Berita

Kesaksian, peluncuran buku foto Surga yang Dibisukan

“Surga yang Dibisukan”: Dokumentasi Visual dan Seruan Penyelamatan Hutan Papua

Greenpeace Indonesia meluncurkan buku foto berjudul “Surga yang Dibisukan” di KALA di Kalijaga, Jakarta Selatan. Peluncuran ini bertepatan dengan momentum Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (9 Agustus), sekaligus menjadi platform diskusi lintas generasi dan sektor mengenai masa lalu, kondisi terkini, serta masa depan Tanah Papua.

Urgensi Kelestarian Hutan bagi Identitas Adat

Salah satu sorotan utama dalam peluncuran ini adalah keresahan yang disampaikan oleh Maria Amote, seorang perempuan muda dari suku Wambon. Bagi masyarakat adat Papua, hutan bukan sekadar sumber daya alam, melainkan warisan identitas.

  • Hutan sebagai Identitas: Maria menegaskan bahwa tanpa hutan adat, identitasnya sebagai perempuan adat akan hilang.
  • Warisan Leluhur: Hutan dianggap sebagai satu-satunya “harta” yang diwariskan untuk keberlangsungan anak cucu di masa depan.
  • Filosofi: Bagi masyarakat setempat, “Hutan adalah Ibu”—sumber kehidupan dan tempat jati diri mereka tumbuh.

Ancaman Deforestasi dan Industri Ekstraktif

Kepala Kampanye Global Greenpeace untuk Hutan Indonesia, Kiki Taufik, mengungkapkan temuan dari dua dekade kerja lapangan di Papua. Meskipun keindahan alam Papua sering dijuluki “Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi,” ancaman nyata terus mengintai:

  1. Ekspansi Industri: Industri ekstraktif menjadi ancaman utama yang memicu deforestasi.
  2. Kerusakan Lingkungan: Alam yang sebelumnya utuh kini perlahan mulai terfragmentasi akibat pembukaan lahan besar-besaran.
  3. Ketahanan Masyarakat: Di tengah ancaman tersebut, buku ini juga merekam ketangguhan masyarakat adat dalam menjaga ruang hidup mereka.

Kolaborasi Strategis dan Solusi Berbasis Wilayah

Diskusi ini juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat sipil, dan organisasi internasional.

  • Perencanaan Wilayah: Widhi Handoyo (Kementerian LHK) mencontohkan Raja Ampat, di mana 70% wilayahnya merupakan fungsi lindung. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi di Papua harus berbasis potensi lokal, seperti perikanan berkelanjutan dan pariwisata, bukan industri perusak hutan.
  • Keterbukaan Pemerintah Daerah: Frengky Albert Saa (Bapperida Papua Barat Daya) menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk berkolaborasi dengan organisasi non-pemerintah (NGO) seperti Greenpeace dalam meriset dan menjaga ekosistem.

Struktur Buku Foto “Surga yang Dibisukan”

Buku ini dirancang menggunakan pendekatan Antropologi Visual untuk memberikan informasi yang konkret bagi publik maupun masyarakat Papua sendiri. Isinya terbagi menjadi empat segmen utama:

SegmenFokus Konten
Budaya & KeseharianDokumentasi cara hidup dan tradisi masyarakat adat.
BiodiversitasVisualisasi kekayaan flora dan fauna unik khas Papua.
Ancaman KerusakanPotret nyata dampak deforestasi dan industri ekstraktif.
Praktik BaikDokumentasi solusi dan upaya komunitas lokal dalam menjaga alam.

Penutup: Seni sebagai Media Aspirasi

Acara peluncuran ini juga dimeriahkan oleh penampilan dari Sunrise West Papua dan band Navicula, yang membawakan lagu baru berjudul “Papua”. Melalui karya seni dan buku foto ini, diharapkan muncul kesadaran kolektif bahwa menjaga Papua adalah tanggung jawab bersama demi menjaga “Surga” yang kini mulai terancam bungkam.

sumber:

https://www.ekuatorial.com/2025/09/kesaksian-peluncuran-buku-foto-surga-yang-dibisukan/

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO