Praktik Baik

Molase dan EM4 kunci keberhasilan biopori tidak bau

Inovasi Biopori Jumbo di Yogyakarta: Molase dan EM4 sebagai Rahasia Pengomposan Tanpa Bau

RW 05 Mangkuyudan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, telah berhasil mengubah tantangan sampah organik menjadi peluang melalui implementasi skema Biopori Jumbo. Proyek ini menyediakan solusi komunal yang efektif dan higienis untuk mengelola sampah rumah tangga, bahkan di tengah keterbatasan ruang pada gang sempit.

Kunci Keberhasilan: Perawatan Biologis yang Konsisten

Keunggulan Biopori Jumbo di Mangkuyudan terletak pada pemanfaatan dan perawatan aktivator biologis secara ketat, yang terdiri dari dua komponen utama:

  1. Tetes Tebu (Molase): Berfungsi sebagai sumber nutrisi dan energi bagi pertumbuhan bakteri.
  2. Mikroorganisme Efektif 4 (EM4): Mengandung kultur bakteri pengurai yang mempercepat dekomposisi sampah organik.

Menurut Ketua RW 05 Mangkuyudan, Ganang Irwan Surya Yudha, kunci utama keberhasilan adalah penyiraman kedua bahan tersebut yang harus dilakukan secara rutin setiap 3 hari sekali.

“Di situ akan merawat 3 hari sekali, sehingga sampah organik yang ada di biopori itu tidak bau dan tentunya proses pengkomposan akan lebih bagus,” ujar Ganang.

Apabila penyiraman terlewat, sampah organik akan membusuk secara tidak sempurna, yang berujung pada timbulnya bau tak sedap. Perawatan rutin ini memastikan proses dekomposisi berjalan secara aerobik dan efisien, menghasilkan kompos yang lebih baik.

Spesifikasi dan Volume Sampah yang Dikelola

Biopori yang digunakan di RW 05 bukanlah lubang resapan biasa, melainkan lubang “jumbo” yang dirancang untuk kebutuhan komunal:

  • Jumlah Unit: Dua lubang biopori.
  • Dimensi: Masing-masing memiliki diameter besar 80 cm dengan kedalaman mencapai 2 hingga 2,5 meter.
  • Input Harian: Warga memasukkan beragam sampah organik, seperti sisa makanan, sampah dapur, daun, dan ranting, setiap hari ke dalam lubang ini.

Dampak Pengurangan Sampah Komunal

Proyek ini terbukti efektif mengurangi beban sampah dari seluruh RW 05 Mangkuyudan. Berdasarkan data Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) setempat:

  • Populasi: RW 05 terdiri dari sekitar 200 Kepala Keluarga (KK) yang terbagi dalam 4 RT.
  • Produksi Sampah: Rata-rata setiap rumah tangga menghasilkan 2 kilogram sampah organik setiap harinya.

Ini berarti, dua lubang Biopori Jumbo tersebut secara kolektif membantu mengolah sekitar 400 kilogram (0,4 ton) sampah organik per hari, memberikan solusi signifikan bagi penanganan sampah di tingkat lingkungan.

Inisiatif Biopori Jumbo ini menunjukkan bagaimana kolaborasi komunitas, didukung oleh intervensi bioteknologi sederhana, dapat menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, meminimalkan bau, dan menghasilkan manfaat ekologis di lingkungan padat penduduk.

sumber:
https://www.instagram.com/reel/DOhRWVbgXM-/?igsh=dHE1dTl5YTRydmVp

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO