Tahukah Anda

Krisis Iklim Memiliki Harga Kemanusiaan: Masyarakat Rentan Menanggung Dampak Terbesar

Perubahan iklim bukan sekadar persoalan kenaikan suhu bumi atau kerusakan lingkungan. Di balik meningkatnya bencana, gelombang panas, dan perubahan pola cuaca, terdapat krisis kemanusiaan yang semakin nyata. Ironisnya, kelompok masyarakat yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca justru sering menjadi pihak yang paling berat menanggung dampaknya.

Ketika Perubahan Iklim Memperbesar Ketimpangan

Dampak perubahan iklim tidak dirasakan secara merata oleh seluruh penduduk dunia. Masyarakat miskin, komunitas di wilayah pesisir, petani kecil, serta penduduk di negara berkembang umumnya memiliki keterbatasan sumber daya untuk menghadapi bencana dan memulihkan kehidupan setelahnya.

Diperkirakan sekitar 3,3 hingga 3,6 miliar orang hidup dalam kondisi yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Kerentanan tersebut semakin terlihat dari data kematian akibat bencana. Pada periode 2010–2020, angka kematian akibat banjir, kekeringan, dan badai di wilayah dengan tingkat kerentanan sangat tinggi tercatat 15 kali lebih besar dibandingkan wilayah dengan tingkat kerentanan sangat rendah.

Angka tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga ketimpangan sosial dan ekonomi. Wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur, layanan kesehatan, sistem peringatan dini, dan kapasitas penanggulangan bencana menghadapi risiko yang jauh lebih besar.

Panas Ekstrem Mengancam Kesehatan dan Produktivitas

Kenaikan suhu bumi membawa konsekuensi langsung terhadap kesehatan manusia dan aktivitas ekonomi. Paparan panas ekstrem dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi pekerja yang beraktivitas di luar ruangan, kelompok lanjut usia, anak-anak, dan masyarakat dengan akses terbatas terhadap fasilitas pendingin.

Pada periode 2012–2021, kematian yang berkaitan dengan paparan panas rata-rata mencapai sekitar 546.000 jiwa setiap tahun. Sementara itu, pada 2024, paparan panas menyebabkan hilangnya sekitar 639 miliar jam kerja potensial, menjadi angka tertinggi yang tercatat dalam materi tersebut.

Dampaknya tidak hanya berupa penurunan produktivitas. Pekerja informal, buruh konstruksi, petani, nelayan, dan kelompok yang menggantungkan penghasilan pada pekerjaan fisik sangat rentan kehilangan pendapatan ketika suhu ekstrem membatasi kemampuan mereka untuk bekerja.

Bencana Memicu Perpindahan dan Kemiskinan

Perubahan iklim juga memperburuk risiko perpindahan penduduk. Banjir, badai, kekeringan, dan bencana lainnya dapat memaksa masyarakat meninggalkan tempat tinggal serta sumber penghidupannya.

Pada 2025, bencana dari berbagai jenis bahaya, termasuk yang tidak berkaitan langsung dengan iklim, menyebabkan sekitar 29,9 juta perpindahan internal penduduk. Sekitar 60 persen di antaranya dipicu oleh badai.

Di sisi lain, perubahan iklim berpotensi memperburuk kemiskinan. Dalam berbagai skenario, diperkirakan terdapat tambahan 32 hingga 132 juta orang yang dapat terdorong ke dalam kemiskinan ekstrem pada 2030.

Perempuan dan anak perempuan juga menghadapi risiko yang tidak kalah besar. Dalam skenario iklim terburuk, hingga 158 juta perempuan dan anak perempuan berpotensi mengalami kemiskinan tambahan pada pertengahan abad ini. Kondisi tersebut berkaitan dengan ketimpangan akses terhadap sumber daya, pekerjaan, pendidikan, layanan kesehatan, dan kemampuan beradaptasi.

Anak-Anak Berada di Garis Depan Krisis Iklim

Kelompok anak-anak termasuk yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim karena kondisi fisik, kebutuhan perkembangan, serta ketergantungan mereka terhadap lingkungan dan layanan dasar.

Diperkirakan sekitar 1 miliar anak tinggal di 33 negara yang menghadapi risiko iklim sangat tinggi. Dari jumlah tersebut, sekitar 920 juta anak sangat terpapar kelangkaan air, sedangkan 820 juta lainnya menghadapi paparan gelombang panas.

Krisis air dapat mengganggu kesehatan, sanitasi, dan ketersediaan pangan. Sementara itu, suhu ekstrem dapat meningkatkan risiko penyakit dan mengganggu kegiatan belajar. Ketika bencana merusak rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan, masa depan anak-anak juga ikut terancam.

Dengan demikian, perlindungan anak dari dampak perubahan iklim perlu menjadi bagian penting dalam kebijakan adaptasi, pembangunan infrastruktur, dan penyediaan layanan dasar.

Tanggung Jawab Emisi Tidak Terbagi Secara Merata

Ketimpangan dalam krisis iklim juga terlihat dari kontribusi emisi. Materi yang menjadi dasar artikel ini menunjukkan bahwa 10 persen rumah tangga dengan emisi per kapita tertinggi menyumbang sekitar 34–45 persen emisi rumah tangga berbasis konsumsi. Sebaliknya, kelompok 50 persen terbawah hanya menyumbang sekitar 13–15 persen.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa pola konsumsi dan kemampuan ekonomi memiliki hubungan erat dengan besarnya jejak karbon. Kelompok masyarakat dengan tingkat konsumsi tinggi cenderung memiliki kontribusi emisi yang jauh lebih besar, sementara kelompok berpendapatan rendah sering menghadapi dampak iklim yang lebih berat.

Jika tidak disertai tindakan iklim dan pembangunan yang memadai, diperkirakan hingga 216 juta orang berpotensi melakukan migrasi di dalam negaranya sendiri pada 2050, yang tersebar di enam kawasan dunia.

Angka tersebut merupakan proyeksi yang bergantung pada berbagai skenario emisi dan pembangunan, bukan kepastian bahwa seluruh perpindahan tersebut akan terjadi.

Aksi Iklim Harus Menggabungkan Mitigasi dan Adaptasi

Menghadapi krisis iklim membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi dampaknya.

Mitigasi melalui transisi energi bersih, perlindungan hutan, efisiensi energi, dan pengurangan emisi industri tetap menjadi kebutuhan mendasar. Namun, upaya tersebut harus berjalan bersama adaptasi melalui pembangunan infrastruktur tahan bencana, penguatan sistem peringatan dini, perlindungan sumber air, pertanian tangguh iklim, dan peningkatan akses layanan kesehatan.

Kebijakan iklim juga perlu memperhatikan keadilan sosial. Dukungan bagi masyarakat rentan, pekerja yang terdampak transisi ekonomi, perempuan, anak-anak, dan komunitas di wilayah rawan bencana harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan.

Pada akhirnya, perubahan iklim bukan hanya tentang seberapa cepat dunia menurunkan emisi, tetapi juga tentang siapa yang dilindungi dan siapa yang menanggung konsekuensinya. Krisis ini mengingatkan bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap sesama manusia. Sebab, masa depan yang berkelanjutan tidak akan tercapai apabila kelompok paling rentan terus dibiarkan menghadapi dampak krisis yang kontribusinya terhadap masalah tersebut justru relatif kecil.

Sumber inspirasi: Climate Justice – The Human Cost of a Warming World

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO