Berita

Dari Komponen Otomotif ke Pengolahan Sampah, PART Kembangkan Mesin SOMYA untuk Ubah Sampah Organik Jadi Kompos

Persoalan sampah perkotaan yang semakin mendesak mulai membuka peluang bisnis baru bagi industri manufaktur. PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART), perusahaan yang selama ini dikenal bergerak di bidang manufaktur komponen otomotif, mulai memperluas portofolionya ke sektor pengelolaan sampah melalui pengembangan mesin pengolah sampah organik bernama SOMYA. Teknologi rapid digester tersebut dirancang untuk mengolah sampah organik dari sumbernya menjadi material kompos dalam waktu relatif singkat, sehingga volume sampah yang harus dikirim menuju tempat pemrosesan akhir dapat dikurangi.

Langkah PART memasuki sektor pengelolaan sampah dilakukan melalui kolaborasi dengan PT Enviro Mas Sejahtera. Kerja sama tersebut menggabungkan kemampuan manufaktur yang dimiliki PART dengan teknologi pengolahan lingkungan untuk mengembangkan mesin dan peralatan yang dapat digunakan di luar industri otomotif.

Bagi PART, pengembangan SOMYA merupakan bagian dari strategi diversifikasi bisnis. Perseroan tetap mempertahankan komponen otomotif roda dua dan roda empat sebagai kegiatan usaha utamanya, tetapi pada saat bersamaan mulai menjajaki sumber pertumbuhan baru dari produk manufaktur non-otomotif.

Pilihan untuk masuk ke sektor pengelolaan sampah juga tidak terlepas dari besarnya kebutuhan akan teknologi yang mampu mengurangi beban sistem persampahan perkotaan. Selama sampah terus dikumpulkan dalam keadaan tercampur dan seluruhnya diangkut menuju tempat pemrosesan akhir, pemerintah daerah akan terus menghadapi persoalan kapasitas TPA, kebutuhan armada pengangkut, biaya operasional, hingga dampak lingkungan dari penumpukan sampah.

SOMYA Dirancang Mengolah Sampah Organik dari Hulu

SOMYA dikembangkan sebagai mesin rapid digester yang ditujukan untuk mengolah sampah organik lebih dekat dengan sumber timbulannya. Pendekatan ini berbeda dengan sistem konvensional yang mengandalkan pengumpulan sampah terlebih dahulu sebelum seluruh material dibawa menuju fasilitas pengolahan atau tempat pemrosesan akhir.

Menurut perusahaan, SOMYA dapat mengolah sampah organik menjadi kompos dalam waktu sekitar delapan jam. Proses tersebut juga diklaim mampu mengurangi volume sampah organik hingga 95 persen, terutama melalui pengurangan kandungan air yang terdapat dalam material organik.

Angka tersebut merupakan klaim teknologi dari pihak pengembang sehingga dalam penerapan pada skala yang lebih luas tetap perlu dilihat berdasarkan karakteristik sampah yang masuk, kapasitas mesin, kebutuhan energi, kualitas produk keluaran, biaya operasional, kebutuhan operator, serta hasil pengujian teknis pada kondisi penggunaan sebenarnya.

Meski demikian, gagasan mengolah sampah organik di tingkat hulu memiliki relevansi yang besar bagi sistem persampahan. Sampah organik yang tidak dipisahkan sejak awal akan bercampur dengan plastik, kertas, logam, dan berbagai material lainnya sehingga membuat proses pemilahan di tahap berikutnya menjadi lebih sulit.

Sampah Organik Menjadi Salah Satu Persoalan Utama Perkotaan

Sampah organik sering dianggap lebih sederhana dibandingkan plastik karena dapat terurai secara alami. Namun ketika sampah makanan dan material organik lainnya terkumpul dalam jumlah besar dan tidak dikelola dengan baik, dampak lingkungannya juga dapat menjadi serius.

Material organik yang membusuk dapat menghasilkan bau dan air lindi yang perlu dikelola agar tidak mencemari lingkungan. Dalam kondisi minim oksigen seperti yang dapat terjadi pada timbunan sampah di TPA, proses penguraian material organik juga dapat menghasilkan metana, salah satu gas rumah kaca yang memiliki pengaruh kuat terhadap pemanasan global.

Karena itu, mengurangi jumlah sampah organik yang masuk ke TPA merupakan salah satu strategi penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

Pendekatan tersebut sekaligus mengubah paradigma pengelolaan dari pola yang berorientasi pada pembuangan menjadi pengolahan. Sampah organik tidak lagi hanya dilihat sebagai material yang harus diangkut dan ditimbun, melainkan sebagai bahan yang berpotensi diolah kembali menjadi produk seperti kompos apabila memenuhi persyaratan yang dibutuhkan.

Pengolahan dari Sumber Bisa Mengurangi Beban Transportasi

Salah satu persoalan yang jarang terlihat masyarakat adalah besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk memindahkan sampah dari tempat asalnya menuju TPA. Setiap hari, truk harus berkeliling mengumpulkan sampah dari permukiman, pasar, pusat perdagangan, perkantoran, dan berbagai fasilitas lainnya.

Semakin besar volume sampah, semakin besar pula kebutuhan armada, bahan bakar, tenaga kerja, waktu perjalanan, dan kapasitas fasilitas pembuangan.

Jika sebagian besar sampah organik dapat diselesaikan lebih dekat dengan sumbernya, volume material yang harus diangkut berpotensi berkurang secara signifikan. Dalam skenario seperti ini, fasilitas pengolahan skala kawasan dapat ditempatkan di pasar, perumahan, hotel, restoran, pusat komersial, fasilitas publik, atau kawasan lain yang menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar.

Namun keberhasilan model tersebut bergantung pada pemilahan. Mesin pengolah sampah organik tidak akan bekerja optimal apabila material yang masuk masih bercampur dengan plastik, kaca, logam, baterai, popok, atau berbagai residu lainnya.

Dengan demikian, teknologi tidak menggantikan kebutuhan untuk memilah sampah dari sumber. Teknologi justru membutuhkan sistem pemilahan yang baik agar dapat bekerja secara efektif.

Wali Kota Tangerang Tinjau Teknologi SOMYA

Potensi penerapan SOMYA juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Tangerang. Wali Kota Tangerang Sachrudin telah meninjau langsung mesin tersebut untuk melihat teknologi, fungsi, serta kemungkinan pemanfaatannya dalam mendukung pengelolaan sampah perkotaan.

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi pengembang untuk memperkenalkan teknologi sekaligus memahami kebutuhan pemerintah daerah dalam menangani sampah. Meski demikian, peninjauan teknologi tidak otomatis berarti pemerintah daerah telah memutuskan melakukan pengadaan atau menerapkan mesin tersebut.

Penerapan lebih lanjut tetap membutuhkan evaluasi teknis dan ekonomi, termasuk kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kapasitas yang dibutuhkan, biaya investasi, biaya operasional, kebutuhan sumber daya manusia, mekanisme pemeliharaan, serta sistem pemanfaatan hasil pengolahan.

Aspek tersebut sangat penting karena persoalan teknologi pengolahan sampah tidak hanya berkaitan dengan apakah sebuah mesin mampu memproses material. Pemerintah atau pengelola juga harus memastikan sistem tersebut dapat beroperasi secara konsisten selama bertahun-tahun.

Mesin Bukan Satu-satunya Jawaban Persoalan Sampah

Indonesia telah mengenal berbagai teknologi pengolahan sampah, mulai dari komposting sederhana, biodigester, fasilitas material recovery, RDF, pengolahan termal, hingga berbagai mesin pengolahan skala kecil dan menengah.

Setiap teknologi memiliki fungsi, biaya, kebutuhan operasional, serta jenis sampah yang berbeda.

Karena itu, tidak ada satu mesin yang dapat menjadi solusi tunggal bagi seluruh persoalan sampah sebuah kota.

Teknologi seperti SOMYA akan menjadi lebih relevan apabila ditempatkan sebagai bagian dari sistem yang lebih luas. Sampah harus dipilah dari sumber, material organik diarahkan menuju pengolahan biologis atau teknologi yang sesuai, material anorganik bernilai masuk ke rantai penggunaan kembali dan daur ulang, sedangkan residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan baru diarahkan ke fasilitas pengolahan atau pembuangan akhir.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi berfungsi sebagai salah satu mata rantai dalam sistem, bukan menggantikan seluruh sistem persampahan.

Kualitas Kompos Juga Harus Menjadi Perhatian

Kecepatan pengolahan merupakan salah satu aspek menarik dari teknologi rapid digester, tetapi keberhasilan pengolahan sampah organik tidak cukup hanya diukur dari seberapa cepat volume sampah berkurang.

Pertanyaan berikutnya adalah mengenai kualitas material hasil proses.

Jika keluaran akan digunakan sebagai kompos atau pembenah tanah, kualitasnya perlu memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku. Kandungan bahan organik, kadar air, tingkat kematangan, unsur hara, kontaminan, serta parameter lainnya menjadi penting.

Hal ini kembali menunjukkan pentingnya pemilahan dari sumber. Sampah organik yang telah tercampur dengan material berbahaya atau berbagai kontaminan dapat memengaruhi kualitas produk akhir.

Karena itu, teknologi pengolahan seharusnya berjalan bersama sistem kontrol kualitas sejak material pertama kali masuk hingga produk akhirnya dimanfaatkan.

PART Melihat Peluang Bisnis di Luar Otomotif

Dari perspektif bisnis, SOMYA memberikan peluang bagi PART untuk memanfaatkan kemampuan manufaktur yang telah dimiliki guna memasuki sektor baru. Perusahaan tidak harus membangun seluruh kompetensi produksi dari awal karena sebagian kemampuan dalam fabrikasi, produksi komponen, kontrol kualitas, dan pengelolaan manufaktur dapat dialihkan untuk memproduksi peralatan industri non-otomotif.

Kolaborasi dengan perusahaan yang memiliki kompetensi di bidang lingkungan kemudian memungkinkan kemampuan manufaktur tersebut digunakan untuk menghasilkan teknologi pengolahan sampah.

Strategi seperti ini menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat menciptakan pasar baru bagi industri. Ketika pemerintah daerah, perusahaan, kawasan komersial, dan masyarakat membutuhkan solusi pengelolaan sampah, permintaan terhadap mesin, sensor, kendaraan, fasilitas pemilahan, teknologi pengolahan, serta berbagai layanan pendukung ikut berkembang.

Sampah dengan demikian bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga mulai menjadi bagian dari sektor ekonomi hijau.

Peluang Pasarnya Besar, tetapi Komersialisasi Tetap Harus Dibuktikan

Manajemen PART melihat pengembangan dan komersialisasi SOMYA sebagai peluang membangun sumber pendapatan tambahan dari segmen non-otomotif. Namun perseroan juga menegaskan kontribusi produk tersebut terhadap kinerja keuangan akan bergantung pada realisasi penjualan, perolehan kontrak, kesiapan kapasitas produksi, dan keberhasilan pengembangan pasar.

Pernyataan tersebut penting karena besarnya persoalan sampah tidak otomatis membuat seluruh teknologi pengolahan sampah menjadi bisnis yang berhasil.

Calon pengguna akan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari harga mesin, kapasitas pengolahan, biaya listrik atau energi, kebutuhan tenaga kerja, biaya suku cadang, layanan purnajual, umur ekonomis peralatan, kualitas hasil pengolahan, hingga biaya per ton sampah yang diproses.

Bagi pemerintah daerah, aspek pengadaan dan model pembiayaan juga menjadi pertimbangan. Sebuah teknologi mungkin bekerja dengan baik secara teknis, tetapi belum tentu ekonomis apabila biaya pengolahan per ton terlalu tinggi dibandingkan alternatif yang tersedia.

Karena itu, keberhasilan SOMYA dalam jangka panjang akan sangat bergantung pada kemampuan teknologi tersebut membuktikan kinerja operasional dan keekonomiannya di lapangan.

Sampah Membuka Pasar Baru bagi Industri Nasional

Masuknya perusahaan manufaktur seperti PART ke sektor pengelolaan sampah menunjukkan perubahan menarik dalam perkembangan industri lingkungan di Indonesia.

Selama ini persoalan sampah sering dilihat terutama sebagai tanggung jawab pemerintah daerah. Pemerintah mengumpulkan sampah, menyediakan truk, membangun TPS, dan mengoperasikan TPA.

Padahal transformasi sistem persampahan membutuhkan ekosistem industri yang jauh lebih luas. Dibutuhkan produsen mesin, perusahaan daur ulang, pengembang perangkat lunak, penyedia sensor, operator fasilitas, perusahaan logistik, produsen kompos, industri pengguna material daur ulang, hingga perusahaan teknologi yang mampu mengembangkan sistem pemantauan.

Jika ekosistem tersebut berkembang, belanja pengelolaan sampah tidak hanya menjadi biaya. Sebagian dapat berubah menjadi aktivitas ekonomi yang menciptakan lapangan kerja, industri baru, inovasi teknologi, dan pasar material sekunder.

Pengelolaan Sampah Harus Bergerak ke Hulu

Pengembangan SOMYA juga membawa kembali perhatian pada salah satu prinsip penting pengelolaan sampah: persoalan sebaiknya diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya.

Selama seluruh sampah rumah tangga dicampurkan kemudian dikirim menuju TPA, pemerintah sebenarnya hanya memindahkan persoalan dari satu tempat ke tempat lain.

Pendekatan yang lebih berkelanjutan adalah mencegah sampah terbentuk sebanyak mungkin, menggunakan kembali barang yang masih layak, memilah material yang dapat didaur ulang, serta mengolah sampah organik sebelum menjadi beban sistem hilir.

Dengan demikian, TPA menerima terutama residu yang memang sudah tidak dapat dimanfaatkan melalui sistem yang tersedia.

Model tersebut dapat memperpanjang umur operasional TPA sekaligus mengurangi kebutuhan transportasi dan tekanan lingkungan.

Peluang Besar Ada pada Sampah Organik

Perhatian industri terhadap sampah organik juga menarik karena selama ini diskusi ekonomi sirkular lebih sering berfokus pada plastik. Padahal sampah makanan dan material organik merupakan komponen penting dalam aliran sampah rumah tangga di banyak kota Indonesia.

Jika material organik dapat dipisahkan sejak dapur, restoran, hotel, pasar, kantin, dan fasilitas komersial lainnya, peluang pengolahannya menjadi jauh lebih besar.

Komposting merupakan salah satu pilihan. Teknologi biodigester dapat menjadi pilihan pada kondisi tertentu. Pengolahan biologis lainnya juga dapat digunakan sesuai karakteristik material dan skala fasilitas.

Rapid digester seperti SOMYA menawarkan pendekatan lain dengan tujuan mempercepat proses pengolahan.

Namun prinsip dasarnya tetap sama: sampah organik harus dipisahkan dari material lain sebelum kualitasnya rusak akibat pencampuran.

Teknologi Harus Diikuti Perubahan Sistem

Jika mesin pengolah ditempatkan di suatu kawasan tetapi masyarakat tetap mencampur seluruh jenis sampah, teknologi akan menghadapi masalah sejak awal. Operator harus kembali memilah material, kontaminasi meningkat, proses menjadi lebih mahal, dan kualitas produk akhirnya dapat menurun.

Karena itu, investasi teknologi idealnya diikuti investasi dalam perubahan perilaku.

Rumah tangga perlu mengetahui cara memilah.

Petugas pengangkut perlu memiliki sistem pengumpulan yang tidak mencampurkan kembali material yang telah dipisahkan.

Pengelola fasilitas perlu memiliki prosedur penerimaan.

Produk akhir harus mempunyai pengguna atau pasar.

Data jumlah sampah masuk dan hasil pengolahan juga perlu dicatat.

Jika rantai tersebut bekerja, barulah teknologi dapat memberikan dampak maksimal.

Dari Beban Kota Menjadi Peluang Ekonomi Hijau

Masuknya PART ke sektor pengelolaan sampah memperlihatkan bahwa krisis persampahan Indonesia juga mulai menciptakan peluang bagi inovasi industri.

Bagi pemerintah daerah, munculnya lebih banyak teknologi dapat memperluas pilihan solusi. Bagi perusahaan manufaktur, kebutuhan tersebut membuka pasar baru di luar bisnis konvensional. Bagi lingkungan, pengolahan sampah lebih dekat dengan sumber berpotensi mengurangi material yang harus dibawa menuju TPA.

Namun peluang tersebut tetap harus dibangun berdasarkan kinerja yang terukur. Klaim pengurangan volume perlu dibuktikan dalam operasi nyata, biaya pengolahan harus kompetitif, produk keluaran harus memiliki kualitas dan jalur pemanfaatan yang jelas, serta fasilitas harus dapat dipelihara dalam jangka panjang.

Sebab tantangan terbesar pengelolaan sampah Indonesia bukan sekadar membeli lebih banyak mesin, melainkan membangun sistem yang memastikan mesin tersebut benar-benar digunakan, dirawat, dan terintegrasi dengan pemilahan serta rantai pemanfaatan hasil pengolahan.

Jika hal tersebut dapat dilakukan, diversifikasi yang dilakukan PART melalui SOMYA dapat menjadi bagian dari tren yang lebih besar: semakin banyak industri nasional melihat persoalan lingkungan bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai ruang untuk menciptakan teknologi dan model bisnis baru.

Pada akhirnya, masa depan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan semakin luasnya TPA atau semakin banyaknya truk pengangkut. Kota membutuhkan sistem yang mampu mengurangi, memilah, dan mengolah sampah sebelum material tersebut berubah menjadi beban di hilir.

Di titik itulah teknologi pengolahan sampah organik seperti SOMYA akan diuji: bukan hanya dari seberapa cepat mesin bekerja, tetapi dari seberapa besar kemampuannya membantu mengurangi sampah yang benar-benar berakhir di TPA secara berkelanjutan.


Sumber: https://investor.id/market/457933/part-garap-peluang-di-sektor-pengelolaan-sampah

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO