Pertamina NRE dan IDM Dorong Kawasan Wisata Borobudur Menuju Netral Karbon

Upaya menurunkan emisi kini mulai masuk ke sektor pariwisata. Kawasan Borobudur menjadi salah satu contoh penting bagaimana destinasi wisata dapat dikembangkan tidak hanya dari sisi ekonomi dan budaya, tetapi juga dari sisi keberlanjutan lingkungan.
Pertamina New & Renewable Energy atau Pertamina NRE bersama InJourney Destination Management atau IDM mendorong penerapan konsep netral karbon di kawasan wisata Borobudur.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa pengelolaan destinasi wisata masa depan tidak cukup hanya memikirkan jumlah pengunjung, fasilitas, dan promosi. Jejak karbon dari transportasi, energi, pengelolaan kawasan, serta aktivitas wisata juga perlu dihitung dan dikendalikan.
Netral Karbon Bukan Berarti Tanpa Emisi
Konsep netral karbon sering disalahartikan sebagai kondisi tanpa emisi sama sekali.
Padahal dalam praktiknya, netral karbon biasanya dimulai dengan menghitung berapa besar emisi yang dihasilkan dari suatu aktivitas, kemudian menurunkannya semaksimal mungkin.
Emisi yang masih tersisa kemudian dapat diseimbangkan melalui mekanisme penyerapan atau kompensasi karbon yang kredibel.
Dengan demikian, tahap terpenting bukan langsung melakukan offset, tetapi mengurangi emisi dari sumbernya terlebih dahulu.
Dalam kawasan wisata, sumber emisi dapat berasal dari konsumsi listrik, kendaraan operasional, mobilitas pengunjung, penggunaan bahan bakar, sampah, air, hingga kegiatan komersial di sekitar destinasi.
Borobudur Cocok Menjadi Laboratorium Pariwisata Rendah Karbon
Borobudur memiliki posisi yang sangat strategis.
Kawasan ini bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga situs budaya dengan nilai sejarah yang sangat tinggi.
Karena itu, upaya menuju netral karbon dapat menjadi model bagaimana warisan budaya dan agenda lingkungan berjalan bersama.
Jika pengelolaan energi, transportasi, dan kawasan dilakukan dengan baik, Borobudur dapat berkembang menjadi contoh destinasi yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memiliki standar keberlanjutan yang lebih tinggi.
Pendekatan seperti ini semakin relevan karena wisatawan global mulai memperhatikan jejak lingkungan dari perjalanan mereka.
Energi Bersih Menjadi Bagian Penting
Salah satu langkah utama menuju kawasan wisata rendah karbon adalah penggunaan energi yang lebih bersih.
Pembangkit listrik tenaga surya, efisiensi energi bangunan, penerangan hemat energi, hingga sistem manajemen energi dapat membantu menurunkan konsumsi listrik dari sumber berbasis fosil.
Untuk kawasan wisata, efisiensi energi juga dapat diterapkan pada pusat informasi, fasilitas publik, area komersial, hotel, dan sarana penunjang lainnya.
Semakin rendah kebutuhan energi, semakin mudah pula target penurunan emisi dicapai.
Transportasi Tidak Boleh Dilupakan
Pada destinasi wisata besar, sebagian besar emisi tidak selalu berasal dari bangunan.
Transportasi pengunjung dapat menjadi sumber yang sangat signifikan.
Wisatawan datang menggunakan mobil, bus, sepeda motor, atau moda transportasi lain.
Karena itu, strategi netral karbon juga perlu memikirkan sistem mobilitas.
Shuttle listrik, kendaraan rendah emisi, jalur pejalan kaki, sepeda, serta integrasi transportasi publik dapat menjadi bagian dari solusi.
Semakin mudah pengunjung bergerak tanpa kendaraan pribadi berbahan bakar fosil, semakin rendah pula jejak karbon kawasan.
Pengelolaan Sampah Juga Penting
Destinasi wisata menghasilkan sampah dalam jumlah besar, terutama ketika jumlah pengunjung meningkat.
Sampah makanan, kemasan, plastik sekali pakai, dan limbah lainnya perlu dikelola sejak dari sumber.
Pendekatan ekonomi sirkular dapat diterapkan melalui pengurangan penggunaan material sekali pakai, pemilahan, penggunaan kembali, komposting, dan daur ulang.
Jika sampah organik hanya dibuang ke TPA, proses pembusukannya dapat menghasilkan metana.
Karena itu, pengelolaan sampah juga menjadi bagian dari strategi iklim.
Air Juga Harus Masuk dalam Perhitungan
Kawasan wisata membutuhkan air untuk sanitasi, kebersihan, restoran, hotel, taman, dan berbagai fasilitas publik.
Efisiensi penggunaan air membantu mengurangi tekanan terhadap sumber daya lokal sekaligus mengurangi energi yang digunakan untuk memompa dan mengolah air.
Pemanfaatan air hujan, perangkat hemat air, pengolahan air limbah, dan penggunaan ulang air untuk kebutuhan tertentu dapat membantu meningkatkan efisiensi.
Pendekatan ini penting karena keberlanjutan destinasi tidak hanya ditentukan oleh emisi karbon.
Air, biodiversitas, sampah, dan kualitas lingkungan juga harus diperhatikan.
Penghitungan Emisi Harus Transparan
Untuk menyatakan sebuah kawasan menuju netral karbon, diperlukan baseline yang jelas.
Berapa emisi yang dihasilkan saat ini?
Sumber terbesar berasal dari mana?
Berapa target pengurangannya?
Dan bagaimana kemajuannya diukur?
Pertanyaan tersebut membutuhkan sistem measurement, reporting, and verification yang kredibel.
Tanpa data yang jelas, istilah netral karbon dapat berubah menjadi sekadar klaim pemasaran.
Karena itu, transparansi menjadi bagian penting.
Pengunjung dan masyarakat seharusnya dapat mengetahui bagaimana target dihitung dan program apa yang benar-benar dilakukan.
Offset Harus Menjadi Langkah Terakhir
Dalam perjalanan menuju netral karbon, mungkin masih ada emisi yang sulit dihilangkan sepenuhnya.
Pada kondisi tersebut, mekanisme offset dapat digunakan.
Namun, offset sebaiknya digunakan setelah upaya pengurangan langsung dilakukan semaksimal mungkin.
Proyek kompensasi juga harus memiliki integritas tinggi.
Artinya, pengurangan atau penyerapan karbon harus benar-benar terjadi, dapat diverifikasi, tidak dihitung ganda, dan memiliki manfaat jangka panjang.
Masyarakat Lokal Harus Mendapat Manfaat
Kawasan Borobudur tidak berdiri sendiri.
Di sekitarnya terdapat masyarakat, UMKM, pelaku wisata, pengrajin, dan berbagai usaha lokal.
Karena itu, transisi menuju pariwisata rendah karbon sebaiknya juga menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
UMKM dapat didorong menggunakan energi yang lebih efisien.
Transportasi lokal dapat beralih ke kendaraan rendah emisi.
Produk lokal dapat menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Program penghijauan dan konservasi juga dapat melibatkan masyarakat secara langsung.
Dengan cara tersebut, netral karbon bukan hanya proyek teknologi, tetapi juga transformasi ekonomi lokal.
Pariwisata Berkelanjutan Tidak Cukup Hanya Hijau
Destinasi berkelanjutan harus memperhatikan tiga aspek sekaligus: lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Emisi harus turun.
Masyarakat harus mendapatkan manfaat.
Warisan budaya harus tetap terlindungi.
Dan pengalaman wisata harus tetap berkualitas.
Jika salah satu aspek diabaikan, pembangunan bisa kehilangan keseimbangan.
Borobudur Bisa Menjadi Contoh Nasional
Indonesia memiliki banyak destinasi wisata yang memiliki nilai budaya dan lingkungan sangat tinggi.
Jika pendekatan netral karbon di Borobudur berhasil, modelnya dapat dikembangkan di berbagai kawasan lain.
Destinasi wisata alam, kawasan konservasi, taman nasional, kawasan heritage, hingga destinasi bahari dapat menerapkan prinsip serupa.
Namun, setiap kawasan membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Tidak ada satu formula yang berlaku untuk semua.
Masa Depan Wisata Bukan Hanya Tentang Jumlah Pengunjung
Selama ini keberhasilan pariwisata sering diukur dari jumlah wisatawan dan nilai transaksi.
Ke depan, indikator tersebut perlu dilengkapi.
Berapa emisi per pengunjung?
Berapa banyak energi bersih yang digunakan?
Berapa persen sampah yang berhasil dikurangi?
Seberapa besar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat lokal?
Dan apakah kondisi lingkungan membaik?
Pertanyaan-pertanyaan ini akan semakin penting dalam industri pariwisata.
Inisiatif netral karbon di Borobudur menunjukkan bahwa destinasi wisata masa depan tidak cukup hanya indah dan populer. Ia juga harus mampu menjaga lingkungan, mengurangi emisi, dan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan sumber daya yang membuat kawasan itu bernilai sejak awal.
Jika dijalankan dengan pengukuran yang transparan dan melibatkan masyarakat, Borobudur berpotensi menjadi contoh bahwa pelestarian budaya dan transisi rendah karbon dapat berjalan dalam satu arah.
Sumber: ANTARA News
https://www.antaranews.com/berita/5771916/pertamina-nre-idm-terapkan-netral-karbon-di-kawasan-wisata-borobudur




