Sepuluh Tahun Setelah Paris Agreement, Komitmen Iklim Negara Makin Kuat tetapi Implementasi Jadi Tantangan Utama

Sepuluh tahun setelah Paris Agreement, negara-negara di dunia menunjukkan peningkatan kualitas dalam menyusun komitmen iklim nasional atau Nationally Determined Contributions (NDCs). UNDP melalui edisi terakhir NDC Insights Series 2026 menilai bahwa putaran terbaru NDC tidak hanya lebih ambisius, tetapi juga lebih rinci dan semakin terhubung dengan agenda pembangunan nasional.
Hingga akhir 2025, sebanyak 128 negara yang mewakili sekitar 78 persen emisi global telah menyerahkan NDC terbaru mereka. Cakupan ini menunjukkan bahwa mayoritas emisi dunia kini berada di bawah komitmen iklim nasional yang diperbarui.
Dibandingkan generasi sebelumnya, NDC terbaru mencakup lebih banyak sektor dan mulai mengintegrasikan isu iklim secara lebih luas ke dalam kebijakan pembangunan. Energi, kehutanan, ekonomi sirkular, dan transisi berkeadilan menjadi tema yang muncul dalam banyak dokumen nasional.
Perubahan penting lainnya adalah semakin besarnya perhatian terhadap adaptasi serta loss and damage. Ini menunjukkan bahwa banyak negara tidak lagi hanya fokus pada pengurangan emisi, tetapi juga mulai mempersiapkan diri menghadapi dampak perubahan iklim yang sudah terjadi.
Bagi negara berkembang, dukungan internasional tetap menjadi faktor penting. Banyak negara memperoleh bantuan teknis melalui inisiatif Climate Promise UNDP untuk memperkuat penyusunan NDC, meningkatkan kualitas data, memperluas partisipasi pemangku kepentingan, dan menyelaraskan rencana iklim dengan prioritas pembangunan.
Ambisi Naik, tetapi Implementasi Belum Otomatis
Meski kualitas dan kredibilitas NDC semakin meningkat, tantangan terbesar justru muncul setelah dokumen selesai disusun.
Komitmen iklim tidak akan menghasilkan perubahan nyata tanpa pembiayaan, teknologi, kapasitas institusi, dan proyek yang dapat dieksekusi.
Karena itu, fase berikutnya bukan lagi hanya tentang memperbarui target, tetapi tentang mengubah target menjadi program konkret.
Negara perlu menerjemahkan NDC ke dalam rencana sektoral, proyek investasi, kebijakan fiskal, regulasi, dan mekanisme pembiayaan yang jelas.
Energi Tetap Menjadi Kunci
Sektor energi tetap menjadi salah satu bagian paling penting dalam banyak NDC.
Transisi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan, peningkatan efisiensi energi, elektrifikasi transportasi, serta modernisasi jaringan listrik menjadi langkah utama untuk menurunkan emisi.
Namun, keberhasilan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh pembangunan pembangkit baru.
Negara juga membutuhkan jaringan listrik yang kuat, penyimpanan energi, reformasi pasar energi, pembiayaan yang terjangkau, serta kepastian regulasi.
Hutan dan Ekonomi Sirkular Makin Strategis
Selain energi, kehutanan juga menjadi sektor penting karena berhubungan dengan penyimpanan karbon, perlindungan keanekaragaman hayati, serta kehidupan masyarakat lokal.
Di banyak negara, perlindungan hutan, restorasi lahan, dan pengurangan deforestasi menjadi bagian utama strategi iklim nasional.
Sementara itu, ekonomi sirkular mulai semakin sering dimasukkan ke dalam NDC.
Pendekatan ini mendorong pengurangan penggunaan material baru, peningkatan efisiensi sumber daya, pemanfaatan kembali produk, serta pengurangan limbah.
Artinya, kebijakan iklim semakin bergeser dari sekadar persoalan energi menuju perubahan yang lebih luas dalam sistem produksi dan konsumsi.
Transisi Harus Berkeadilan
Isu just transition juga semakin menonjol.
Perubahan menuju ekonomi rendah karbon dapat membawa manfaat besar, tetapi juga dapat menimbulkan dampak pada pekerja dan masyarakat yang selama ini bergantung pada industri berbasis fosil.
Karena itu, transisi perlu disertai pelatihan ulang tenaga kerja, penciptaan lapangan kerja baru, perlindungan sosial, dan kebijakan yang memastikan manfaat ekonomi hijau dapat dirasakan secara lebih merata.
Transisi yang berhasil bukan hanya menurunkan emisi, tetapi juga menjaga aspek sosial dan ekonomi masyarakat.
Adaptasi dan Loss and Damage Semakin Penting
Banyak negara kini menyadari bahwa perubahan iklim tidak lagi hanya menjadi risiko masa depan.
Banjir, kekeringan, gelombang panas, kenaikan muka laut, dan cuaca ekstrem telah menimbulkan kerugian nyata.
Karena itu, NDC terbaru semakin banyak memasukkan strategi adaptasi untuk meningkatkan ketahanan sektor pertanian, air, kesehatan, infrastruktur, dan wilayah pesisir.
Loss and damage juga semakin mendapat perhatian karena tidak semua dampak perubahan iklim dapat dicegah melalui adaptasi.
Bagi negara rentan, dukungan pembiayaan untuk menghadapi kerugian tersebut menjadi bagian penting dalam kerja sama iklim global.
Dari Komitmen Menuju Investasi
UNDP menekankan bahwa peningkatan kualitas NDC harus diikuti dengan peningkatan kemampuan menarik investasi.
Target iklim harus dapat diterjemahkan menjadi proyek yang memiliki model bisnis, struktur pembiayaan, dan risiko yang jelas.
Pemerintah juga perlu menciptakan lingkungan kebijakan yang memberikan kepastian bagi investor.
Tanpa pembiayaan yang memadai, banyak rencana iklim berisiko tetap berada di atas kertas.
Sepuluh tahun setelah Paris Agreement, dunia telah menjadi lebih baik dalam menyusun komitmen iklim. Tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut benar-benar berubah menjadi proyek, kebijakan, investasi, dan pengurangan emisi di lapangan.
NDC generasi baru menunjukkan bahwa ambisi mulai meningkat. Namun, keberhasilan dekade berikutnya tidak akan diukur dari seberapa bagus dokumen yang disusun, melainkan dari seberapa cepat dunia mampu melaksanakan isinya.
Sumber: UNDP — NDC Insights Series 2026
https://www.linkedin.com/posts/undp-ndc-insights-ugcPost-7509134317537689600-QShG/




