Berita

Jalan Tol Proyek Etanol, Bahan Baku Melimpah ‘Bensin Hijau’

Jalan Tol Proyek Etanol: Potensi ‘Bensin Hijau’ dan Tantangan Kebijakan

Indonesia tengah memutar otak mencari solusi ganda: mengikis emisi karbon dari sektor transportasi sekaligus mengekang ketergantungan pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Salah satu opsi strategis yang kembali mencuat adalah memacu proyek etanol (bioetanol) sebagai campuran bahan bakar.

Wacana terbaru yang menarik perhatian publik datang dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yang menyebutkan rencana kebijakan E10 (campuran 10% etanol dalam BBM). Rencana ini disebut-sebut merupakan inisiatif langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Padahal, proyek etanol sebelumnya masih berjalan terbatas pada tingkat campuran E5.

Kekayaan Bahan Baku dan Kemandekan Program

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Agus Pramono, menegaskan bahwa tantangan utama, yaitu ketersediaan bahan baku, seharusnya bisa diatasi.

  • Molase Melimpah: Bahan baku bioetanol dapat memanfaatkan molase, yaitu produk sampingan dari industri gula. Indonesia memiliki pasokan molase yang sangat melimpah.
  • Potensi yang Terbuang: DEN memperkirakan, pada tahun sebelumnya, sekitar 820 ribu ton molase diekspor, terutama ke Filipina. Menurut Agus, jumlah molase tersebut sebenarnya berpotensi menghasilkan sekitar 200 juta kiloliter bioetanol (E5).

Meskipun demikian, program pengembangan bioetanol di Indonesia cenderung mandek dan tidak berkembang. Agus Pramono mengakui bahwa banyak pabrik bioetanol terpaksa menghentikan operasinya karena tidak adanya permintaan atau pasar yang jelas.

Riwayat Kebijakan dan Inspirasi dari Brasil

Wacana pemanfaatan etanol dalam skala besar sebenarnya bukanlah hal baru dan telah memiliki landasan kebijakan:

  • Target E20: Peraturan Menteri ESDM No. 12/2015 bahkan telah menetapkan target penggunaan campuran hingga E20 yang dipatok akan dimulai pada tahun 2025. Namun, realisasinya jauh panggang dari api.
  • Belajar dari Brasil: Pakar Otomotif, Yannes Martinus, menyoroti keberhasilan Brasil sebagai produsen dan pengguna bioetanol dengan persentase campuran tertinggi di dunia. Menariknya, Brasil dulunya belajar pengembangan tebu dari Indonesia pada era 1970-an.
  • Konsistensi Kunci Sukses: Brasil menunjukkan konsistensi dalam kebijakan yang menjadikan tebu sebagai penopang utama bioetanol, memungkinkan mereka mengerem impor minyak dan menekan emisi karbon.

Etanol sebagai Daya Ungkit Komoditas Nasional

Pengembangan bioetanol berpotensi menjadi daya ungkit baru bagi sektor komoditas nasional, mirip dengan kesuksesan yang dicapai oleh kelapa sawit dalam pengembangan biodiesel.

Dengan konsistensi kebijakan dan implementasi yang serius, proyek etanol tidak hanya akan mempercepat upaya Indonesia mencapai kemandirian energi dan mengurangi impor minyak, tetapi juga menciptakan nilai tambah besar bagi komoditas pertanian seperti tebu dan produk turunannya.

Inti Masalah: Proyek bioetanol Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan dasar hukum yang sudah ada, tetapi terkendala oleh kemandekan program dan ketidakpastian pasar, yang ironisnya berbanding terbalik dengan negara yang pernah belajar dari kita.

sumber:

https://hijau.bisnis.com/read/20251009/652/1918775/jalan-tol-proyek-etanol-bahan-baku-melimpah-bensin-hijau

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO