Iffah Rachmi: Kreatif Kampanyekan Sanitasi

Mengubah perilaku orang agar tidak buang air besar sembarangan bukan perkara mudah. Bersama anak-anak muda di Lampung, Iffah Rachmi (36) membangkitkan kepedulian masyarakat tentang pentingnya sanitasi lewat cara-cara yang kreatif.
Puluhan anak muda berkumpul di bantaran Sungai Way Belau di RT 046, Kampung Gudang Agen, Kelurahan Pesawahan, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung, akhir November 2024. Sore itu, mereka menggelar acara Musik Tepi Sungai bertajuk ”Toilets: A Place for Peace”. Kegiatan itu bertujuan untuk mengampanyekan pentingnya sanitasi.
Sejumlah instalasi seni hingga panggung hiburan musik pun disiapkan. Salah satu yang menarik ialah instalasi seni rupa tiga dimensi yang menggambarkan peta Kota Bandar Lampung yang tercemar sampah. Tidak hanya sampah plastik dari rumah tangga, limbah dari kotoran manusia juga digambarkan mencemari air tanah hingga kawasan pesisir.
Ada juga sebuah kloset duduk yang sengaja diletakkan di pinggir sungai. Toilet itu sebagai pengingat bahwa urusan buang air besar sembarangan ternyata bukan masalah sepele karena bisa sampai mencemari sungai.
Konsep acara yang memadukan seni, musik, dan edukasi itu sengaja dibuat untuk menarik minat masyarakat, khususnya anak-anak muda. Lewat kegiatan itu, isu sanitasi yang sering dianggap tidak populer juga diharapkan bisa lebih diterima semua orang.
Kegiatan tersebut dibuka dengan pembacaan puisi, dilanjutkan dengan diskusi. Para peserta, mulai anak-anak muda kampung, mahasiswa, hingga penggiat lingkungan di Lampung, hadir di sana. Ada juga ibu-ibu rumah tangga, ketua RT, lurah, dan camat.
Diskusi yang berlangsung sekitar 30 menit itu berjalan seru. Meski membahas soal urusan tinja, para peserta antusias menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan moderator saat diskusi. Acara ditutup dengan penampilan berbagai grup musik lokal. Para pengunjung pun benyanyi dan berjoget bersama di pinggir sungai.
Iffah Rachmi merupakan inisiator di balik terwujudnya kampanye kreatif itu. Sejak tahun 2018, ia memang aktif menggerakkan anak-anak muda agar peduli pada sanitasi. Lewat komunitas Youth Sanitation Concern (YSC) Indonesia, Iffah mengajak para generasi Z dan milenial untuk turun tangan membenahi persoalan sanitasi di kawasan padat penduduk itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/12/5ec3b18b-9db3-4fb9-9068-039cb1476f1c_jpeg.jpg)
Dampingi warga
Pembentukan komunitas YSC Indonesia bermula dari kegiatan Youth Sannitation Camp yang digagas oleh organisasi nirlaba Stichting Nederlandse Vrijwilligers (SNV) Indonesia bekerja sama dengan beberapa lembaga organisasi masyarakat lokal di Lampung. Kala itu, Iffah aktif berkegiatan di SNV.
Kegiatan Youth Sanitation Camp dibuat untuk menjaring anak-anak muda yang peduli pada isu sanitasi. Selama tiga hari, anak-anak muda mulai dari usia 17 tahun hingga 30 tahun diajak berkemah bersama. Di sela-sela kegiatan, para peserta diajak berdiskusi tentang berbagai persoalan sanitasi, khususnya yang ada di Bandar Lampung. Dari situ, Iffah menginisiasi pembentukan komunitas YSC Indonesia.
Hingga kini, sudah ada sekitar 100 pemuda yang menjadi relawan di komunitas YSC Indonesia. Enam orang di antaranya berperan sebagai pengurus inti, termasuk Iffah yang menjabat sebagai koordinator.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/12/75b79cad-9401-4cdd-b1ae-83652d5514b2_jpeg.jpeg)
Saat pandemi Covid-19 melanda, YSC Indonesia mengaggas gerakan cuci tangan pakai sabun di Kampung Gudang Agen. Berbagai kegiatan edukasi juga digelar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat setempat tentang sanitasi. Mereka mengajak masyarakat menerapkan pola hidup bersih dengan cuci tangan memakai sabun.
Tak berhenti sampai di situ, YSC Indonesia juga membantu masyarakat membenahi persoalan sanitasi di kampung itu. Salah satu proyek kolaborasi yang dijalankan bersama ialah perbaikan fasilitas toilet komunal.
Renovasi dilakukan agar limbah tinja dari dalam tangki septik toilet tidak lagi mengalir dan mencemari sungai. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada tiga titik lokasi toilet komunal yang sudah direnovasi dan manfaatnya dirasakan oleh puluhan warga.
YSC Indonesia menyediakan bahan bangunan untuk kebutuhan renovasi toilet. Sementara warga dengan sukarela bergotong royong dan membayar tukang bangunan.
Selain itu, YSC Indonesia juga mengembangkan tangki septik berbasis teknologi Tripikon-S untuk menangani limbah tinja dari rumah-rumah panggung yang berdiri di atas laut di pesisir Bandar Lampung. Teknologi itu diadopsi dari pemikiran seorang Guru Besar Universitas Gadjah Mada Hardjoso Prodjopangarso.
Selama ini, penduduk setempat membuat jamban yang terhubung dengan pipa dan langsung mengalir ke laut. Dengan adanya teknologi tersebut, dilakukan modifikasi dengan penambahan saringan polikarbonat dan pemecah tinja. Harapannya, air limbah yang mengalir ke laut tidak lagi mencemari lingkungan.
Pendekatan
Iffah bercerita, tidak mudah mengajak masyarakat untuk peduli pada urusan jamban dan sanitasi. Awalnya, mereka juga tidak percaya saat komunitas YSC Indonesia masuk ke kampung itu untuk merenovasi jamban komunal.
”Kami mencoba melakukan pendekatan dengan anak-anak muda setempat. Mereka sering mengajak anak-anak muda di sana berkumpul dan bermain bersama, sekaligus edukasi tentang sanitasi. Dari situ, masyarakat mulai menerima kehadiran komunitas YSC Indonesia,” kata Iffah saat ditemui di Bandar Lampung, Selasa (10/12/2024).
Tak hanya berhasil membantu merenovasi jamban, masyarakat setempat juga kini tergerak untuk merawat fasilitas toilet. Dengan kesadaran sendiri, warga berinisiatif mengumpulkan iuran untuk keperluan pemeliharaan WC komunal. Mereka juga membersihkan dan merawat toilet secara bergantian.
Arpan (20), salah satu pemuda Kampung Gudang Agen, menuturkan, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi semakin membaik. Masyarakat juga tidak lagi membuang sampah sembarangan di sungai. Para pemuda kampung kini lebih aktif mengikuti berbagai aksi bersih-bersih lingkungan.
Penghargaan
Kepedulian Iffah dan anak-anak muda yang tergabung dalam YSC Indonesia membuat komunitas itu meraih penghargaan dari Kyoto World Water Grand Prize 2024. Penghargaan tersebut diterima Iffah dalam acara closing ceremony World Water Forum ke-10 di Bali pada 24 Mei 2024. Di acara itu, Iffah juga diundang sebagai salah satu pembicara.
Kyoto World Water Grand Prize merupakan penghargaan yang diberikan kepada organisasi akar rumput yang berkontribusi memecahkan permasalahan air di negara-negara berkembang. Penghargaan itu diberikan oleh Japan Water Forum bekerja sama dengan kota Kyoto dan Dewan Air Dunia.
”Ini menjadi sebuah kebanggaan sekaligus menjadi bukti bahwa generasi muda dapat berkontribusi untuk mengubah kebiasaan di masyarakat. Kita harus lebih percaya dan memberikan kepercayaan kepada generasi muda,” kata Iffah.
Kita harus lebih percaya dan memberikan kepercayaan kepada generasi muda.
Kini, Iffah bersama anak-anak muda relawan YSC Indonesia memperluas peran dengan membantu sekolah-sekolah di Bandar Lampung dalam mengelola sampah. Mereka mendampingi pihak sekolah untuk memilah sampah, mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos, hingga membuat bank sampah.
Iffah berharap semakin banyak anak muda yang turun tangan membenahi berbagai permasalahan lingkungan. Ia percaya, keterlibatan anak-anak muda akan membawa perubahan besar bagi perbaikan akses sanitasi di Tanah Air.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/12/9aa017ee-2eed-4b47-a2a7-de825f82b074_jpeg.jpg)
Iffah Rachmi
Lahir: 2 Maret 1988
Pendidikan:
Master Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, lulus tahun 2015
Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, lulus tahun 2012
Sumber:
https://www.kompas.id/artikel/sosok-iffah-rachmi-menggerakkan-peran-anak-muda-pada-sanitasi
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




