sementara itu, data BNPB menyebut luas area terdampak karhutla di Kalimantan Barat telah mencapai puluhan ribu hektare.
Di tengah situasi tersebut, komunitas seperti Binua Sunge Samak menghadapi tekanan yang jauh melampaui persoalan kebakaran semata.
Krisis Air Bersih Jadi Masalah Mendesak
Salah satu dampak paling berat adalah krisis air bersih.
Musim kemarau panjang membuat sumber air semakin terbatas.
Untuk membantu warga, AMAN Kalimantan Barat menyalurkan bantuan darurat berupa air bersih, alat penyemprot, dan masker.
Bantuan air diprioritaskan ke dua lokasi utama, yakni Kampung Tapah dan Kampung Sangku.
Keduanya dipilih karena mengalami keterbatasan sumber air bersih yang serius.
Air Harus Didatangkan dari Luar Wilayah
Kondisi menjadi semakin sulit karena pasokan air tidak lagi mudah diperoleh dari sekitar permukiman.
Pengurus AMAN Kalimantan Barat harus mengambil air dari luar wilayah Kabupaten Kubu Raya, yakni dari kawasan perbatasan Kubu Raya dan Kabupaten Sanggau.
Ketua AMAN Kalimantan Barat, Tono, mengatakan wilayah tersebut masih memiliki cadangan air yang bisa dimanfaatkan untuk membantu masyarakat terdampak.
Situasi ini menunjukkan betapa rentannya masyarakat ketika sumber air lokal mengalami tekanan berkepanjangan.
Air Bukan Sekadar Kebutuhan Domestik
Bagi masyarakat adat, air tidak hanya digunakan untuk minum dan memasak.
Air juga berkaitan langsung dengan mata pencaharian, pangan, kebersihan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi.
Salah seorang pemuda adat Binua Sunge Samak, Alexius, mengatakan bantuan air bersih sangat membantu masyarakat.
Tanpa air, kebutuhan dasar seperti memasak, minum, dan mencuci menjadi terganggu.
Namun persoalannya lebih luas dari itu.
Sungai Mengering, Mata Pencaharian Ikut Terhenti
Sebagian masyarakat Binua Sunge Samak menggantungkan kehidupan dari aktivitas menangkap ikan di sungai.
Kemarau panjang menyebabkan aliran sungai menyusut bahkan mulai mengering.
Akibatnya, aktivitas menangkap ikan yang menjadi sumber pendapatan warga ikut terganggu.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa kekeringan tidak hanya merupakan persoalan lingkungan.
Ia juga merupakan persoalan ekonomi.
Ketika sungai kehilangan air, masyarakat kehilangan sumber penghidupan.
Karhutla Menambah Tekanan
Di tengah krisis air, kebakaran hutan dan lahan menambah tekanan.
Tokoh Masyarakat Adat Binua Sunge Samak, Petrus Muntai, menyebut api telah merambat ke wilayah Sungai Ambawang.
Kebakaran juga dilaporkan mencapai lahan perkebunan, area peternakan, serta lingkungan di sekitar rumah warga.
Situasi ini memperbesar risiko terhadap keselamatan masyarakat maupun aset yang menjadi sumber kehidupan sehari-hari.
Lahan Gambut Membuat Pemadaman Lebih Sulit
Sebagian titik kebakaran di wilayah Binua Sunge Samak terjadi pada lahan gambut.
Kebakaran gambut terkenal sulit dipadamkan karena api dapat bergerak di bawah permukaan.
Di atas tanah, api mungkin tampak kecil atau bahkan padam.
Namun bara dapat tetap bertahan di lapisan gambut.
Kondisi inilah yang membuat kabut asap dapat berlangsung lama.
Asap Jadi Ancaman Kesehatan
Selain air bersih, AMAN Kalimantan Barat juga membagikan masker jenis KN95 dan KF94 kepada warga.
Langkah ini dilakukan karena kabut asap cukup tebal di sekitar wilayah adat.
Paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.
Dalam kondisi berkepanjangan, dampaknya dapat mengganggu aktivitas sekolah, bekerja, hingga kegiatan ekonomi.
Ketika Kemarau dan Asap Datang Bersamaan
Kondisi yang dialami Binua Sunge Samak menunjukkan apa yang terjadi ketika dua krisis hadir sekaligus.
Kemarau menyebabkan air menyusut.
Vegetasi mengering.
Risiko kebakaran meningkat.
Ketika api muncul, asap menyebar.
Di saat yang sama, sumber air untuk kebutuhan masyarakat maupun pemadaman justru semakin terbatas.
Inilah yang membuat krisis menjadi berlapis.
Masyarakat Adat Sangat Bergantung pada Ekosistem Lokal
Bagi masyarakat perkotaan, kebutuhan air dapat dipenuhi melalui jaringan pipa atau pasokan komersial.
Namun banyak masyarakat adat bergantung langsung pada sungai, hutan, kebun, dan sumber daya lokal.
Karena itu, gangguan ekologis memiliki dampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari.
Jika sungai mengering, pangan terganggu.
Jika hutan terbakar, kualitas udara memburuk.
Jika lahan terbakar, sumber pendapatan hilang.
Hubungan ini menunjukkan pentingnya perlindungan wilayah adat dalam strategi ketahanan iklim.
Penanganan Karhutla Tidak Bisa Hanya Memadamkan Api
Petrus menekankan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman.
Pendekatan yang lebih menyeluruh perlu mencakup:
- perlindungan sumber air,
- keselamatan warga,
- pemulihan mata pencaharian,
- perlindungan lahan,
- dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.
Pendekatan seperti ini penting karena setelah api padam, dampaknya belum tentu selesai.
Masyarakat masih harus menghadapi kehilangan pendapatan, sumber pangan, hingga kerusakan lahan.
Pemulihan Ekonomi Harus Menjadi Bagian Respons Bencana
Karhutla sering diukur berdasarkan luas lahan terbakar atau jumlah hotspot.
Namun dampak ekonomi masyarakat jarang terlihat dalam angka tersebut.
Nelayan sungai kehilangan hasil tangkapan.
Petani kehilangan tanaman.
Peternak menghadapi risiko kehilangan ternak.
Pedagang kehilangan aktivitas ekonomi.
Karena itu, pemulihan pascabencana seharusnya tidak hanya memperbaiki lingkungan, tetapi juga mengembalikan kemampuan masyarakat untuk memperoleh penghasilan.
Sumber Air Harus Dilindungi
Krisis yang terjadi juga memperlihatkan pentingnya perlindungan sumber air.
Mata air, sungai, rawa, dan kawasan tangkapan air memiliki peran sangat penting selama musim kemarau.
Jika kawasan tersebut rusak, ketahanan masyarakat terhadap kekeringan akan semakin rendah.
Perlindungan sumber air karena itu harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang, bukan hanya tindakan darurat ketika krisis terjadi.
Pencegahan Karhutla Lebih Murah daripada Pemulihan
Biaya pemadaman kebakaran dapat sangat besar.
Belum lagi biaya kesehatan, kerugian ekonomi, kehilangan produksi, dan pemulihan lingkungan.
Karena itu, pencegahan jauh lebih efektif.
Patroli, pengawasan hotspot, pengelolaan gambut, pencegahan pembukaan lahan dengan api, dan kesiapan sumber air dapat mengurangi risiko sebelum kebakaran meluas.
Perubahan Iklim Membuat Ketahanan Lokal Semakin Penting
Perubahan pola musim membuat masyarakat perlu menghadapi kondisi yang semakin tidak pasti.
Kemarau dapat berlangsung lebih panjang.
Curah hujan dapat berubah.
Risiko kebakaran meningkat.
Dalam situasi seperti ini, ketahanan lokal menjadi sangat penting.
Komunitas harus memiliki akses air, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, kapasitas pemadaman, dan sumber ekonomi alternatif.
Masyarakat Adat Perlu Dilibatkan dalam Pengambilan Keputusan
Masyarakat adat bukan hanya korban dari krisis lingkungan.
Mereka juga memiliki pengetahuan lokal mengenai kondisi wilayah.
Mereka mengetahui sumber air.
Mereka mengetahui kawasan rawan kebakaran.
Mereka memahami perubahan sungai dan vegetasi.
Karena itu, kebijakan penanganan karhutla dan kekeringan akan lebih efektif jika melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan.
Jangan Menunggu Krisis Berikutnya
Bantuan air dan masker penting untuk kondisi darurat.
Namun solusi jangka panjang harus berjalan lebih jauh.
Sumber air perlu dipulihkan.
Lahan gambut harus dijaga tetap basah.
Kawasan rawan harus dipantau.
Ekonomi masyarakat perlu diperkuat.
Dan hak masyarakat terhadap wilayah hidupnya perlu dilindungi.
Jika tidak, siklus yang sama berpotensi terulang setiap musim kering.
Krisis Lingkungan Berarti Krisis Kehidupan
Kisah Binua Sunge Samak menunjukkan bahwa krisis lingkungan tidak pernah berhenti pada alam.
Ketika air menghilang, kehidupan masyarakat berubah.
Ketika sungai mengering, mata pencaharian berhenti.
Ketika hutan terbakar, udara menjadi ancaman.
Dan ketika lahan rusak, masa depan ekonomi komunitas ikut dipertaruhkan.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya menghitung berapa luas lahan yang berhasil dipadamkan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
apakah masyarakat yang terdampak mampu kembali hidup aman dan mandiri setelah api padam?
Untuk Masyarakat Adat Binua Sunge Samak, air bersih, udara sehat, dan wilayah yang terlindungi bukan sekadar isu lingkungan.
Ketiganya adalah fondasi kehidupan.




