Artikel

Api Membakar Hutan di Papua dan Maluku, Nelayan Sulawesi Tenggara Kehilangan Tangkapan

Api membakar hutan dan lahan di Papua dan Maluku, tetapi sebagian dampaknya justru dirasakan ratusan hingga ribuan kilometer dari lokasi kebakaran oleh nelayan kecil di Sulawesi Tenggara. Asap bergerak mengikuti angin, menyeberangi laut dan mengaburkan cakrawala yang selama beberapa generasi menjadi bagian dari sistem navigasi nelayan tradisional. Ketika bukit, garis pantai dan pepohonan yang biasa digunakan sebagai penanda menghilang di balik kabut, nelayan kehilangan kemampuan menentukan titik-titik penangkapan ikan yang telah mereka kenali selama bertahun-tahun. Mereka mungkin tidak pernah membuka hutan, tidak pernah menyalakan api dan bahkan tinggal di pulau yang berbeda, tetapi pendapatan mereka tetap berkurang akibat kebakaran yang terjadi jauh dari tempat mereka mencari nafkah.

Kisah Akbar, nelayan berusia 41 tahun dari Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, memperlihatkan bagaimana bencana lingkungan dapat bergerak melampaui batas administratif dan ekosistem. Selama sekitar dua pekan pada Oktober 2026, cakrawala yang biasanya menjadi panduan nelayan berubah menjadi bentangan putih keabuan. Kabut asap menurunkan jarak pandang di perairan, sementara tanda-tanda alam yang selama ini digunakan nelayan untuk menentukan lokasi penangkapan ikan tidak lagi terlihat dengan jelas.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa kerugian karhutla tidak dapat dihitung hanya berdasarkan berapa hektare hutan yang terbakar. Api dapat berada di daratan Papua atau Maluku, asap bergerak melintasi laut, kemudian konsekuensi ekonominya muncul pada sebuah keluarga nelayan di Sulawesi Tenggara. Rantai dampaknya panjang dan tidak selalu terlihat pada peta kebakaran.

Bagi Nelayan Tradisional, Cakrawala Adalah Sistem Navigasi

Nelayan modern dengan kapal besar dapat menggunakan GPS, radar, fish finder, peta elektronik dan berbagai perangkat navigasi lainnya. Namun bagi banyak nelayan tradisional dengan perahu kecil, teknologi utama yang digunakan untuk mengenali laut masih berasal dari pengalaman yang diwariskan lintas generasi. Mereka membaca bentuk garis pantai, posisi bukit, pucuk pepohonan dan berbagai penanda lain di daratan untuk mengetahui posisi di laut.

Akbar menjelaskan sebuah metode yang dikenal sebagai galang, yaitu teknik triangulasi tradisional dengan menggunakan dua atau tiga penanda di daratan untuk menentukan posisi tertentu di perairan. Nelayan menarik garis imajiner berdasarkan posisi beberapa landmark. Ketika titik-titik tersebut membentuk konfigurasi tertentu, mereka mengetahui bahwa perahu berada di lokasi yang selama ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya ikan atau area pemancingan yang produktif.

Sistem tersebut mungkin terlihat sederhana dibandingkan GPS, tetapi sesungguhnya merupakan bentuk pengetahuan spasial yang sangat kompleks. Seorang nelayan harus mengingat hubungan antara posisi perahu, bentuk daratan, kondisi laut dan lokasi penangkapan ikan. Pengetahuan itu dibangun melalui pengalaman bertahun-tahun dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Masalah muncul ketika kabut asap menutup cakrawala. Bukit yang biasanya terlihat menghilang, garis pantai menjadi samar dan pepohonan yang digunakan sebagai penanda tidak dapat dibedakan. Sistem navigasi yang selama puluhan tahun bekerja dengan baik tiba-tiba kehilangan salah satu komponen utamanya: jarak pandang.

Ketika “Kompas Alam” Menghilang di Balik Asap

Bagi nelayan seperti Akbar, kabut asap bukan sekadar gangguan visual. Ketika penanda di daratan tidak terlihat, mereka kehilangan referensi untuk menentukan titik penangkapan ikan. Perahu dapat berada di laut yang sama, tetapi tanpa mengetahui posisi yang tepat terhadap landmark di daratan, nelayan kesulitan kembali ke titik-titik yang sebelumnya memberikan hasil tangkapan baik.

Akibatnya sangat nyata. Waktu melaut menjadi kurang efisien karena nelayan harus mencari lokasi lebih lama. Bahan bakar tetap digunakan, tenaga tetap dikeluarkan dan waktu tetap berjalan, tetapi peluang mendapatkan ikan menurun ketika titik penangkapan tidak dapat ditemukan dengan tepat.

Akbar mengatakan hasil tangkapannya berkurang sangat signifikan sejak kabut asap menyelimuti perairan. Pernyataan tersebut penting karena menunjukkan bagaimana perubahan kualitas atmosfer dapat langsung masuk ke dalam ekonomi rumah tangga nelayan.

Bagi nelayan kecil, kehilangan sebagian hasil tangkapan bukan sekadar angka produksi perikanan. Pendapatan harian dapat digunakan untuk membeli makanan, bahan bakar, kebutuhan sekolah anak, memperbaiki perahu dan memenuhi berbagai kebutuhan keluarga. Ketika hasil tangkapan menurun selama beberapa hari atau minggu, tekanan ekonomi dapat segera terasa.

Asap dari Papua dan Maluku Menyeberangi Laut

BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kendari mengonfirmasi bahwa kabut asap yang menyelimuti sebagian Sulawesi Tenggara tidak seluruhnya berasal dari kebakaran lokal. Pola angin membuat asap dari wilayah lain dapat bergerak memasuki provinsi tersebut.

Untuk kawasan timur Sulawesi Tenggara seperti Kendari, Buton dan Wakatobi, sebaran asap pada periode tersebut didominasi kiriman dari Papua Selatan dan Maluku. Sementara wilayah barat seperti Kolaka Utara juga dapat menerima partikulat asap dari arah Kalimantan.

Kondisi tersebut menunjukkan betapa luasnya wilayah yang dapat dipengaruhi sebuah kebakaran.

Api mungkin mempunyai koordinat.

Asap tidak.

Ketika partikel hasil pembakaran masuk ke atmosfer, pergerakannya dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin serta dinamika atmosfer lainnya. Dalam kondisi tertentu, asap dapat bergerak sangat jauh dari sumber kebakaran dan melintasi batas kabupaten, provinsi bahkan pulau.

Karena itu, masyarakat yang tidak tinggal di sekitar kawasan hutan yang terbakar tetap dapat menerima dampaknya.

Sulawesi Tenggara Berada di Jalur Pergerakan Asap

Pada pertengahan Oktober 2026, kondisi asap di Sulawesi Tenggara mengalami perubahan dari hari ke hari mengikuti dinamika atmosfer. BMKG mencatat bahwa pada 15–16 Oktober kondisi relatif lebih cerah dan kualitas udara membaik, tetapi pada 17–19 Oktober partikulat asap kembali memasuki wilayah Sulawesi Tenggara.

BMKG juga mencatat jarak pandang di sejumlah wilayah terdampak dapat turun hingga di bawah lima kilometer. Dalam kondisi tertentu, jarak pandang bahkan dilaporkan lebih rendah.

Bagi masyarakat daratan, kabut seperti ini mungkin terutama terasa sebagai langit yang terlihat kusam, bau asap atau berkurangnya pandangan terhadap bangunan dan pegunungan. Namun bagi masyarakat yang bekerja di laut, penurunan jarak pandang mempunyai konsekuensi berbeda.

Laut tidak mempunyai marka jalan.

Tidak ada garis putih yang menunjukkan jalur perahu. Tidak ada lampu lalu lintas yang mengatur persimpangan. Bagi nelayan kecil yang menggunakan penanda alam sebagai navigasi, kemampuan melihat daratan merupakan salah satu unsur keselamatan sekaligus produktivitas.

Ketika jarak pandang berkurang, persoalannya bukan hanya berapa banyak ikan yang dapat ditangkap, tetapi juga seberapa aman mereka dapat berlayar.

Kabut Asap Menjadi Risiko Keselamatan Pelayaran

BMKG secara khusus mengingatkan pengguna transportasi laut agar meningkatkan kewaspadaan ketika kabut asap mengurangi jarak pandang. Kapal dan perahu disarankan menyalakan lampu ketika visibilitas menurun secara signifikan untuk membantu mengurangi risiko kecelakaan.

Peringatan tersebut mempunyai arti khusus bagi nelayan tradisional. Kapal besar mungkin dilengkapi radar, Automatic Identification System, GPS dan sistem komunikasi yang relatif lengkap. Sebaliknya, perahu kecil sering mempunyai perangkat navigasi dan keselamatan yang jauh lebih terbatas.

Ketika jarak pandang berkurang, kemampuan nelayan melihat kapal lain, garis pantai atau kondisi di depan perahu ikut menurun. Risiko navigasi meningkat, terlebih apabila mereka harus beroperasi pada pagi hari, malam hari atau di perairan yang menjadi jalur kapal.

Karena itu, kabut asap akibat karhutla sebenarnya juga dapat menjadi persoalan keselamatan maritim.

Kebakaran terjadi di hutan.

Risikonya dapat muncul di laut.

Karhutla Menghubungkan Hutan, Atmosfer dan Laut dalam Satu Rantai Dampak

Kasus Sulawesi Tenggara memperlihatkan bahwa pembagian lingkungan menjadi sektor hutan, udara dan laut sering kali hanya ada dalam administrasi manusia. Di alam, ketiganya merupakan sistem yang saling terhubung.

Ketika hutan terbakar, material hasil pembakaran masuk ke atmosfer. Angin membawa partikulat melintasi wilayah. Ketika asap bergerak ke atas perairan, jarak pandang nelayan berkurang. Ketika nelayan kehilangan kemampuan menemukan titik penangkapan, hasil tangkapan dan pendapatan mereka dapat menurun.

Rantainya dapat dituliskan dengan sederhana:

Karhutla → asap → angin → penurunan jarak pandang → navigasi nelayan terganggu → titik penangkapan sulit ditemukan → hasil tangkapan berkurang → pendapatan keluarga menurun.

Rantai tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pencegahan karhutla sesungguhnya tidak hanya melindungi hutan. Ia juga melindungi kesehatan masyarakat, keselamatan transportasi, ekonomi pesisir dan mata pencaharian masyarakat yang bahkan tinggal jauh dari kawasan terbakar.

Nelayan yang Tidak Membakar Hutan Ikut Membayar Biayanya

Ada persoalan keadilan lingkungan yang sangat jelas dalam kasus ini. Nelayan Desa Wawatu tidak harus mempunyai hubungan apa pun dengan aktivitas penggunaan lahan di Papua, Maluku ataupun Kalimantan untuk menerima dampak kebakaran di wilayah tersebut.

Mereka tidak mengambil keputusan mengenai pengelolaan hutan di pulau lain. Mereka tidak mempunyai kewenangan menentukan bagaimana sebuah kawasan dikelola. Mereka tidak dapat memadamkan kebakaran yang berada ratusan kilometer dari desa mereka.

Namun ketika asap bergerak mengikuti angin, mereka kehilangan sesuatu yang sangat nyata: kemampuan mencari nafkah secara normal.

Inilah salah satu karakter utama pencemaran udara. Pihak yang menerima dampak tidak selalu merupakan pihak yang menghasilkan pencemaran.

Karena itu, kerugian akibat karhutla seharusnya tidak hanya dihitung di sekitar lokasi kebakaran. Wilayah penerima asap juga perlu masuk dalam penilaian dampak.

Kerugian Karhutla Tidak Berhenti pada Hektare yang Terbakar

Setiap musim karhutla, perhatian publik biasanya tertuju pada tiga angka utama: jumlah hotspot, luas lahan terbakar dan jumlah personel pemadam. Ketiga indikator tersebut memang penting, tetapi belum menggambarkan seluruh biaya yang ditanggung masyarakat.

Ketika asap bergerak ke wilayah lain, muncul biaya tambahan yang tersebar di banyak sektor. Masyarakat membeli masker, aktivitas sekolah dapat terganggu, fasilitas kesehatan menghadapi tambahan keluhan pernapasan, penerbangan dan pelayaran membutuhkan kewaspadaan lebih besar, pekerja luar ruang menghadapi paparan, sementara nelayan dapat kehilangan hasil tangkapan.

Sebagian kerugian tersebut tidak pernah muncul dalam statistik kebakaran.

Jika seorang nelayan biasanya memperoleh hasil tangkapan tertentu tetapi selama beberapa hari gagal menemukan lokasi ikan akibat jarak pandang yang buruk, kehilangan pendapatannya mungkin tidak pernah tercatat sebagai “kerugian karhutla”. Namun bagi keluarganya, kerugian itu nyata.

Karena itu, perhitungan dampak karhutla perlu bergerak dari pendekatan berbasis area terbakar menuju pendekatan berbasis rantai dampak.

Pengetahuan Tradisional Nelayan Perlu Dilindungi Sekaligus Diperkuat Teknologi

Kisah metode galang juga memberikan pelajaran lain yang menarik. Pengetahuan tradisional bukan sesuatu yang harus ditinggalkan hanya karena teknologi modern tersedia. Kemampuan membaca garis pantai, posisi bukit, arah angin, arus dan berbagai tanda alam merupakan kekayaan pengetahuan masyarakat pesisir yang terbentuk melalui pengalaman panjang.

Namun perubahan lingkungan memperlihatkan bahwa sistem tersebut dapat mempunyai kerentanan. Ketika kabut asap menghilangkan landmark, nelayan kehilangan referensi navigasi.

Karena itu, teknologi dapat digunakan untuk memperkuat, bukan menggantikan, pengetahuan tradisional.

GPS sederhana, aplikasi navigasi yang dapat digunakan tanpa koneksi internet, kompas, radio komunikasi, lampu navigasi dan pelatihan keselamatan dapat membantu nelayan mempertahankan kemampuan beroperasi ketika kondisi visual berubah.

Program seperti Sekolah Lapang Cuaca Nelayan menjadi penting karena menghubungkan pengetahuan masyarakat dengan informasi meteorologi modern. Nelayan dapat memahami prakiraan cuaca, arah angin, gelombang dan berbagai risiko atmosfer sebelum memutuskan untuk melaut.

Dalam kondisi kabut asap lintas pulau, kemampuan membaca informasi tersebut menjadi semakin penting.

Informasi Asap Harus Sampai kepada Nelayan Sebelum Mereka Berangkat

Peringatan kabut asap sering kali disampaikan melalui kanal informasi cuaca umum. Namun masyarakat pesisir membutuhkan informasi yang diterjemahkan langsung ke dalam keputusan operasional: apakah aman melaut, bagaimana jarak pandang diperkirakan, wilayah perairan mana yang berpotensi mengalami kabut lebih pekat dan kapan kondisi diperkirakan membaik.

Sistem informasi yang baik memungkinkan nelayan mengambil keputusan sebelum mengeluarkan bahan bakar dan tenaga.

Jika kabut diperkirakan sangat pekat pada pagi hari tetapi membaik pada siang atau sore, informasi tersebut dapat membantu menentukan waktu keberangkatan. Jika wilayah tertentu mempunyai visibilitas sangat rendah, nelayan dapat mempertimbangkan rute lain apabila memungkinkan.

Dengan demikian, informasi meteorologi bukan sekadar prakiraan cuaca. Bagi masyarakat pesisir, informasi tersebut dapat menjadi alat perlindungan ekonomi dan keselamatan.

Jangan Salah Menyimpulkan bahwa Asap Membuat Ikan Menghilang

Ada satu batas penting dalam membaca kasus ini. Berdasarkan laporan Ekuatorial, penurunan tangkapan yang dialami Akbar terutama dijelaskan melalui gangguan terhadap kemampuan nelayan menemukan titik penangkapan akibat berkurangnya jarak pandang. Karena landmark tidak terlihat, teknik triangulasi tradisional tidak dapat digunakan secara normal sehingga nelayan kesulitan menemukan lokasi ikan.

Karena itu, tidak tepat apabila kasus ini langsung disimpulkan sebagai bukti bahwa asap karhutla menyebabkan populasi ikan di perairan Sulawesi Tenggara berkurang.

Untuk menyatakan adanya dampak langsung partikulat asap terhadap ekosistem laut, produktivitas perairan atau populasi ikan dibutuhkan penelitian tersendiri dengan data kualitas air, deposisi partikulat, kondisi ekosistem dan populasi ikan.

Yang sudah terlihat dari laporan tersebut adalah dampak yang lebih langsung dan dapat dijelaskan: asap mengurangi jarak pandang, jarak pandang yang buruk mengganggu navigasi tradisional, dan gangguan navigasi membuat nelayan lebih sulit menemukan lokasi penangkapan.

Pembedaan ini penting agar persoalan lingkungan dibicarakan berdasarkan bukti, bukan asumsi.

Karhutla Lokal Membuat Persoalan Semakin Kompleks

Sulawesi Tenggara juga bukan hanya penerima asap dari wilayah lain. BMKG mendeteksi ratusan titik panas di provinsi tersebut selama periode Oktober 2026. Artinya, kabut yang dirasakan masyarakat dapat merupakan kombinasi antara asap kiriman dan sumber lokal.

Kondisi ini menunjukkan betapa kompleksnya penanganan pencemaran udara regional. Menunjuk satu wilayah sebagai satu-satunya sumber tidak selalu tepat karena arah angin berubah, hotspot muncul dan padam, sementara konsentrasi partikulat berfluktuasi.

Karena itu, teknologi satelit, pengamatan permukaan dan analisis meteorologi menjadi sangat penting untuk mengetahui dari mana asap berasal dan ke mana ia bergerak.

Informasi semacam ini juga diperlukan agar respons kebijakan tidak didasarkan pada dugaan.

Angin Tidak Mengenal Batas Provinsi

Administrasi pemerintahan mempunyai batas yang jelas. Ada Provinsi Papua Selatan, Maluku, Sulawesi Tenggara dan Kalimantan. Namun atmosfer tidak mengikuti garis tersebut.

Ketika angin bergerak dari timur menuju barat, asap ikut bergerak bersamanya.

Kondisi tersebut membuat pencegahan karhutla tidak dapat hanya dipandang sebagai kepentingan pemerintah daerah tempat kebakaran terjadi. Api yang tidak terkendali di satu wilayah dapat menimbulkan konsekuensi bagi daerah lain.

Koordinasi nasional menjadi penting karena pemerintah daerah penerima asap mempunyai kemampuan terbatas untuk mengatasi sumber pencemaran yang berada di luar wilayah kewenangannya.

Sulawesi Tenggara dapat membagikan masker, memberikan informasi kualitas udara dan memperingatkan nelayan, tetapi pemerintah daerah tersebut tidak dapat sendirian memadamkan kebakaran di Papua Selatan atau Maluku.

Pencegahan di daerah sumber tetap menjadi perlindungan paling efektif bagi daerah penerima.

Laut yang Terlihat Kosong Sebenarnya Penuh dengan Pengetahuan

Kisah Akbar juga mengingatkan bahwa laut yang terlihat kosong dari daratan sesungguhnya mempunyai “peta” yang sangat detail di dalam ingatan masyarakat pesisir. Nelayan mengetahui lokasi terumbu, kedalaman tertentu, arah arus, tempat ikan biasa berkumpul dan hubungan titik-titik tersebut dengan penanda di daratan.

Peta tersebut mungkin tidak dicetak di atas kertas.

Namun ia hidup di dalam pengalaman.

Ketika kabut menutup cakrawala, yang hilang bukan hanya pandangan beberapa kilometer ke depan. Nelayan untuk sementara kehilangan akses terhadap sebagian peta pengetahuan yang selama ini membantu mereka mencari nafkah.

Itulah mengapa dampak pencemaran udara terhadap masyarakat tradisional dapat berbeda dengan masyarakat perkotaan.

Sebuah gedung yang hilang dari pandangan akibat kabut mungkin hanya mengurangi estetika kota. Sebuah bukit yang hilang dari pandangan nelayan dapat berarti hilangnya koordinat tempat ia mencari ikan.

Biaya Pencegahan Kebakaran Harus Dibandingkan dengan Kerugian yang Menyebar

Pencegahan karhutla membutuhkan biaya. Pemerintah harus membiayai patroli, pengawasan, pengelolaan gambut, restorasi, kesiapsiagaan desa, peralatan pemadam, sistem peringatan dini dan berbagai kegiatan lainnya.

Namun pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya berapa mahal biaya pencegahan tersebut.

Kita juga perlu menghitung berapa mahal biaya ketika pencegahan gagal.

Biayanya muncul pada kesehatan masyarakat di daerah terdampak asap, operasi pemadaman, pendidikan, transportasi, penerbangan, pariwisata, produktivitas pekerja dan, seperti yang diperlihatkan kasus Sulawesi Tenggara, pendapatan nelayan kecil.

Semakin jauh asap bergerak, semakin luas pula distribusi kerugiannya.

Dalam perspektif ini, anggaran pencegahan karhutla sebenarnya merupakan investasi lintas sektor. Uang yang digunakan menjaga hutan dari kebakaran dapat sekaligus melindungi kesehatan, transportasi dan ekonomi masyarakat di wilayah lain.

Nelayan Wawatu Memperlihatkan Wajah Lain Korban Karhutla

Ketika berbicara tentang korban kebakaran hutan, bayangan pertama biasanya adalah masyarakat yang rumahnya berada dekat lokasi kebakaran, petugas yang berjuang memadamkan api atau warga kota yang harus menggunakan masker akibat asap.

Akbar dan nelayan Desa Wawatu memperluas definisi tersebut.

Mereka menunjukkan bahwa seseorang dapat menjadi korban ekonomi karhutla tanpa pernah melihat api.

Yang mereka lihat hanya cakrawala yang menghilang.

Yang mereka rasakan adalah titik penangkapan yang semakin sulit ditemukan.

Dan yang kemudian mereka bawa pulang adalah hasil tangkapan yang lebih sedikit.

Tidak ada kobaran api di atas perahu mereka, tetapi konsekuensi kebakaran tetap masuk ke dalam ekonomi rumah tangga.

Hutan yang Terbakar di Satu Pulau Bisa Mengosongkan Perahu Nelayan di Pulau Lain

Inilah pelajaran paling kuat dari kabut asap Sulawesi Tenggara pada Oktober 2026. Krisis ekologis tidak bekerja berdasarkan pembagian sektor yang kita buat di atas kertas. Kebakaran hutan bukan hanya masalah kehutanan. Asap bukan hanya masalah kualitas udara. Jarak pandang bukan hanya masalah meteorologi. Dan berkurangnya tangkapan nelayan bukan semata persoalan perikanan.

Semuanya dapat merupakan bagian dari satu rantai sebab dan akibat.

Hutan terbakar di Papua dan Maluku. Partikel hasil pembakaran masuk ke atmosfer. Angin membawanya melintasi laut. Kabut menutupi Sulawesi Tenggara. Bukit dan garis pantai menghilang dari pandangan. Nelayan kehilangan “kompas alam”. Titik penangkapan sulit ditemukan. Hasil tangkapan berkurang. Pendapatan keluarga ikut menurun.

Satu kebakaran dapat menghasilkan kerugian pada banyak tempat yang bahkan tidak pernah tersentuh api.

Karena itu, ketika kita menghitung biaya karhutla, jangan hanya menghitung pohon yang hangus dan hektare lahan yang terbakar. Hitung pula anak yang menghirup asap, penerbangan yang terganggu, pekerja yang kehilangan produktivitas, kapal yang menghadapi visibilitas rendah dan nelayan yang pulang membawa ikan lebih sedikit.

Akbar dan nelayan Wawatu mungkin berada jauh dari hutan yang terbakar. Namun atmosfer menghubungkan mereka dengan kebakaran tersebut.

Api mempunyai lokasi, tetapi dampaknya tidak mengenal batas. Hutan dapat terbakar di satu pulau, sementara periuk nasi masyarakat di pulau lain ikut kehilangan isinya.

Itulah mengapa mencegah karhutla bukan hanya pekerjaan untuk menyelamatkan hutan. Ia juga merupakan pekerjaan untuk menjaga udara, keselamatan, laut dan penghidupan masyarakat yang mungkin tinggal ratusan hingga ribuan kilometer dari titik api.

Ketika hutan dijaga agar tidak terbakar, yang diselamatkan bukan hanya pepohonan di lokasi tersebut. Bisa jadi yang ikut diselamatkan adalah tangkapan seorang nelayan kecil di seberang lautan yang bahkan tidak pernah mengetahui siapa yang telah menjaga hutan itu tetap berdiri.


Sumber

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO