Rencana strategis kementerian kehutanan 2025-2029

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 meletakkan daya dukung dan daya tampung lingkungan terutama dalam pengelolaan sumber daya alam menjadi salah satu aspek batasan dalam pelaksanaan pembangunan (development constraint). Aspek tersebut dijabarkan ke dalam tujuh hal, yaitu kawasan lindung di darat dan perairan, tutupan hutan primer dan hutan di atas lahan gambut, habitat spesies kunci, luas permukiman di area pesisir terdampak perubahan iklim, kawasan rawan bencana, ketersediaan air, dan ketersediaan energi. Selain itu, RPJMN 2025-2029 juga meletakkan sektor kehutanan dalam sumber pertumbuhan inovatif untuk mencapai target pertumbuhan tinggi dalam jangka menengah melalui peningkatan produktivitas pangan, hilirisasi industri berbasis sumber daya alam melalui penerapan ekonomi hijau, dan pengembangan pariwisata. Hal ini menjadikan kehutanan sebagai sector yang penting dalam menjaga kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan makhluk hidup melalui ketersediaan sumber daya alam khususnya dalam pengelolaan kawasan hutan.
Pentingnya fungsi hutan :
- Hutan adalah pusat identitas dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, ekonomi dan budaya Indonesia, mencakup sekitar 118,2 juta hektare dan menampung 10 persen keanekaragaman hayati dunia. Hutan menyediakan berbagai sumber daya alam yang penting bagi mata pencaharian masyarakat terutama masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Selain itu, hutan juga sebagai ruang hidup yang tidak terpisahkan dari sistem nilai kepercayaan dan adat istiadat masyarakat.
- Hutan memberikan jasa ekosistem penting – termasuk kayu, makanan, obat-obatan, pengatur tata air, perlindungan banjir, dan rekreasi yang menyokong kehidupan bagi 280 juta orang penduduk Indonesia. Nilai tertinggi berasal dari jasa regulating (penyaringan air), penyerapan karbon, jasa budaya (pariwisata), dan produk yang dapat dipasarkan seperti kayu dan makanan. Data Bank Dunia menyebutkan bahwa jasa ekosistem hutan bernilai rata–rata US$2.100 sampai US$5.200/Hektare per tahun dengan variasi yang signifikan antar wilayah. Nilai ekosistem hutan tertinggi berada di Pulau Sumatera dengan total nilai ekosistem sebesar US$4.745, diikuti oleh Pulau Kalimantan sebesar US$4.372 per Hektare per tahun.
- Hutan Indonesia memurnikan sebagian besar air tawar dengan kontribusi sebesar 66,5 persen yang sebagian besarnya berada di daerah tangkapan air yang lebih terpencil. Peran hutan melindungi sebagian besar pasokan air dari aktivitas manusia seperti pertanian dan industri, yang dapat meningkatkan biaya pengolahan. Pengelolaan ini sangat penting karena lebih dari 70 persen penduduk bergantung pada sumber air nonperpipaan, terutama di daerah pedesaan. Berdasarkan
data permintaan domestik terhadap sumber air pada tahun 2019 yang tercantum dalam dokumen Indonesia Vision 2045: Toward Water Security, penduduk yang mendapatkan akses air dari air tanah sebesar 46 persen, mata air sebesar 19 persen, serta sungai dan danau sebesar 9 persen. Situasi ini dapat mengakibatkan penipisan akuifer yang signifikan dan pada akhirnya mengakibatkan penurunan tanah. Hal ini menunjukkan pentingnya pengelolaan sumber daya air yang lebih
berkelanjutan.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




