Kalimantan, Kebakaran dan Warisan Proyek Lahan Gambut: Luka Ekologis yang Belum Selesai Setelah Tiga Dekade

Setiap kali kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di Kalimantan, perhatian biasanya tertuju pada titik api, musim kemarau, El Niño atau aktivitas manusia yang memicu kebakaran. Namun di Kalimantan Tengah terdapat persoalan yang jauh lebih panjang. Untuk memahami mengapa sebagian kawasan gambut begitu mudah terbakar, kita harus kembali hampir tiga dekade ke belakang—ketika lebih dari satu juta hektare kawasan rawa dan gambut hendak diubah menjadi lumbung pangan melalui Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar.
Kebakaran gambut tidak selalu dapat dipahami hanya dengan mencari siapa yang menyalakan api.
Api membutuhkan kondisi yang memungkinkan dirinya membesar.
Pada ekosistem gambut, salah satu faktor terpenting adalah air. Gambut yang tetap basah relatif sulit terbakar. Sebaliknya, ketika muka air turun dan lapisan gambut mengering, material organik yang selama ratusan hingga ribuan tahun tersimpan dalam kondisi basah dapat berubah menjadi bahan bakar.
Inilah yang membuat sejarah pengelolaan air di Kalimantan Tengah menjadi sangat penting.
Dan salah satu perubahan terbesar terhadap bentang alam tersebut terjadi melalui Proyek Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar pada pertengahan 1990-an.




