Saat Revolusi Digital Berubah Jadi Krisis Energi: Catatan dari Lonjakan AI

Kalau selama ini kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) identik dengan teknologi yang serba cepat dan tidak terlihat, ada sisi lain yang jarang dibicarakan: energi yang dibutuhkan untuk menjalankannya.
Kita cukup mengetik sebuah prompt, menunggu beberapa detik, lalu jawaban muncul di layar. Prosesnya terlihat sederhana. Namun, di balik respons tersebut terdapat pusat data berisi ribuan perangkat komputasi yang bekerja dan membutuhkan listrik, sistem pendingin, serta infrastruktur pendukung.
Perkembangan AI yang sangat cepat akhirnya tidak hanya menjadi persoalan teknologi. Ia juga mulai menjadi persoalan energi dan lingkungan.
Ketika Pertumbuhan AI Ikut Mendorong Kebutuhan Listrik
Wawancara dengan Serguei Netessine, Wakil Dekan Senior Wharton School, menyoroti bagaimana perkembangan pusat data mulai memberikan tekanan baru terhadap kebutuhan listrik di Amerika Serikat.
Pada periode 2005–2019, pertumbuhan permintaan listrik AS relatif rendah, sekitar 0,1 persen per tahun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhannya mendekati 2 persen per tahun.
Pusat data, termasuk infrastruktur yang mendukung perkembangan AI, menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong perubahan tersebut.
Persoalannya, kecepatan membangun dunia digital tidak sama dengan kecepatan membangun infrastruktur energi.
Pusat data dapat dikembangkan relatif cepat. Sebaliknya, pembangunan pembangkit baru, jaringan transmisi, gardu, hingga penyelesaian proses perizinannya dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Ketika permintaan listrik tumbuh lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem menyediakan pasokan baru, tekanan terhadap jaringan listrik pun meningkat.
AI Bisa Mendorong Kembalinya Energi Fosil?
Di sinilah muncul sebuah paradoks.
AI sering diharapkan membantu manusia menciptakan masa depan yang lebih efisien, termasuk membantu pengembangan teknologi untuk menghadapi perubahan iklim. Namun, ekspansi infrastrukturnya sendiri membutuhkan energi dalam jumlah besar.
Ketika pasokan listrik bersih tidak berkembang cukup cepat, kebutuhan energi pusat data berpotensi dipenuhi oleh sumber energi fosil.
Sebagian perusahaan teknologi bahkan dapat mempertimbangkan membangun sumber energi sendiri ketika harus menunggu terlalu lama untuk memperoleh koneksi atau tambahan kapasitas dari jaringan listrik.
Jika sumber tersebut berasal dari bahan bakar fosil seperti gas, pertumbuhan ekonomi digital berpotensi membawa konsekuensi berupa tambahan emisi.
Artinya, pertanyaan tentang AI ke depan bukan hanya “seberapa pintar modelnya?”, tetapi juga “dari mana listrik untuk menjalankannya berasal?”
Indonesia Perlu Belajar Sebelum Terlambat
Persoalan ini relevan bagi Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi digital dan investasi pusat data membuat kebutuhan energi sektor digital berpotensi terus meningkat. AI juga akan semakin banyak digunakan oleh pemerintah, perusahaan, kampus, industri, hingga masyarakat.
Karena itu, pembangunan pusat data idealnya tidak dipisahkan dari perencanaan energi.
Jangan sampai investasi pusat data berkembang sangat cepat, sementara pembangkit dan jaringan listrik baru dipikirkan setelah kebutuhan muncul.
Indonesia memiliki peluang karena mempunyai beragam potensi energi rendah karbon dan terbarukan, mulai dari panas bumi, tenaga surya, hidro hingga sumber energi bersih lainnya.
Jika ekspansi pusat data dapat dihubungkan dengan percepatan penyediaan energi yang lebih bersih, pertumbuhan AI justru dapat menjadi momentum untuk mendorong investasi baru pada infrastruktur energi berkelanjutan.
Pusat Data Bukan Hanya Soal Listrik
Dampak lingkungan AI juga tidak berhenti pada konsumsi listrik.
Pusat data menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendinginan. Bergantung pada teknologi dan lokasi fasilitas, proses pendinginan dapat berkaitan dengan penggunaan air dan tambahan energi.
Perangkat komputasi berperforma tinggi juga membutuhkan berbagai material dan memiliki siklus penggantian perangkat.
Karena itu, pembicaraan mengenai Green AI seharusnya mencakup gambaran yang lebih luas: efisiensi model, efisiensi pusat data, sumber listrik, penggunaan air, pemanfaatan perangkat keras, hingga pengelolaan limbah elektronik.
Gen Z dan Alpha Perlu Tahu: Dunia Digital Tidak Benar-Benar “Maya”
Bagi generasi yang tumbuh bersama internet dan AI, ada perubahan cara pandang yang menarik.
Aktivitas digital sebenarnya memiliki jejak fisik.
Foto yang disimpan di cloud, video yang ditonton, pencarian internet, dan penggunaan AI semuanya bergantung pada infrastruktur nyata: server, jaringan telekomunikasi, kabel, pusat data, sistem pendingin, dan pembangkit listrik.
Namun, tantangan tersebut sekaligus membuka peluang pekerjaan baru.
Masa depan AI tidak hanya membutuhkan software engineer atau ilmuwan data. Pertumbuhan infrastruktur digital juga membutuhkan ahli kelistrikan, pusat data, pendinginan, efisiensi energi, baterai dan penyimpanan energi, jaringan listrik pintar, serta energi terbarukan.
Pertemuan antara teknologi digital dan energi dapat menjadi salah satu bidang penting dalam ekonomi masa depan.
Perlombaan AI Bisa Berubah Menjadi Perlombaan Energi
Selama ini perlombaan AI global banyak dilihat dari siapa yang memiliki model paling pintar, komputasi paling kuat, atau investasi teknologi paling besar.
Namun, semakin besar AI berkembang, semakin jelas bahwa ada infrastruktur fisik yang menopangnya.
Negara yang memiliki teknologi canggih tetapi kekurangan pasokan listrik yang andal dan terjangkau akan menghadapi hambatan. Sebaliknya, negara yang mampu menggabungkan infrastruktur digital dengan sistem energi yang kuat dan semakin bersih dapat memiliki keunggulan baru.
Indonesia karena itu memiliki kesempatan untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi AI, tetapi membangun ekosistem digital yang mempertimbangkan keberlanjutan sejak awal.
AI memang hidup di dunia digital, tetapi energi yang menghidupkannya berasal dari dunia nyata.
Pertanyaan besar dalam perlombaan AI masa depan mungkin bukan lagi hanya siapa yang memiliki kecerdasan buatan paling hebat, melainkan juga:




