Revolusi Hijau Warung Masduki, dari 10 Kantong Sampah, Kini Jadi Setengah Kresek

Di tengah riuhnya destinasi wisata kuliner, satu warung legendaris di Kota Pekalongan mengukir cerita perubahan besar.
Warung Masduki, yang kini dikelola generasi ketiga, menjadi pelopor pengelolaan sampah mandiri yang revolusioner.
Yakni,mengubah pola buang sampah dari 10 kantong besar per hari, menjadi hanya setengah kantong kresek kecil.
Warung yang terkenal dengan menu Garangasem khas Pekalongan ini, tidak hanya menyajikan hidangan khas dengan cita rasa tradisional, tetapi juga “menghidangkan” kesadaran lingkungan kepada setiap pelanggan dan karyawannya.
Transformasi dimulai sejak masa pandemi Covid-19, saat aktivitas melambat dan kesadaran akan keinginan mulai tumbuh.
“Dulu kami menggunakan banyak tisu dan sedotan sekali pakai,” ujar Manajer Sarana dan Prasarana Warung Masduki, Sodikin.
Tapi sejak 2020, pihaknya mulai mengganti kebiasaan itu. Tisu diganti lap kain, sedotan tidak lagi disediakan, dan wadah makan dipilih yang bisa dipakai ulang.
Bahkan cukup menggunakan daun sebagai pelapis piring dari melamin. Langkah-langkah kecil ini menjadi gerbang perubahan besar.
Limbah cair berkurang drastis karena peralatan makan tidak perlu sering dicuci dengan sabun air. Dari sini, pengelolaan sampah mulai dipikir serius.
Sodikin dan tim tak sekadar memilah, tapi juga menjalin kemitraan dengan peternak maggot dan bebek lokal.
Sisa makanan organik yang masih layak jadi pakan, langsung disalurkan. Yang tidak layak, bisa dimakan.
Sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




