Kegiatan LH

Hari Primata Indonesia 2026, Belantara Foundation Dorong Kolaborasi Multipihak Lindungi Primata Asli Nusantara

Belantara Foundation mendorong penguatan kolaborasi multipihak dalam upaya pelestarian primata asli Indonesia yang kian terancam punah. Seruan ini disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Primata Indonesia 2026, sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian dan aksi nyata dalam melindungi primata beserta habitat alaminya, termasuk Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang saat ini berstatus sangat kritis.

Dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Sabtu, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, mengingatkan bahwa kondisi primata Indonesia saat ini berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), dari total 66 jenis primata yang ada di Indonesia, sebagian besar masuk dalam kategori terancam.

Dolly menjelaskan bahwa sebanyak 12 jenis primata berstatus Critically Endangered atau kritis, 25 jenis berstatus Endangered (terancam), dan 26 jenis berstatus Vulnerable (rentan). Selain itu, terdapat satu jenis dengan status Near Threatened (hampir terancam), serta dua jenis lainnya masih berstatus Data Deficient atau kekurangan data ilmiah.

“Oleh karena itu, peringatan Hari Primata Indonesia dapat menjadi momentum penting untuk mendorong kolaborasi multipihak dengan konsep Pentahelix guna mendukung program pelestarian dan perlindungan primata beserta habitatnya di Indonesia,” ujar Dolly.

Ia menjelaskan bahwa konsep Pentahelix menggabungkan peran lima unsur utama, yakni akademisi, sektor bisnis, komunitas, pemerintah, dan media. Kolaborasi lintas sektor tersebut dinilai penting untuk menghasilkan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan konservasi primata di Indonesia.

Berdasarkan regulasi nasional, Dolly menambahkan bahwa dari puluhan jenis primata yang ada, sebanyak 37 jenis telah masuk dalam daftar satwa yang dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018. Meski demikian, ancaman terhadap primata masih terus berlangsung, terutama akibat hilangnya habitat, perburuan liar, dan konflik dengan manusia.

Beberapa primata yang masuk dalam kategori kritis terancam punah antara lain Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), Owa Simakobu (Simias concolor), Lutung Sentarum (Presbytis chrysomelas), serta Tarsius Sangihe (Tarsius sangirensis). Status tersebut mengacu pada laporan Primates in Peril 2023–2025 yang dipublikasikan oleh IUCN SSC Primate Specialist Group, International Primatological Society, dan Re:wild, yang memuat lebih dari 100 hasil penelitian dari para pakar primata dunia.

Terkait berbagai ancaman tersebut, Dolly menegaskan bahwa primata memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Primata berfungsi sebagai agen penyebar biji utama yang memastikan proses regenerasi alami hutan hujan tropis dan menjaga keanekaragaman hayati.

“Keberadaan primata juga menjadi indikator kesehatan ekosistem. Melalui pola makan frugivora, mereka membantu menanam kembali hutan secara alami, mengendalikan populasi serangga, serta menunjang siklus hara tanah,” jelasnya.

Belantara Foundation berharap, melalui peringatan Hari Primata Indonesia 2026, kesadaran publik dan komitmen semua pihak terhadap konservasi primata dapat semakin diperkuat. Upaya pelestarian tidak hanya penting untuk menyelamatkan spesies primata dari kepunahan, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan ekosistem hutan yang menjadi penopang kehidupan manusia.

Sumber berita:
Antara News – Hari Primata, Belantara dorong kolaborasi jaga primata asli Indonesia
https://www.antaranews.com/berita/5387270/hari-primata-belantara-dorong-kolaborasi-jaga-primata-asli-indonesia

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO