Duh, sampah di Bali disorot media asing

Sorotan Internasional: Krisis Pengelolaan Sampah di Bali Kembali Memuncak
Sistem pengelolaan sampah di Pulau Dewata kembali menjadi pusat perhatian dunia. Media Australia, ABC News, dalam laporannya yang dirilis Minggu (28/6/2026), menyoroti munculnya titik-titik pembuangan sampah ilegal berskala besar di kawasan pemukiman dan pariwisata Bali.
Salah satu potret terparah ditemukan di Desa Buduk, wilayah strategis di utara pusat wisata populer Canggu. Di lokasi tersebut, gundukan sampah rumah tangga dan plastik sepanjang puluhan meter menumpuk selama berbulan-bulan di area yang bukan tempat pembuangan resmi.
Akar Masalah: Efek Domino Pembatasan TPA Suwung
Krisis lingkungan ini tidak terjadi secara instan, melainkan dipicu oleh beberapa faktor struktural yang saling berkaitan:
- Transisi Kebijakan TPA Suwung: Pemerintah daerah saat ini tengah membatasi masuknya sampah organik ke TPA Suwung guna menekan kelebihan muatan (overcapacity).
- Kesiapan Sistem Lokal Minim: Kebijakan pembatasan di TPA Suwung belum diimbangi dengan infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai di tingkat desa/kecamatan. Akibat alur pembuangan resmi yang tidak stabil, warga dan pelaku usaha mengalami kebingungan dan kembali ke pola lama.
- Kesenjangan Perilaku dan Edukasi: Aktivis lingkungan dari Sungai Watch, Gary Bencheghib, menjelaskan adanya pergeseran budaya yang belum tuntas. Pada era 1970–1980-an, masyarakat terbiasa membuang bungkus makanan organik (seperti daun pisang) ke alam karena dapat terurai. Ketika plastik mulai mendominasi, kebiasaan membuang sampah sembarangan ini tetap terbawa akibat minimnya edukasi dampak polusi plastik.
Profil Sampah Bali dalam Angka
Tekanan terhadap lingkungan Bali diperparah oleh lonjakan populasi dan masifnya industri pariwisata:
- Total Produksi Sampah: 3.500 ton per hari.
- Komposisi Sampah: 65% sampah organik, 15% sampah plastik, dan 20% limbah lainnya.
- Beban Pariwisata: Berdasarkan data tahun lalu, Bali menampung 7 juta wisatawan mancanegara (1,5 juta di antaranya dari Australia) dan 9 juta wisatawan domestik. Secara statistik, seorang wisatawan menghasilkan volume sampah yang jauh lebih tinggi daripada penduduk lokal.
Dampak Lingkungan yang Mengkhawatirkan
Pakar Perkotaan, Buya Azmedia Istiqlal, menilai kondisi Bali saat ini sudah masuk dalam kategori siaga krisis. Karena hilangnya akses pembuangan yang jelas, muncul berbagai praktik ilegal yang merusak ekosistem:
- Pembakaran sampah secara terbuka di area pemukiman (memicu polusi udara).
- Pembuangan limbah secara liar di pinggir jalan, sungai, hingga lereng jurang.
Respons Pemerintah dan Titik Terang
Menanggapi situasi ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Denpasar, Ida Bagus Putra Wirabawa, menyatakan bahwa penertiban terus diupayakan secara agresif:
- Sidak & Patroli: Melakukan inspeksi mendadak secara berkala di titik-titik rawan pembuangan ilegal.
- Teknologi Pengawasan: Memasang kamera CCTV di lokasi-lokasi strategis untuk menjaring para pelanggar.
- Klaim Perbaikan: DLH mengklaim bahwa volume pembuangan liar mulai menunjukkan tren penurunan dari hari ke hari.
Di sisi lain, Gary Bencheghib melihat ada dampak positif di balik kacaunya situasi dua bulan terakhir. Kekacauan ini berhasil memicu gelombang diskusi publik yang masif, membuat tingkat kesadaran kolektif masyarakat dan pelaku usaha di Bali terhadap isu sampah kini berada di titik tertinggi dibandingkan sebelumnya.
sumber:
https://travel.detik.com/travel-news/d-8553605/duh-sampah-di-bali-disorot-media-asing
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




