Berita

Dari Lahan Terbakar Menuju Hutan Kembali: Gubernur Kalteng Mulai Pemulihan Karhutla dari Tumbang Nusa

Setelah berbulan-bulan Tumbang Nusa menjadi salah satu titik penting perjuangan menghadapi kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah, kini kawasan tersebut memasuki fase yang tidak kalah penting: pemulihan. Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin turun langsung melakukan penanaman pohon di kawasan Camp Peat, Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Langkah ini membawa pesan yang penting dalam penanganan karhutla: keberhasilan tidak seharusnya hanya diukur dari padamnya api dan hilangnya asap, tetapi juga dari kemampuan kita mengembalikan kehidupan ke kawasan yang telah terbakar dan memastikan kerusakan serupa tidak terus berulang.

Kegiatan penanaman tersebut merupakan bagian dari rehabilitasi lingkungan pascakarhutla sekaligus upaya membangun kesadaran bahwa perlindungan hutan membutuhkan keterlibatan pemerintah, TNI, masyarakat, komunitas dan berbagai unsur lainnya. Gubernur Agustiar Sabran menekankan bahwa penanganan karhutla harus berjalan bersama pencegahan dan pemulihan lingkungan, termasuk mengajak masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta bersama-sama menjaga kelestarian hutan Kalimantan Tengah.

Langkah tersebut patut mendapatkan perhatian karena Tumbang Nusa bukan sekadar lokasi penanaman pohon. Kawasan ini merupakan salah satu bentang gambut yang berulang kali menghadapi ancaman kebakaran dan pada 2026 menjadi salah satu lokasi penting penanganan karhutla di Kalimantan Tengah. Karena itu, pohon yang ditanam di sana bukan hanya simbol penghijauan, tetapi dapat menjadi titik awal untuk membicarakan pendekatan yang jauh lebih besar mengenai bagaimana kawasan gambut yang telah terbakar seharusnya dipulihkan.

Api Padam Bukan Akhir dari Penanganan Karhutla

Selama ini penanganan kebakaran hutan dan lahan sering kali mendapatkan perhatian terbesar ketika api sedang berkobar. Petugas dikerahkan, sumur bor digunakan, helikopter melakukan water bombing, operasi modifikasi cuaca dipertimbangkan, hotspot dipantau melalui satelit dan masyarakat diminta melindungi diri dari asap. Semua langkah tersebut sangat penting dalam kondisi darurat, tetapi setelah api berhasil dikendalikan terdapat fase berikutnya yang sering kali membutuhkan waktu jauh lebih panjang dibandingkan proses pemadaman, yaitu pemulihan ekosistem.

Kawasan yang terbakar tidak serta-merta kembali normal setelah hujan turun. Pohon yang mati tidak langsung tumbuh kembali, struktur vegetasi telah berubah, habitat satwa dapat hilang, permukaan tanah terbuka dan pada ekosistem gambut kondisi hidrologinya mungkin tetap mengalami gangguan. Apabila kawasan tersebut dibiarkan tanpa pemulihan dan pengawasan, risiko kebakaran berulang dapat tetap tinggi, terutama ketika musim kemarau berikutnya datang.

Karena itu, penanaman pohon yang dilakukan di Tumbang Nusa dapat dilihat sebagai perubahan fase dari respons darurat menuju rehabilitasi. Pendekatan semacam ini seharusnya menjadi bagian standar dari penanganan karhutla: cegah kebakaran, padamkan ketika terjadi, selidiki penyebabnya, pulihkan kawasan yang rusak dan pantau sampai ekosistem benar-benar menunjukkan tanda pemulihan.

Tumbang Nusa Memberikan Pelajaran Penting tentang Kebakaran Gambut

Tumbang Nusa mempunyai arti khusus dalam pembahasan karhutla karena sebagian kawasannya merupakan ekosistem gambut. Pada musim kebakaran 2026, kawasan ini menghadapi kebakaran yang membutuhkan penanganan intensif dari berbagai unsur pemerintah dan aparat. Kebakaran yang terjadi di bentang gambut mempunyai karakter berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi pada tanah mineral karena material yang berada di bawah permukaan juga terdiri atas bahan organik yang dapat terbakar apabila kondisinya cukup kering.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional bahkan menggunakan kejadian di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Tumbang Nusa sebagai salah satu pembelajaran untuk menjelaskan bahwa kebakaran gambut pada dasarnya merupakan persoalan hidrologi sebelum menjadi persoalan api. Ketika gambut kehilangan terlalu banyak air, muka air tanah turun dan lapisan organiknya mengering, kerentanan terhadap kebakaran meningkat. Api kemudian dapat berkembang bukan hanya sebagai flaming atau pembakaran di permukaan, tetapi juga sebagai smouldering, yaitu pembakaran membara yang berlangsung di dalam lapisan gambut dan dapat bertahan dalam waktu lama.

Pemahaman tersebut sangat penting bagi proses pemulihan Tumbang Nusa. Menanam pohon merupakan langkah positif, tetapi pada ekosistem gambut keberhasilan rehabilitasi tidak dapat bergantung pada jumlah bibit yang ditanam saja. Kondisi air di dalam gambut juga harus menjadi bagian utama dari strategi pemulihan.

Mengembalikan Pohon Harus Berjalan Bersama Mengembalikan Air

Pada lahan gambut, pohon dan air mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Gambut terbentuk selama waktu yang sangat panjang dalam kondisi basah, sehingga mempertahankan muka air merupakan salah satu faktor penting untuk menjaga kestabilan ekosistem. Ketika gambut mengalami drainase berlebihan, material organik yang sebelumnya jenuh air mulai kehilangan kelembapan, mengalami oksidasi dan menjadi semakin rentan terhadap kebakaran.

Karena itu, apabila kawasan bekas karhutla hanya ditanami kembali sementara kondisi hidrologinya tetap sangat kering, bibit yang ditanam akan menghadapi lingkungan yang lebih berat dan risiko kebakaran berulang tetap ada. Sebaliknya, ketika tata air diperbaiki, muka air tanah dipertahankan dan vegetasi yang sesuai mulai tumbuh kembali, kawasan mempunyai peluang lebih besar untuk memasuki proses pemulihan jangka panjang.

Prinsip restorasi gambut karena itu bukan sekadar menanam kembali, tetapi juga membasahi kembali. Pada kawasan yang telah memiliki kanal atau sistem drainase, pengelolaan air dapat mencakup berbagai intervensi sesuai kondisi setempat, termasuk mempertahankan muka air, pembangunan atau pemeliharaan sekat kanal apabila diperlukan, pemantauan sumur pantau, serta pengelolaan vegetasi menggunakan jenis yang sesuai dengan karakter gambut.

Menanam Pohon Adalah Awal, Bukan Ukuran Akhir Keberhasilan

Kegiatan penanaman pohon sering menghasilkan angka yang mudah dikomunikasikan kepada publik: sekian ratus atau sekian ribu bibit ditanam. Namun dari perspektif restorasi, angka yang jauh lebih penting baru dapat diketahui beberapa tahun kemudian. Berapa persen tanaman yang masih hidup setelah satu musim kemarau, bagaimana pertumbuhannya setelah tiga atau lima tahun, apakah vegetasi alami mulai kembali, apakah kondisi air membaik, apakah kawasan kembali mengalami kebakaran dan apakah satwa mulai menggunakan habitat tersebut kembali merupakan indikator yang lebih bermakna untuk menilai keberhasilan.

Karena itu, penanaman di Tumbang Nusa sebaiknya dipandang sebagai awal dari komitmen jangka panjang. Bibit yang ditanam membutuhkan pemeliharaan, tanaman yang mati mungkin perlu diganti, kondisi air harus terus dipantau dan kawasan harus dilindungi dari gangguan yang dapat menghambat pemulihan. Jika seluruh proses tersebut dilakukan secara konsisten, beberapa tahun mendatang masyarakat tidak hanya akan mengingat bahwa pernah ada kegiatan penanaman pohon pada Oktober 2026, tetapi dapat melihat perubahan nyata dari lahan yang pernah terbakar menjadi kawasan yang kembali ditutupi vegetasi.

Bekas Karhutla Seharusnya Dipantau Bertahun-tahun Setelah Api Padam

Indonesia sebenarnya mempunyai kemampuan teknologi yang cukup untuk melakukan pengawasan pascakebakaran secara lebih sistematis. Koordinat hotspot tersedia, citra satelit dapat menunjukkan perubahan tutupan lahan, data curah hujan dapat dipantau, tinggi muka air gambut dapat diukur dan perkembangan vegetasi dapat dibandingkan dari tahun ke tahun. Informasi tersebut dapat digunakan untuk memastikan bahwa lokasi yang pernah terbakar tidak menghilang begitu saja dari perhatian setelah musim karhutla selesai.

Setiap kawasan yang terbakar idealnya mempunyai rekam jejak pemulihan. Kondisi sebelum kebakaran dapat dibandingkan dengan kondisi setelah kebakaran, kemudian dipantau enam bulan, satu tahun, tiga tahun hingga beberapa tahun berikutnya. Pemerintah dapat mengetahui apakah vegetasi kembali tumbuh, apakah lahan kembali terbakar, apakah terdapat perubahan penggunaan lahan, dan apakah program rehabilitasi benar-benar memberikan hasil.

Dengan pendekatan seperti itu, penanganan karhutla tidak lagi bersifat musiman. Pemerintah tidak hanya sibuk ketika hotspot meningkat pada musim kemarau, tetapi memiliki pekerjaan berkelanjutan untuk memastikan kawasan yang pernah terbakar tidak kembali memasuki siklus kerusakan yang sama.

Rehabilitasi Juga Harus Berjalan Bersama Pencegahan

Gubernur Agustiar Sabran dalam kegiatan tersebut juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pesan ini penting karena pemulihan kawasan tidak akan berarti banyak apabila sumber risiko kebakaran tetap dibiarkan. Menanam ribuan pohon membutuhkan waktu dan biaya, tetapi satu kebakaran besar dapat menghilangkan hasil rehabilitasi dalam waktu sangat singkat.

Pencegahan karena itu harus dilakukan pada beberapa lapisan sekaligus. Masyarakat perlu mempunyai pilihan pengelolaan lahan tanpa bakar, perusahaan dan pengelola kawasan harus menjaga tata air dan memenuhi kewajiban pencegahan, pemerintah perlu mempertahankan patroli dan sistem peringatan dini, sementara penegakan hukum harus berjalan ketika ditemukan pelanggaran. Pada kawasan gambut, pencegahan juga berarti menjaga agar gambut tidak terlalu kering sebelum api muncul.

Pendekatan tersebut jauh lebih efektif dibandingkan terus-menerus mengeluarkan biaya besar untuk memadamkan kebakaran yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.

Kolaborasi Menjadi Kunci karena Karhutla Tidak Bisa Ditangani Satu Institusi

Kegiatan di Tumbang Nusa juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi. Gubernur Kalimantan Tengah hadir bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai, sementara pemerintah daerah, TNI, komunitas, relawan dan masyarakat menjadi bagian dari rangkaian penanganan dan pemulihan karhutla. Dalam kegiatan yang sama juga terdapat dukungan sosial bagi petugas, relawan dan masyarakat terdampak berupa makanan, air mineral, obat-obatan, vitamin, masker dan berbagai kebutuhan logistik.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan kehutanan. Ketika kebakaran terjadi, dampaknya menyentuh kesehatan masyarakat, ekonomi, pendidikan, transportasi, biodiversitas, emisi karbon dan kehidupan sosial. Karena itu, penanganannya memang membutuhkan kerja lintas sektor, sedangkan pemulihannya membutuhkan komitmen yang bahkan lebih panjang.

Pemerintah mempunyai kewenangan dan sumber daya, TNI dan Polri dapat mendukung operasi lapangan dan pengamanan, peneliti menyediakan dasar ilmiah, masyarakat mengetahui kondisi lokal, sementara komunitas dan relawan dapat memperkuat partisipasi publik. Jika seluruh unsur tersebut bekerja dalam satu arah, penanganan karhutla dapat bergerak dari pola reaktif menuju pencegahan dan pemulihan yang lebih permanen.

Tumbang Nusa Bisa Menjadi Laboratorium Pemulihan Gambut

Ada peluang besar untuk menjadikan Tumbang Nusa bukan hanya sebagai lokasi yang dikenal karena kebakaran, tetapi sebagai tempat pembelajaran mengenai bagaimana gambut yang rusak dapat dipulihkan. Keberadaan kawasan penelitian dan perhatian berbagai institusi terhadap Tumbang Nusa memberikan kesempatan untuk menggabungkan penanaman vegetasi, pemantauan hidrologi, pencegahan kebakaran, penelitian ekologi dan keterlibatan masyarakat dalam satu bentang alam.

Bayangkan apabila setiap pohon yang ditanam mempunyai data lokasi dan pertumbuhan, sementara sumur pantau merekam tinggi muka air gambut secara berkala. Data curah hujan, hotspot dan kelembapan dapat digabungkan, kemudian citra satelit digunakan untuk melihat perkembangan tutupan vegetasi dari tahun ke tahun. Dalam beberapa tahun, Tumbang Nusa dapat menghasilkan pembelajaran yang sangat berharga mengenai jenis vegetasi yang mampu bertahan, kondisi muka air yang mendukung pemulihan, daerah yang paling rentan terbakar kembali dan strategi restorasi yang paling efektif.

Dengan demikian, sebuah kawasan yang pernah menjadi simbol sulitnya mengendalikan kebakaran gambut dapat berubah menjadi tempat untuk menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan, kebijakan dan masyarakat bekerja bersama memulihkan ekosistem.

Terima Kasih kepada Gubernur Kalteng dan Seluruh Tim yang Memulai Pemulihan

Langkah Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin dan seluruh unsur yang terlibat dalam penanaman di Tumbang Nusa layak diapresiasi karena mengingatkan bahwa tanggung jawab terhadap karhutla tidak selesai ketika api berhasil dipadamkan. Justru setelah asap menghilang, pekerjaan yang jauh lebih panjang dimulai: mengembalikan vegetasi, memperbaiki tata air, menjaga kawasan, mencegah kebakaran berulang dan memastikan masyarakat tetap menjadi bagian dari perlindungan lingkungan.

Namun apresiasi terbesar nantinya bukan diukur dari kegiatan penanaman itu sendiri. Ukurannya adalah ketika kita kembali ke Tumbang Nusa lima, sepuluh atau dua puluh tahun mendatang dan menemukan bahwa pohon-pohon yang ditanam hari ini telah tumbuh, muka air gambut lebih terjaga, kebakaran semakin jarang dan kawasan kembali menjalankan fungsi ekologisnya.

Karena memadamkan api hanya membutuhkan kita untuk memenangkan satu pertempuran, sedangkan memulihkan gambut membutuhkan komitmen lintas generasi. Pohon yang ditanam pada Oktober 2026 mungkin membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh besar, sementara gambut di bawahnya membutuhkan kondisi air yang terjaga agar tidak kembali menjadi bahan bakar pada musim kemarau berikutnya.

Tumbang Nusa memberikan pelajaran yang sangat jelas: ketika gambut terbakar, jangan berhenti setelah api padam. Kembalikan airnya, tumbuhkan kembali vegetasinya, jaga kawasannya dan pantau sampai ekosistem benar-benar pulih. Sebab keberhasilan penanganan karhutla yang sesungguhnya bukan hanya ketika langit kembali bebas dari asap, tetapi ketika tanah yang pernah terbakar kembali mampu menjadi rumah bagi hutan, satwa dan kehidupan generasi berikutnya.


Sumber:
https://www.antaranews.com/berita/5809851/gubernur-kalteng-lakukan-penanaman-pohon-di-lokasi-terdampak-karhutla

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO