Emil Salim Ingatkan Risiko Migrasi Biota Laut Akibat Peningkatan Suhu Air Laut

Emil Salim, pakar lingkungan hidup Indonesia yang juga mantan Menteri Lingkungan Hidup, kembali mengingatkan ancaman serius yang ditimbulkan oleh peningkatan suhu air laut akibat perubahan iklim. Dalam sebuah acara internasional yang dihadiri delegasi dari Asia, Pasifik, dan Eropa, Emil menyoroti risiko migrasi biota laut berskala besar yang berdampak pada ekosistem laut, rantai makanan, serta perekonomian negara kepulauan, khususnya di wilayah khatulistiwa seperti Indonesia.
Acara tersebut adalah bagian dari Asia Disaster Management and Civil Protection Expo and Conference (ADEXCO) serta Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) yang berlangsung di Jakarta pada 11-14 September 2024. Emil, yang berpartisipasi secara daring, menyampaikan bahwa kerja sama global untuk mengatasi perubahan iklim sangatlah penting untuk menjaga keberlanjutan dan resiliensi ekosistem.
Peningkatan Suhu Air Laut dan Dampaknya
Menurut Emil, perubahan iklim telah menyebabkan suhu air laut global mencapai level tertinggi sepanjang sejarah. Berdasarkan data dari Observasi Bumi C3S (Uni Eropa), suhu air laut yang sebelumnya tercatat pada 20,96 derajat Celcius di tahun 2023 telah meningkat menjadi 21,06 derajat Celcius pada Februari 2024. Kenaikan suhu ini mendorong biota laut, terutama spesies ikan, untuk bermigrasi ke perairan yang lebih dingin.
Migrasi biota laut ini, jelas Emil, membawa dampak besar terhadap ekosistem laut. Banyak ikan dan organisme laut yang berpindah ke wilayah yang lebih sesuai dengan suhu tubuh mereka, meninggalkan perairan tropis yang semakin memanas. Hal ini tidak hanya mengancam biodiversitas, tetapi juga mengganggu rantai makanan laut yang berimplikasi langsung pada sektor perikanan di banyak negara, termasuk Indonesia.
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kekayaan laut yang melimpah, diperkirakan akan mengalami tantangan besar akibat fenomena ini. Dengan 37 persen spesies ikan dunia ditemukan di perairan Indonesia, migrasi biota laut yang dipicu oleh pemanasan air laut bisa mengganggu ketersediaan sumber daya ikan yang menjadi penopang ekonomi negara.
Dampak Sosial dan Ekonomi dari Peningkatan Volume Air Laut
Selain masalah migrasi biota laut, peningkatan suhu air laut juga berpotensi meningkatkan volume air laut yang bisa menyebabkan tenggelamnya beberapa pulau di Indonesia. “Peningkatan suhu menyebabkan ekspansi termal air laut, yang berarti volume air laut juga bertambah. Fenomena ini diperkirakan dapat menenggelamkan beberapa pulau kecil di Indonesia dalam kurun waktu 20 tahun mendatang,” ujar Emil.
Dengan sekitar 17.000 pulau yang dimiliki Indonesia, ancaman ini bukanlah hal sepele. Banyak pulau kecil yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga memiliki peran strategis dalam menjaga kedaulatan wilayah. Oleh karena itu, tindakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sangat penting untuk diambil guna mencegah dampak yang lebih buruk.
Kerja Sama Global untuk Mengatasi Krisis
Untuk menghadapi tantangan ini, Emil menyerukan pentingnya kerja sama global, terutama antarnegara di kawasan ASEAN dan dunia. “Kerja sama internasional melalui pendekatan holistik pada perubahan iklim, resiliensi bencana, dan pembangunan berkelanjutan adalah sebuah keharusan. Krisis ini memerlukan tanggapan yang tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga global,” tegasnya.
Acara ADEXCO dan GFSR, yang diikuti oleh 126 perusahaan dari 14 negara seperti Jerman, Singapura, Brunei, dan China, menjadi platform untuk berbagai pihak—baik pemerintah, perusahaan, maupun para ahli—untuk bertukar ide, inovasi, dan strategi dalam menghadapi tantangan terkait perubahan iklim dan manajemen bencana. Diskusi juga mencakup refleksi 20 tahun setelah bencana tsunami Samudra Hindia yang melanda wilayah Asia Tenggara pada 2004.
Dalam GFSR, forum tingkat tinggi ini membahas berbagai isu strategis terkait resiliensi berkelanjutan, program adaptasi perubahan iklim, serta strategi pengurangan risiko bencana yang menjadi prioritas global. Hal ini menunjukkan bahwa peran serta dari berbagai sektor dalam menciptakan solusi berkelanjutan adalah langkah yang harus diambil untuk melindungi masa depan planet ini.
Solusi untuk Masa Depan yang Lebih Berkelanjutan
Di tengah ancaman yang semakin nyata, solusi jangka panjang diperlukan untuk menjaga ekosistem laut dan mencegah bencana yang lebih besar di masa mendatang. Dalam hal ini, pendekatan yang bersifat holistik dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, baik di tingkat lokal maupun internasional, menjadi kunci. Upaya ini tidak hanya melindungi ekosistem laut dan sumber daya ikan, tetapi juga menjadi fondasi penting untuk keberlanjutan ekonomi, terutama di negara-negara kepulauan.
Perubahan iklim adalah tantangan yang tidak bisa diabaikan, dan migrasi biota laut yang terjadi saat ini hanyalah salah satu contoh dari dampak yang ditimbulkannya. Dengan kolaborasi yang kuat di tingkat global, diharapkan berbagai negara dapat bersama-sama mengatasi tantangan ini dan menciptakan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




