Pakar geologi UGM banjir bandang Sumatera terjadi di endapan purba, siklus makin pendek

Analisis Geologis Banjir Bandang Sumatera: Siklus Bencana di Endapan Purba Memendek Drastis
Pakar geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dwikorita Karnawati, menyoroti kondisi geologis kritis di lokasi terjadinya banjir bandang di Sumatera. Menurutnya, bencana yang terjadi baru-baru ini terjadi di atas lokasi historis, yaitu tumpukan endapan banjir bandang purba yang sudah berulang kali terjadi.
Lokasi Bencana adalah Bantaran Banjir Bandang Purba
Prof. Dwikorita, yang juga Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, menjelaskan bahwa berdasarkan rekaman video di lokasi kejadian, wilayah tersebut secara geologis merupakan bantaran banjir bandang.
“Artinya, tempat-tempat hunian saat ini itu merupakan akumulasi tumpukan endapan banjir bandang purba yang sudah berkali-kali,” ujar Dwikorita.
Hal ini mengindikasikan bahwa area yang saat ini dihuni atau dimanfaatkan adalah jalur alami aliran material saat terjadi banjir bandang di masa lalu.
Pemendekan Siklus Bencana Akibat Pengaruh Manusia
Temuan paling mengkhawatirkan adalah pemendekan drastis periode ulang kejadian banjir bandang tersebut.
| Faktor | Siklus Alami (Sejarah) | Siklus Saat Ini (Antropogenik) |
| Periode Ulang | Paling tidak 50 tahun sekali | 5 hingga 10 tahun sekali |
| Penyebab Utama | Proses Alamiah | Perubahan Lahan (Antropogenik) |
Prof. Dwikorita menjelaskan bahwa secara alamiah, periode terulangnya bencana serupa cukup panjang, sekitar 50 tahun (berdasarkan studi dan wawancara dengan penduduk tahun 2003). Namun, perubahan tata guna lahan (antropogenik) telah memperpendek siklus tersebut.
“Sekarang kejadiannya mungkin lima tahun, 10 tahun terulang lagi. Itu yang pengaruh antropogenik, yaitu lahan yang berubah. Nggak usah dirubah, nggak usah dirusak lahannya, itu sudah rapuh. Apalagi dirusak,” tegasnya.
Rekomendasi Mitigasi dan Pemetaan Ulang
Untuk memitigasi risiko bencana berulang, Prof. Dwikorita menekankan dua poin penting:
1. Pemetaan Ulang Wilayah Rawan
Diperlukan pemetaan ulang secara menyeluruh di wilayah rawan banjir bandang. Setiap kejadian bencana dapat memunculkan sedimentasi baru yang meningkatkan elevasi suatu tempat. Akibatnya:
- Sedimen akan mencari jalur baru yang lebih rendah, membuat jalur banjir bandang semakin melebar dari jalur historisnya.
- Tata ruang dan perencanaan pembangunan harus disesuaikan dengan perkembangan perubahan tata guna lahan dan kondisi sedimen terkini.
2. Prioritas Pemulihan Ekologi
Daerah yang terbukti merupakan jalur banjir bandang sebaiknya didorong untuk pemulihan ekologi. Penggunaan lahan non-ekologis di zona tersebut meningkatkan probabilitas terjadinya bencana berulang.
Ia memperingatkan bahwa jika tidak ada pemulihan ekologi yang dilakukan, peristiwa serupa akan terjadi kembali dalam waktu yang sangat singkat, bahkan belum sampai satu generasi (kurang dari 50 tahun).
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




