Kemenhut Pamerkan Inovasi Ramah Lingkungan Karya Anak Muda, Dari Madu hingga Kopi Bernilai Ekonomi Tinggi

Kementerian Kehutanan menampilkan berbagai produk inovasi ramah lingkungan hasil karya generasi muda pelestari hutan dalam peluncuran film dokumenter “Merawat Esok” di Jakarta. Pameran tersebut menjadi bukti nyata peran anak muda dalam mendukung ekonomi hijau dan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasia Semiawan, mengatakan berbagai produk hasil binaan Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan dipamerkan dalam acara tersebut, mulai dari madu, kopi, hingga produk berbasis hasil hutan bukan kayu lainnya.
Menurutnya, karya-karya inovatif itu menunjukkan bahwa generasi muda mampu menjaga kelestarian alam sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari sumber daya hutan secara berkelanjutan.
“Kiprah generasi muda sangat signifikan. Mereka mampu merawat alam sekaligus memanfaatkannya tanpa merusak lingkungan,” ujar Indra seusai acara peluncuran film dokumenter tersebut.
Ia menjelaskan sebagian besar produk kreatif tersebut dikembangkan oleh mahasiswa dan pemuda penggerak yang memanfaatkan potensi perhutanan sosial melalui konsep agroforestri. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa menebang atau merusak tegakan pohon di kawasan hutan.
Kementerian Kehutanan mencatat kontribusi program perhutanan sosial terhadap perekonomian nasional telah mencapai Rp1,08 triliun sejak 2023. Kontribusi terbesar berasal dari komoditas hasil hutan bukan kayu seperti bambu, rotan, madu, rempah-rempah, serta jasa lingkungan.
Sementara itu, Rut Krüger Giverin mengaku terkesan dengan kreativitas generasi muda Indonesia dalam menciptakan solusi berbasis alam atau nature-based solutions untuk menghadapi perubahan iklim.
Ia menilai inovasi yang lahir dari sistem agroforestri membuktikan bahwa anak muda Indonesia memiliki kesiapan menghadapi tantangan lingkungan global melalui aksi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.
“Sangat menginspirasi melihat anak-anak muda menciptakan solusi inovatif melalui agroforestri, mulai dari produksi madu, kopi, hingga produk ramah lingkungan lainnya,” kata Giverin.
Pameran inovasi ramah lingkungan tersebut diharapkan mampu memicu semangat kewirausahaan hijau di kalangan generasi muda Indonesia sekaligus mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca melalui program Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030.
Pemerintah Norwegia sendiri disebut telah menyalurkan kontribusi berbasis hasil sebesar 216 juta dolar AS guna mendukung target Indonesia FOLU Net Sink 2030. Dana tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menekan emisi gas rumah kaca sektor kehutanan dan lahan.
Melalui program tersebut, Indonesia menargetkan penurunan emisi dari proyeksi 2,8 miliar ton CO2 ekuivalen pada 2030 menjadi sekitar 1,2 miliar ton CO2 ekuivalen.
Strategi utama untuk mencapai target itu antara lain melalui penanaman pohon guna meningkatkan cadangan karbon, perlindungan kawasan hutan lindung dan taman nasional, serta menjaga lahan gambut yang memiliki potensi emisi jauh lebih tinggi dibandingkan tanah biasa.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




