Artikel

Pembangunan Tak Bisa Terus Mengulang Masa Lalu: Ketika Pertumbuhan Ekonomi Berhadapan dengan Batas Ekologis

Keberhasilan pembangunan pada masa lalu tidak otomatis dapat menjadi pembenaran untuk mengulang pola yang sama pada masa sekarang. Pembukaan hutan untuk perkebunan, pertanian, industri, maupun infrastruktur mungkin pernah memberikan manfaat ekonomi yang besar. Namun ketika tutupan hutan semakin berkurang, kebutuhan lahan terus meningkat, dan tekanan terhadap lingkungan semakin berat, setiap keputusan pembangunan harus memperhitungkan satu kenyataan mendasar: ruang ekologis mempunyai batas.

Sebuah pertanyaan sederhana dapat menggambarkan persoalan tersebut. Jika pada masa lalu pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit mampu menghasilkan pemasukan ekonomi yang besar, mengapa pola yang sama sekarang dipermasalahkan? Bukankah pembukaan hutan untuk persawahan, perkebunan, permukiman, dan berbagai kepentingan pembangunan juga telah dilakukan sejak dahulu?

Sekilas pertanyaan tersebut terdengar logis. Indonesia memang membutuhkan pangan, energi, lapangan kerja, infrastruktur, industri, dan berbagai aktivitas ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Perkebunan kelapa sawit juga telah berkembang menjadi bagian penting dari perekonomian. Karena itu, persoalannya bukan sekadar memilih antara pembangunan atau lingkungan, maupun menyederhanakan perdebatan menjadi sawit versus hutan.

Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah apakah keputusan pembangunan hari ini masih dapat menggunakan kondisi ekologis masa lalu sebagai dasar pembenarannya, sementara kondisi lingkungan yang kita hadapi sekarang sudah berubah.

Keberhasilan Masa Lalu Bukan Pembenaran untuk Kebijakan Hari Ini

Dalam artikel “Pembangunan Tidak Bisa Terus Mengulang Masa Lalu”, Oswar Mungkasa mengangkat sebuah percakapan dengan seseorang yang mempunyai kewenangan mengambil keputusan. Dalam percakapan tersebut muncul pandangan bahwa pada masa lalu hutan juga dikonversi menjadi perkebunan sawit dan menghasilkan pemasukan ekonomi, sementara pembukaan hutan untuk persawahan juga pernah dilakukan.

Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan penting mengenai paradigma pembangunan. Sesuatu yang pernah berhasil secara ekonomi pada masa lalu belum tentu dapat terus dilakukan dengan cara dan skala yang sama pada masa sekarang.

Kondisi awalnya sudah berbeda.

Jumlah penduduk bertambah, kawasan perkotaan berkembang, kebutuhan pangan dan energi meningkat, pembangunan infrastruktur meluas, kegiatan pertambangan dan perkebunan membutuhkan ruang, sementara kawasan hutan juga harus menjalankan fungsi ekologis sebagai pengatur tata air, penyimpan karbon, habitat keanekaragaman hayati, pelindung tanah, dan penyangga berbagai sistem kehidupan.

Karena itu, pertanyaan pembangunan seharusnya tidak berhenti pada “apakah kegiatan ini menghasilkan manfaat ekonomi?”, tetapi diperluas menjadi “apakah manfaat tersebut masih sebanding dengan kapasitas ekologis yang tersisa dan biaya lingkungan yang harus ditanggung?”

Indonesia Seperti Rumah yang Semakin Penuh

Artikel tersebut menggunakan analogi sederhana mengenai sebuah rumah.

Ketika seseorang baru membeli rumah dan ruangan masih kosong, berbagai perabot dapat dimasukkan dengan mudah. Meja, kursi, lemari, tempat tidur dan barang lainnya dapat ditempatkan tanpa menimbulkan persoalan. Bahkan masih terdapat ruang untuk menambahkan barang baru.

Namun keadaan berubah setelah bertahun-tahun.

Perabot semakin banyak, setiap sudut mulai terisi dan ruang gerak menjadi semakin sempit. Dalam keadaan seperti itu, keputusan menambahkan satu lemari baru tidak dapat menggunakan logika ketika rumah masih kosong.

Pertanyaannya bukan lagi:

“Dahulu lemari bisa dimasukkan, mengapa sekarang tidak?”

Melainkan:

“Apakah rumah masih mempunyai kapasitas untuk menampungnya?”

Analogi tersebut menggambarkan persoalan penggunaan ruang yang dihadapi Indonesia. Luas daratan tidak bertambah, sementara kebutuhan terhadap ruang terus meningkat. Permukiman membutuhkan lahan, demikian pula pertanian, perkebunan, pertambangan, kawasan industri, jalan, bendungan, pembangkit energi dan berbagai infrastruktur lainnya.

Pada saat yang sama, sebagian ruang harus tetap dipertahankan untuk hutan, kawasan konservasi, daerah resapan air, sempadan sungai, gambut, mangrove, habitat satwa, kawasan rawan bencana, dan berbagai fungsi ekologis lainnya.

Karena itu, semakin penuh “rumah” tersebut, semakin tinggi pula kehati-hatian yang diperlukan sebelum ruang yang tersisa dialihkan untuk penggunaan baru.

Setiap Hektare Lahan Memiliki Fungsi

Salah satu kelemahan dalam cara pandang pembangunan adalah melihat lahan hanya sebagai ruang kosong yang belum dimanfaatkan secara ekonomi. Padahal suatu kawasan yang terlihat tidak menghasilkan pendapatan langsung dapat menjalankan berbagai fungsi ekologis yang nilainya sangat besar.

Ketika hutan dikonversi menjadi perkebunan atau penggunaan lainnya, perubahan yang terjadi tidak sekadar mengganti pepohonan dengan komoditas baru. Perubahan tutupan lahan dapat memengaruhi tata air, meningkatkan risiko erosi, mengurangi habitat satwa, mengubah kondisi mikroklimat, melepaskan karbon yang sebelumnya tersimpan, serta memengaruhi kemampuan suatu bentang alam dalam menghadapi banjir, kekeringan dan berbagai tekanan lingkungan.

Masalahnya, manfaat ekonomi dari konversi lahan sering kali jauh lebih mudah terlihat. Nilai produksi dapat dihitung, investasi dapat dicatat, pajak dapat dihitung, lapangan kerja dapat dilaporkan, dan kontribusi terhadap perekonomian dapat dimasukkan ke dalam statistik.

Sebaliknya, kerugian ekologis sering muncul perlahan.

Kerusakan daerah tangkapan air mungkin baru terasa ketika banjir atau kekeringan terjadi. Hilangnya habitat baru terlihat ketika populasi satwa menurun. Erosi dan sedimentasi mungkin baru menjadi persoalan beberapa tahun kemudian. Emisi karbon tidak selalu dirasakan langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan.

Akibatnya muncul ketimpangan dalam cara kita menghitung pembangunan: manfaat ekonomi terlihat sekarang, sedangkan sebagian biaya ekologis diwariskan kepada masa depan.

Pembangunan Bukan Berarti Berhenti Memanfaatkan Alam

Mengakui adanya batas ekologis bukan berarti Indonesia harus menghentikan pembangunan. Masyarakat tetap membutuhkan pangan, energi, rumah, transportasi, lapangan kerja, industri dan berbagai fasilitas publik.

Persoalannya adalah bagaimana kebutuhan tersebut dipenuhi.

Ketika tekanan terhadap ruang masih rendah, ekspansi horizontal mungkin menjadi pilihan yang dianggap paling mudah. Tetapi ketika tekanan terhadap lingkungan semakin tinggi, pembangunan harus bergerak menuju peningkatan produktivitas, efisiensi penggunaan lahan, pemanfaatan kawasan yang telah terdegradasi, intensifikasi yang berkelanjutan, pemulihan ekosistem dan optimalisasi aset yang sudah tersedia.

Dengan paradigma tersebut, keberhasilan pembangunan tidak lagi diukur semata-mata berdasarkan berapa luas lahan baru yang berhasil dibuka, melainkan seberapa besar nilai ekonomi dan kesejahteraan yang dapat dihasilkan tanpa terus memperbesar tekanan terhadap ekosistem.

Ini merupakan perubahan mendasar dari paradigma ekspansi menuju paradigma optimalisasi.

Pertanyaan Penting: Berapa Banyak yang Sudah Kita Gunakan?

Analogi rumah membawa kita kepada persoalan yang lebih besar. Sebelum membeli perabot baru, pemilik rumah seharusnya mengetahui berapa banyak ruang yang masih tersedia.

Logika yang sama seharusnya berlaku dalam pembangunan.

Sebelum membuka kawasan baru, pertanyaannya tidak cukup hanya apakah proyek tersebut layak secara ekonomi. Pemerintah perlu mengetahui kondisi keseluruhan bentang alam: berapa luas hutan yang masih tersedia, kawasan mana yang mempunyai fungsi perlindungan penting, berapa kapasitas air yang tersedia, bagaimana kondisi keanekaragaman hayati, seberapa besar risiko bencana, bagaimana proyeksi perubahan iklim, dan seberapa besar tekanan kumulatif dari berbagai kegiatan yang telah berjalan.

Pendekatan tersebut penting karena dampak lingkungan tidak selalu berasal dari satu proyek besar. Puluhan atau ratusan proyek yang secara individual dianggap masih dapat diterima dapat menghasilkan tekanan kumulatif yang jauh lebih besar ketika berada dalam satu bentang alam.

Karena itu, pertanyaan pembangunan harus bergeser dari “apakah proyek ini masih memungkinkan?” menjadi “berapa banyak tekanan tambahan yang masih mampu ditanggung wilayah ini?”

Daya Dukung dan Daya Tampung Harus Menjadi Batas Pembangunan

Di sinilah konsep daya dukung dan daya tampung lingkungan menjadi penting.

Daya dukung pada dasarnya menggambarkan kemampuan lingkungan untuk menopang kehidupan dan aktivitas manusia, sedangkan daya tampung berkaitan dengan kemampuan lingkungan menerima berbagai tekanan tanpa kehilangan fungsi utamanya.

Konsep tersebut seharusnya tidak hanya muncul dalam dokumen lingkungan, tetapi menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum keputusan investasi dan pembangunan diambil.

Sebuah wilayah mungkin mempunyai potensi ekonomi untuk dikembangkan menjadi kawasan industri atau perkebunan, tetapi apabila sumber airnya sudah mengalami tekanan, tutupan hutannya berada pada kondisi kritis atau risiko bencananya meningkat, maka keputusan pembangunannya tidak dapat hanya didasarkan pada nilai investasi.

Dengan kata lain, kelayakan ekonomi tidak selalu berarti kelayakan ekologis.

Pembangunan berkelanjutan membutuhkan keduanya.

Biaya Lingkungan Tidak Boleh Terus Menjadi Tagihan Tersembunyi

Pembangunan juga perlu mulai menghitung biaya yang selama ini tidak masuk ke dalam harga suatu kegiatan ekonomi.

Jika pembukaan suatu kawasan meningkatkan sedimentasi sungai, siapa yang kemudian membayar pengerukan? Jika kerusakan daerah tangkapan air mengurangi ketersediaan air bersih, siapa yang menanggung pembangunan infrastruktur air baru? Jika perubahan tutupan lahan meningkatkan risiko banjir, siapa yang membayar kerusakan rumah, jalan dan fasilitas publik?

Sering kali biaya tersebut akhirnya ditanggung masyarakat dan pemerintah.

Dalam kondisi demikian, sebuah kegiatan dapat terlihat sangat menguntungkan pada tingkat perusahaan atau proyek, tetapi belum tentu memberikan keuntungan yang sama apabila seluruh biaya sosial dan ekologis diperhitungkan.

Inilah mengapa pembangunan modern membutuhkan cara menghitung manfaat dan biaya yang lebih lengkap. Pertumbuhan ekonomi tetap penting, tetapi pertumbuhan yang diperoleh dengan mengurangi kemampuan lingkungan menopang kehidupan pada masa depan dapat menghasilkan keuntungan jangka pendek sekaligus kewajiban jangka panjang.

Generasi Sekarang Tidak Memulai dari Kondisi yang Sama

Ada alasan lain mengapa pengalaman masa lalu tidak dapat digunakan begitu saja untuk membenarkan keputusan masa kini.

Generasi sebelumnya mengambil keputusan ketika kondisi lingkungan berbeda dengan kondisi sekarang.

Hutan yang tersedia mungkin lebih luas. Populasi lebih kecil. Kawasan perkotaan belum sebesar sekarang. Infrastruktur belum sebanyak sekarang. Tekanan terhadap air, tanah, pesisir dan keanekaragaman hayati juga berbeda.

Generasi sekarang mewarisi seluruh keputusan tersebut—baik manfaat maupun dampaknya.

Karena itu, apabila suatu generasi pada masa lalu mengubah sebagian hutan menjadi sawah, perkebunan atau permukiman, hal tersebut tidak otomatis memberikan hak kepada generasi berikutnya untuk mengonversi hutan dalam skala yang sama.

Sama seperti rumah tadi: hak untuk menambahkan barang ditentukan oleh kapasitas ruang yang tersisa, bukan oleh berapa banyak barang yang berhasil dimasukkan sebelumnya.

Paradigma Pembangunan Harus Berubah

Pembangunan Indonesia ke depan membutuhkan perubahan cara berpikir.

Kita tidak harus memilih antara ekonomi dan lingkungan. Tantangannya justru bagaimana membangun perekonomian dengan mengakui bahwa ekonomi berada di dalam sistem ekologis dan bergantung kepadanya.

Air yang digunakan industri berasal dari sistem alam. Pertanian bergantung pada tanah, air dan iklim. Pembangkit listrik membutuhkan sumber daya dan ruang. Kota membutuhkan daerah tangkapan air. Perikanan bergantung pada kesehatan sungai, pesisir dan laut. Bahkan aktivitas ekonomi digital tetap membutuhkan energi, air dan infrastruktur fisik.

Karena itu, menjaga ekosistem bukanlah kegiatan yang berlawanan dengan pembangunan.

Ekosistem adalah salah satu fondasi pembangunan itu sendiri.

Ketika fondasi tersebut melemah, biaya ekonomi untuk mempertahankan kehidupan dan kegiatan produksi justru akan semakin tinggi.

Jangan Mengulang Masa Lalu Hanya karena Dahulu Menguntungkan

Pelajaran terbesar dari gagasan “Pembangunan Tidak Bisa Terus Mengulang Masa Lalu” adalah pentingnya menempatkan keputusan pembangunan dalam konteks zaman.

Apa yang dahulu dianggap wajar belum tentu masih layak dilakukan sekarang. Apa yang dahulu menghasilkan pertumbuhan ekonomi belum tentu memberikan manfaat bersih yang sama ketika kondisi ekologis telah berubah.

Karena itu, argumen “dahulu kita juga membuka hutan dan berhasil” tidak cukup menjadi dasar kebijakan hari ini.

Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah: berapa banyak ruang ekologis yang masih tersisa, apa fungsi lingkungan yang akan hilang, apakah kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui lahan yang sudah terbuka, berapa biaya ekologis yang akan muncul, siapa yang akan menanggungnya, dan apakah keputusan hari ini akan mempersempit pilihan generasi berikutnya.

Pembangunan tetap harus berjalan. Indonesia tetap membutuhkan pertumbuhan ekonomi, pangan, energi, industri, infrastruktur dan lapangan kerja.

Namun pembangunan pada 2026 tidak dapat menggunakan peta ekologis, tekanan penduduk, kondisi hutan dan cara berpikir pembangunan beberapa dekade lalu.

Rumah kita masih sama, tetapi isinya sudah jauh lebih penuh.

Karena itu, tantangan pembangunan sekarang bukan sekadar bagaimana memasukkan lebih banyak kegiatan ekonomi ke dalam ruang yang tersedia, melainkan bagaimana memastikan ruang tersebut tetap mampu menopang kehidupan setelah pembangunan berlangsung.

Pada akhirnya, pembangunan yang berhasil bukan pembangunan yang mampu mengambil sebanyak mungkin dari alam. Pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan tanpa menghabiskan kemampuan alam untuk menopang kesejahteraan itu sendiri.


Sumber: https://www.kompasiana.com/oswarmungkasa3997/6adb67c6ed64157e0a2c2a77/pembangunan-tidan-bisa-terus-mengulang-masa-lalu#goog_rewarded

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO