Berita

Lebih dari seribu titik panas ditemukan di atas rawa yang disulap jadi PSN Papua Selatan

Pantau Gambut Temukan 1.310 Titik Panas di Bentang Rawa Gambut

Di tengah klaim keberhasilan pemerintah dalam mengalihfungsikan kawasan rawa menjadi area produksi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan, temuan lapangan justru menunjukkan ancaman krisis ekologis serius.

Organisasi masyarakat sipil Pantau Gambut mencatat sedikitnya 1.310 titik panas (hotspot) di area PSN Papua Selatan sepanjang semester pertama (Januari–Juni) tahun 2026. Temuan ini mengindikasikan bahaya pengeringan lahan gambut akibat alih fungsi lahan skala masif.

1. Sebaran Data Titik Panas (Hotspot) Periode Januari–Juni 2026

Berdasarkan analisis Pantau Gambut, lonjakan titik panas terdistribusi di beberapa wilayah administrasi di Provinsi Papua Selatan, dengan konsentrasi tertinggi di Kabupaten Mappi:

Kabupaten Jumlah Titik Panas (Hotspot) Persentase / Catatan
Mappi 1.007 Wilayah penyumbang terbesar dan paling rawan
Merauke 217 Area ekspansi pertanian & PSN skala besar
Asmat 75 Ekosistem bentang rawa basah
Boven Digoel 11 Area perbatasan tutupan hutan
Total 1.310 Data Januari – Juni 2026

2. Anomali Hidrologis & Ancaman Karhutla

Rawa gambut secara alami berfungsi sebagai spons raksasa yang menyimpan cadangan air saat musim hujan dan membasahi tanah saat musim kemarau. Pembukaan kanal-kanal air demi proyek infrastruktur dan pertanian skala besar berdampak fatal terhadap ekosistem ini:

  • Pengeringan Gambut Masif: Kanalisasi memicu keluarnya air dari lapisan gambut, mengubah lahan basah menjadi sangat mudah terbakar.

  • Amplifikasi Iklim (El Niño): Cuaca ekstrem dan musim kering mempercepat proses pengeringan lahan yang telah rusak.

  • Emisi Karbon Tinggi: Kebakaran gambut terjadi di bawah permukaan tanah (subsurface fire), sangat sulit dipadamkan, dan melepaskan emisi karbon dalam jumlah masif ke atmosfer.

3. Kritik Terhadap Paradigma Pembangunan Teknokratis

Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menyoroti bahwa indikator keberhasilan pembangunan selama ini terlalu berfokus pada target angka kuantitatif seperti luas lahan yang dibuka atau tonase produksi pangan tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan.

Celah Kebijakan & Restorasi Lahan:

  1. Pembangunan vs Restorasi yang Kontradiktif: Pembangunan fisik Infrastruktur Pembasahan Gambut (IPG) seperti sekat kanal kalah cepat dibanding laju deforestasi dan pengeringan lahan akibat penetapan PSN baru.

  2. Pengabaian Meaningful Assessment: Proyek skala raksasa sering kali meluncur tanpa kajian risiko ekologis dan hidrologis (environmental risk assessment) yang memadai.

  3. Ancaman Ruang Hidup: Hilangnya fungsi alami rawa langsung merenggut kedaulatan pangan dan keselamatan masyarakat adat setempat.

Penilaian risiko ekologis dan hidrologis harus dijadikan prasyarat utama sebelum kawasan rawa gambut dibuka. Tanpa evaluasi menyeluruh, biaya pemulihan lingkungan, risiko bencana kabut asap, dan hilangnya ruang hidup masyarakat adat di masa depan akan jauh melampaui keuntungan ekonomi jangka pendek yang dihasilkan.

sumber:
https://www.ekuatorial.com/2026/07/lebih-dari-seribu-titik-panas-ditemukan-di-atas-rawa-yang-disulap-jadi-psn-papua-selatan/

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO