Renewable Energy and Jobs Annual Review 2025

Kami dengan senang hati menghadirkan edisi Renewable Energy and Jobs 2025, yang menyajikan estimasi terbaru mengenai jumlah tenaga kerja di sektor energi terbarukan di seluruh dunia. Data tersebut dilengkapi dengan analisis mengenai dinamika industri serta perkembangan kebijakan publik yang memengaruhi lapangan kerja energi terbarukan, dengan fokus khusus pada pentingnya kebijakan inklusif untuk mendukung transisi energi yang berhasil.
Pada tahun 2024, setidaknya 16,6 juta orang tercatat bekerja secara langsung maupun tidak langsung di industri energi terbarukan—angka tertinggi yang pernah dicapai secara global hingga saat ini. Namun, meskipun kapasitas energi terbarukan terus bertumbuh dengan kuat, laju pertumbuhan lapangan kerja justru melambat secara signifikan. Hal ini terutama disebabkan oleh laporan dari Tiongkok yang menunjukkan jumlah tenaga kerja lebih rendah dibandingkan tahun 2023.
Peningkatan produktivitas tenaga kerja serta efisiensi skala produksi (economies of scale) telah menurunkan intensitas kebutuhan tenaga kerja, sehingga pertumbuhan lapangan kerja tidak sebanding dengan peningkatan kapasitas. Kondisi ini terjadi meskipun Tiongkok tetap mencatat peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan serta memperluas produksi panel surya, turbin angin, dan berbagai peralatan transisi energi lainnya.
Situasi ini menandakan munculnya fase baru dalam transisi energi. Otomatisasi yang semakin berkembang serta peningkatan efisiensi industri menyebabkan kebutuhan tenaga kerja manusia per unit kapasitas baru menjadi lebih rendah. Meski demikian, dampaknya berbeda-beda antarnegara, antar teknologi, dan antar segmen dalam rantai nilai energi terbarukan.
Skala pembangunan juga menjadi faktor penting. Misalnya, sistem pembangkit surya atap (rooftop solar) yang bersifat terdesentralisasi umumnya lebih padat karya dibandingkan proyek pembangkit berskala utilitas (utility-scale). Selain itu, perkembangan pesat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diperkirakan akan membawa dampak luas dalam beberapa tahun mendatang, meskipun masih belum jelas apakah AI akan lebih banyak menciptakan atau menghilangkan lapangan kerja, atau justru mengubah profil pekerjaan serta kebutuhan keterampilan tenaga kerja.
Dalam konteks tersebut, pengembangan tenaga kerja menjadi semakin krusial bagi keberhasilan transisi energi. Pendidikan dan pelatihan—termasuk program reskilling dan upskilling—tetap menjadi kebutuhan utama, baik melalui pendidikan universitas, pelatihan vokasi, maupun pembelajaran di tempat kerja. Namun, banyak kurikulum pendidikan saat ini masih berorientasi pada kebutuhan masa lalu dan perlu segera beradaptasi agar mampu membentuk keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan tenaga kerja energi masa depan.
Laporan ini juga menekankan pentingnya memperluas akses pelatihan, peluang kerja, serta prospek karier bagi kelompok masyarakat yang berisiko tertinggal dalam proses transisi energi. Secara khusus, laporan membahas temuan terbaru IRENA mengenai kesetaraan gender dan menyoroti berbagai upaya untuk menciptakan proses rekrutmen serta lingkungan kerja yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.
Penting untuk dipahami bahwa isu inklusivitas bukan hanya soal keadilan dan kesetaraan, tetapi juga tentang memastikan industri tidak mengabaikan potensi, gagasan, dan perspektif berharga dari kelompok-kelompok tersebut. Pada akhirnya, unsur manusia—para pekerja dari berbagai bidang, profesi, dan latar keterampilan—akan menjadi kunci utama dalam menjamin keberhasilan transisi energi.
https://www.ilo.org/sites/default/files/2026-01/IRENA_SOC_RE_and_jobs_2026.pdf
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




