Dokumen

Mengubah Lingkungan Terbangun: Mengapa Kota Berkelanjutan Harus Dirancang sebagai Satu Kesatuan Sistem?

Bangunan, jalan, transportasi, energi, ruang terbuka hijau, dan pola permukiman sering direncanakan sebagai sektor yang terpisah. Padahal, seluruh elemen tersebut saling memengaruhi dan bersama-sama menentukan kualitas hidup masyarakat serta jejak ekologis sebuah kota. Transformasi menuju kota berkelanjutan karena itu membutuhkan perubahan cara berpikir: bukan sekadar memperbaiki bagian-bagian kota, tetapi menata ulang hubungan di antara seluruh sistemnya.

Laporan Transforming the Built Environment: A Systems Thinking Approach for Sustainable Urban Futures yang diterbitkan pada Juni 2025 merupakan publikasi bersama The Club of Rome dan Hot or Cool Institute. Disusun oleh Aimée Aguilar Jaber, Tatiana Samsonova, Laetitia Mairlot, Cynthia Echave, dan Nathalie Spittler, laporan ini mengajak para pengambil kebijakan melihat lingkungan terbangun melalui pendekatan berpikir sistem (systems thinking).

Gagasan utamanya berangkat dari kenyataan bahwa lingkungan terbangun bukan hanya kumpulan bangunan dan infrastruktur fisik. Ia merupakan jaringan hubungan antara sistem lingkungan, sosial, ekonomi, budaya, serta perilaku manusia. Cara kota dirancang akan memengaruhi bagaimana masyarakat tinggal, bekerja, bergerak, mengonsumsi energi, dan berinteraksi dengan alam. Hot or Cool+1

Lingkungan terbangun adalah sistem yang saling terhubung

Istilah built environment atau lingkungan terbangun mencakup seluruh struktur fisik dan jaringan buatan manusia yang menopang kehidupan perkotaan. Di dalamnya terdapat bangunan, jalan, transportasi, jaringan energi, fasilitas air dan sanitasi, ruang publik, serta berbagai infrastruktur lainnya.

Menurut laporan ini, persoalan muncul ketika setiap komponen direncanakan dan dikelola secara terpisah. Kebijakan transportasi, misalnya, dapat berfokus pada penambahan jalan dan kendaraan tanpa mempertimbangkan lokasi perumahan, pusat pekerjaan, sekolah, fasilitas kesehatan, dan layanan publik.

Akibatnya, kota dapat mengalami perluasan wilayah yang tidak terkendali, ketergantungan pada kendaraan pribadi, peningkatan konsumsi energi, serta tekanan terhadap ekosistem. Bahkan, kebijakan yang terlihat ramah lingkungan pada satu sektor belum tentu menghasilkan perbaikan apabila hubungan dengan sektor lain tidak diperhitungkan.

Laporan ini menegaskan bahwa perubahan paling mendasar tidak selalu berasal dari memperbaiki setiap komponen secara terpisah, tetapi dari menata ulang hubungan dan cara kerja keseluruhan sistem perkotaan. Club of Rome

Empat ruang solusi dalam transformasi kota

Salah satu kontribusi utama publikasi ini adalah kerangka empat solution spaces atau ruang solusi. Kerangka tersebut dibangun berdasarkan dua dimensi:

  • Cakupan persoalan: apakah kebijakan hanya melihat masalah secara sempit dan sektoral, atau mengintegrasikan tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
  • Pendekatan pengambilan keputusan: apakah kebijakan hanya mengoptimalkan komponen yang sudah ada, atau mengubah hubungan dan struktur sistem secara menyeluruh.

Empat ruang solusi yang dihasilkan adalah sebagai berikut.

1. Optimised status quo – Kota cerdas tetapi tidak berkelanjutan

Pendekatan ini berfokus pada peningkatan efisiensi komponen tertentu tanpa mengubah struktur sistem. Contohnya adalah mengganti kendaraan konvensional dengan kendaraan listrik, tetapi tetap mempertahankan kota yang bergantung pada kendaraan pribadi.

Teknologi memang dapat mengurangi emisi tertentu, tetapi persoalan konsumsi sumber daya, kebutuhan ruang jalan, ketimpangan akses mobilitas, dan pola perluasan kota tetap berlangsung.

2. Sectorial optimisation – Sektor berkelanjutan dalam kota yang belum berkelanjutan

Pada tahap ini, cakupan kebijakan mulai mempertimbangkan lebih banyak persoalan sosial dan lingkungan, tetapi penyelesaiannya masih dilakukan berdasarkan sektor masing-masing.

Misalnya, pemerintah mengembangkan transportasi publik, meningkatkan efisiensi energi bangunan, dan memperluas ruang hijau sebagai program terpisah. Setiap sektor dapat menunjukkan kemajuan, tetapi belum tentu menghasilkan perubahan menyeluruh karena hubungan antarsektor belum ditata.

3. Emergent paradigms – Pulau-pulau keberhasilan yang belum terintegrasi

Pendekatan ini mulai menggunakan pemikiran sistemik dan menghasilkan model pembangunan yang lebih inovatif. Namun, perubahan tersebut sering terhenti pada proyek atau kawasan tertentu karena tidak berhasil terhubung dengan sistem kota secara keseluruhan.

Contohnya adalah kawasan percontohan yang memiliki bangunan hemat energi, ruang hijau, pengelolaan air, dan transportasi berkelanjutan, tetapi terpisah dari kawasan sekitarnya serta tidak terintegrasi dengan jaringan kota.

4. Societal transformation – Kota untuk manusia dan planet

Inilah ruang solusi yang ingin dicapai. Perencanaan dilakukan dengan mempertimbangkan hubungan antara infrastruktur, ekosistem, kebutuhan masyarakat, budaya, dan aktivitas ekonomi.

Kota tidak hanya mengejar efisiensi bangunan atau kelancaran transportasi, tetapi memastikan masyarakat dapat mengakses pekerjaan, pendidikan, kesehatan, ruang publik, dan kebutuhan sehari-hari dengan cara yang lebih rendah karbon, inklusif, serta sesuai dengan batas ekologis.

Keempat ruang tersebut bukan peringkat kota berdasarkan ukuran tertentu, melainkan kerangka untuk memahami arah kebijakan dan konsekuensi dari pilihan pembangunan. Club of Rome

Enam studi kasus: bagaimana pendekatan sistemik diterapkan?

Laporan ini tidak berhenti pada konsep. Penulis menyajikan enam studi kasus untuk memperlihatkan bagaimana pendekatan berpikir sistem dapat digunakan dalam berbagai persoalan lingkungan terbangun.

Heat Pumps in the UK 2026: Real Costs, Savings and Grants | PowerGuardian

1. Strategi bangunan dan pemanasan di Inggris

Meninjau bagaimana kebijakan bangunan dan sistem pemanasan perlu dipahami sebagai satu kesatuan dalam mencapai target net-zero, bukan hanya melalui peningkatan efisiensi teknologi bangunan.

Urban Systems Lab

2. Akses masyarakat terhadap ruang alam dan perlindungan biodiversitas

Membahas kebutuhan menyeimbangkan akses publik terhadap ruang alami dengan perlindungan dan peningkatan keanekaragaman hayati.

Colau cronifica la crisis de personal en Parcs i Jardins

3. Superblocks di Barcelona

Memperlihatkan pendekatan ekosistemik dalam perencanaan kota dengan menata ulang ruang jalan, mobilitas, ruang publik, dan kualitas lingkungan permukiman.

Presentació de l’estudi “Impacte en la salut de la rehabilitació energètica d’edificis residencials” – AUS Arquitectes

4. Renovasi energi bangunan di Metropolitan Region of Barcelona

Mengkaji peningkatan efisiensi energi bangunan dengan mempertimbangkan konteks wilayah metropolitan dan hubungan antaraktor yang terlibat.

Electric cars save drivers £900 in tax during the first year alone

5. Kebijakan kendaraan listrik di Inggris

Menjelaskan perlunya mengidentifikasi konsekuensi yang tidak diinginkan dari perubahan teknologi, terutama apabila elektrifikasi kendaraan tidak disertai perubahan pola mobilitas dan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Redesigning Ireland’s Transport for Net Zero | OECD

6. Perancangan ulang sistem transportasi Irlandia

Menggunakan pendekatan sistem untuk melihat transportasi sebagai bagian dari hubungan antara tata ruang, aksesibilitas, kebutuhan perjalanan, dan kualitas kehidupan masyarakat.Club of Rome

Studi kasus tersebut memperlihatkan bahwa perubahan kebijakan tidak cukup dilakukan dengan memperkenalkan teknologi atau program baru. Pemerintah perlu memahami bagaimana suatu kebijakan berinteraksi dengan sektor lain dan apakah perubahan tersebut benar-benar mengubah hasil akhir yang ingin dicapai.

Mengapa transformasi sistemik sulit diwujudkan?

Laporan ini juga mengidentifikasi berbagai hambatan yang membuat pendekatan sistemik sulit diterapkan secara luas.

Fragmentasi kelembagaan dan kebijakan. Perencanaan tata ruang, transportasi, perumahan, energi, dan lingkungan sering dikelola oleh institusi berbeda dengan target, anggaran, dan prioritas masing-masing. Koordinasi lintas sektor maupun lintas tingkat pemerintahan belum selalu berjalan efektif.

Orientasi jangka pendek. Kepentingan ekonomi dan target proyek dalam periode tertentu sering lebih dominan dibandingkan kebutuhan kesejahteraan dan stabilitas lingkungan dalam jangka panjang.

Keterbatasan partisipasi masyarakat. Masyarakat dan kelompok terdampak belum selalu terlibat secara bermakna dalam pembentukan visi, desain, dan implementasi kebijakan perkotaan.

Keterbatasan pemahaman terhadap hubungan antarsistem. Dampak kebijakan sering dinilai berdasarkan hasil langsung, sementara konsekuensi tidak langsung, efek berantai, dan perubahan perilaku belum diperhitungkan secara memadai.

Kesulitan memperluas model keberhasilan. Proyek percontohan yang berhasil belum tentu dapat direplikasi karena perbedaan konteks, keterbatasan dukungan kelembagaan, pendanaan, dan resistensi terhadap perubahan.

Hambatan-hambatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi kota tidak hanya membutuhkan teknologi dan investasi, tetapi juga perubahan tata kelola, cara pengambilan keputusan, serta pola kolaborasi. Club of Rome

Cities LOOP: membawa pemikiran sistem ke dalam praktik kota

Sebagai tindak lanjut, laporan memperkenalkan inisiatif Cities LOOP (Cities Living on One Planet). Inisiatif ini dimaksudkan untuk membantu kota mengoperasionalkan pemikiran sistemik dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan.

Pendekatannya menekankan beberapa hal:

  • Membangun pemahaman bersama mengenai persoalan kota yang saling berhubungan.
  • Melibatkan pemangku kepentingan melalui proses kolaborasi dan co-creation.
  • Mengidentifikasi hubungan, ketergantungan, serta hambatan dalam sistem perkotaan.
  • Meninjau kembali prioritas dan strategi kebijakan agar tidak terjebak pada penyelesaian masalah sektoral.
  • Mengembangkan jalur perubahan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan setiap kota.

Cities LOOP juga menekankan pentingnya membangun visi bersama antara pengambil kebijakan, masyarakat, praktisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya agar perubahan yang dirancang tidak hanya tepat secara teknis, tetapi juga memiliki dukungan sosial dan kelembagaan yang diperlukan untuk dilaksanakan. Club of Rome+1

Relevansi bagi pembangunan kota di Indonesia

Kerangka yang ditawarkan laporan ini sangat relevan untuk menjawab persoalan perkotaan di Indonesia, terutama karena banyak tantangan lingkungan kota memiliki keterkaitan lintas sektor.

Jakarta, misalnya, tidak dapat menyelesaikan persoalan banjir hanya melalui pembangunan saluran dan tanggul. Risiko banjir juga dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan, berkurangnya kawasan resapan, pengelolaan daerah aliran sungai, kondisi pesisir, penurunan muka tanah, dan pola pembangunan di wilayah metropolitan yang lebih luas.

Demikian pula, kebijakan transportasi publik tidak akan memberikan hasil maksimal apabila pembangunan perumahan dan pusat kegiatan tetap mendorong masyarakat tinggal jauh dari tempat kerja dan fasilitas pelayanan. Keterjangkauan transportasi, tata ruang, dan distribusi fasilitas publik perlu direncanakan bersama.

Beberapa penerapan pendekatan sistemik yang dapat dipertimbangkan antara lain:

BidangPendekatan sektoralPendekatan sistemik
Banjir perkotaanMenambah kapasitas drainaseMengintegrasikan tata ruang, DAS, resapan, ruang hijau, dan drainase
TransportasiMenambah kendaraan dan jalanMenghubungkan transportasi publik, perumahan, pekerjaan, dan fasilitas umum
BangunanMeningkatkan efisiensi energi gedungMengintegrasikan bangunan, jaringan energi, mobilitas, air, dan perilaku penghuni
Ruang hijauMenambah taman secara terpisahMengembangkan jaringan ekologis yang terhubung dengan sungai dan kawasan permukiman
PerumahanMengejar jumlah unit rumahMemastikan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan lingkungan sehat

Tentu saja, penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi kelembagaan, sosial, ekonomi, dan karakter ekologis setiap wilayah. Kerangka dari laporan ini bukan resep desain yang dapat diterapkan seragam di seluruh kota, melainkan alat untuk memperluas cara pemerintah memahami persoalan dan merumuskan kebijakan.

Mengubah ukuran keberhasilan pembangunan perkotaan

Pesan penting dari laporan ini adalah bahwa kota berkelanjutan tidak dapat dibangun hanya dengan mengumpulkan sebanyak mungkin proyek yang diberi label hijau atau ramah lingkungan.

Sebuah kota bisa memiliki gedung hemat energi, kendaraan listrik, taman kota, dan sistem transportasi modern, tetapi tetap menghasilkan ketimpangan, konsumsi sumber daya yang tinggi, dan tekanan ekologis apabila elemen-elemen tersebut tidak terintegrasi.

Karena itu, ukuran keberhasilan perlu bergeser dari sekadar efisiensi masing-masing komponen menuju kemampuan keseluruhan sistem kota dalam menyediakan kehidupan yang sehat, adil, rendah karbon, dan sesuai dengan batas ekologis.

Transformasi tersebut membutuhkan keberanian untuk meninjau ulang prioritas pembangunan, memperkuat koordinasi antarsektor, serta melibatkan masyarakat dalam menentukan masa depan ruang hidupnya.

Pada akhirnya, kota berkelanjutan bukanlah kota yang sekadar memiliki banyak infrastruktur hijau, melainkan kota yang seluruh sistemnya dirancang agar manusia dan alam dapat berkembang bersama.

Referensi utama:

  1. Aimée Aguilar Jaber, Tatiana Samsonova, Laetitia Mairlot, Cynthia Echave, dan Nathalie Spittler. (2025). Transforming the Built Environment: A Systems Thinking Approach for Sustainable Urban Futures. The Club of Rome dan Hot or Cool Institute. Baca laporan lengkap (PDF). Club of Rome
  2. Hot or Cool Institute – Transforming the Built Environment. Hot or Cool
  3. The Club of Rome – Rethinking Cities: A Systems Approach to Sustainable Urban Futures. Club of Rome

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO