Realita Hijau Jakarta: Antara Ambisi Kota Berkelanjutan dan Ruang Hijau yang Terus Tertekan

Jakarta terus membawa narasi sebagai kota yang ingin bergerak menuju arah lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan. Namun, di tengah pembangunan yang sangat intensif, tantangan untuk mempertahankan ruang terbuka hijau masih menjadi pekerjaan besar.
Ruang hijau memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar mempercantik kota. Pohon, taman, hutan kota, dan vegetasi di kawasan permukiman membantu menurunkan suhu, menyerap air hujan, memperbaiki kualitas udara, mengurangi efek pulau panas, serta menyediakan ruang interaksi bagi warga.
Masalahnya, kebutuhan ruang di Jakarta sangat tinggi. Pembangunan hunian, kawasan komersial, jalan, infrastruktur, dan berbagai fasilitas kota terus bersaing dengan kebutuhan mempertahankan ruang alami.
Di sinilah muncul paradoks kota besar: semakin berkembang, semakin besar pula tekanan terhadap ruang terbuka yang justru dibutuhkan agar kota tetap layak dihuni.
Ruang Hijau Bukan Sekadar Persentase
Pembahasan tentang ruang terbuka hijau sering berhenti pada angka persentase.
Padahal, kualitas, lokasi, konektivitas, dan akses masyarakat terhadap ruang hijau sama pentingnya dengan luas totalnya.
Sebuah taman yang luas tetapi sulit dijangkau tidak memberikan manfaat yang sama dengan jaringan taman kecil yang tersebar dekat dengan permukiman.
Demikian pula, ruang hijau yang hanya terkonsentrasi di kawasan tertentu dapat menciptakan ketimpangan lingkungan.
Warga di satu kawasan mungkin memiliki akses mudah ke pepohonan, taman, dan udara yang lebih nyaman, sementara warga di kawasan padat harus menghadapi panas, polusi, dan minimnya ruang terbuka.
Jakarta Menghadapi Tekanan Panas dan Banjir
Ruang hijau juga sangat terkait dengan dua persoalan besar Jakarta: panas perkotaan dan banjir.
Permukaan beton dan aspal menyerap panas lebih banyak dibandingkan vegetasi. Ketika area hijau berkurang, suhu lokal dapat meningkat dan memperparah fenomena urban heat island.
Pada saat yang sama, berkurangnya lahan yang mampu menyerap air dapat meningkatkan limpasan permukaan ketika hujan deras terjadi.
Karena itu, ruang hijau seharusnya dipandang sebagai bagian dari infrastruktur kota, bukan sebagai elemen tambahan.
Pohon, taman, rawa, dan kawasan resapan bekerja sebagai infrastruktur alami yang membantu kota menghadapi perubahan iklim.
Pembangunan Tidak Harus Berlawanan dengan Penghijauan
Kebutuhan pembangunan dan kebutuhan ruang hijau sebenarnya tidak harus selalu dipertentangkan.
Desain kota dapat memasukkan prinsip penghijauan ke berbagai skala.
Gedung dapat menggunakan atap hijau dan taman vertikal. Koridor jalan dapat diperkuat dengan pohon peneduh. Kawasan permukiman dapat menyediakan ruang terbuka bersama. Sungai dan waduk dapat dikembangkan sebagai koridor ekologis.
Bahkan area yang relatif kecil dapat memiliki dampak besar jika dirancang sebagai jaringan hijau yang saling terhubung.
Pendekatan seperti nature-based solutions menjadi semakin penting dalam pembangunan kota modern.
Alih-alih hanya mengandalkan beton, kota dapat menggunakan vegetasi, tanah, air, dan ekosistem untuk membantu mengatasi persoalan lingkungan.
Pohon Kota Membutuhkan Perencanaan Jangka Panjang
Penghijauan juga bukan sekadar kegiatan menanam pohon dalam jumlah besar.
Pohon membutuhkan ruang tumbuh, tanah yang cukup, air, pemeliharaan, dan perlindungan dari pembangunan.
Jenis pohon juga perlu dipilih sesuai kondisi perkotaan.
Jika tidak direncanakan dengan baik, pohon dapat mati beberapa tahun setelah ditanam atau justru mengalami konflik dengan jaringan listrik, trotoar, dan infrastruktur lainnya.
Karena itu, keberhasilan penghijauan lebih tepat diukur dari berapa banyak pohon yang bertahan dan tumbuh sehat, bukan hanya berapa banyak bibit yang pernah ditanam.
Ruang Hijau Harus Dekat dengan Warga
Salah satu prinsip penting kota hijau adalah aksesibilitas.
Warga seharusnya tidak perlu melakukan perjalanan jauh hanya untuk menemukan taman atau ruang terbuka.
Ruang hijau yang dekat dengan tempat tinggal memberikan manfaat langsung bagi kesehatan fisik dan mental.
Anak-anak memperoleh tempat bermain, warga lanjut usia mendapatkan ruang berjalan kaki, sementara masyarakat memiliki tempat untuk berinteraksi tanpa harus mengeluarkan biaya.
Dengan demikian, penghijauan juga berkaitan dengan keadilan sosial.
Kota Hijau Membutuhkan Partisipasi Warga
Pemerintah memiliki peran besar dalam tata ruang dan pembangunan taman, tetapi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan kota.
Penghijauan dapat dimulai dari halaman rumah, sekolah, kantor, kawasan permukiman, hingga ruang publik skala kecil.
Namun, partisipasi masyarakat tidak boleh menjadi alasan bagi pemerintah untuk mengurangi tanggung jawab dalam menyediakan ruang hijau publik.
Keduanya harus berjalan bersama.
Jakarta Tidak Cukup Hanya Terlihat Hijau
Tantangan terbesar Jakarta bukan membuat beberapa kawasan terlihat hijau, tetapi memastikan fungsi ekologis kota benar-benar membaik.
Ukuran keberhasilannya dapat dilihat dari semakin banyaknya warga yang memiliki akses ke ruang hijau, meningkatnya tutupan pohon, membaiknya kualitas udara, menurunnya suhu kawasan, meningkatnya daya serap air, serta semakin terhubungnya ekosistem perkotaan.
Kota hijau bukan kota yang sekadar memiliki taman indah di beberapa lokasi. Kota hijau adalah kota yang menjadikan alam sebagai bagian dari sistem kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Jakarta akan terus tumbuh dan berubah. Pertanyaannya bukan apakah pembangunan akan berhenti, tetapi apakah setiap pembangunan baru mampu memberikan ruang yang cukup bagi alam.
Karena pada akhirnya, kualitas sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi gedungnya atau seberapa modern infrastrukturnya, tetapi juga oleh seberapa nyaman manusia dapat hidup berdampingan dengan alam di dalamnya.
Sumber: Elfayed.id — Realita Hijau Jakarta
https://elfayed.id/oh-jakarta-kampoengku/realita-hijau-jakarta/




