Sebelum Ada El Niño, Orang Jawa Sudah Punya Ilmu Titen: 6 Pelajaran tentang Air dan Iklim dari Desa Giritengah

Pada 5 Oktober 2026, ASB S-SEA menyelanggarakan Lokakarya Diseminasi Program Seger Waras. Empat orang dari desa lokasi program membagikan cerita dari desa masing-masing dalam format TED Talk. Salah satunya Achmad Solikan, Sekretaris Lembaga Pengurangan Risiko Bencana (LPRB) Giritengah, Magelang, menunjukkan bagaimana pengetahuan lokal membantu desanya memangkas kebutuhan dropping air bersih, dari 220.000 liter menjadi 25.000 liter.
Achmad Solikan atau akrab disapa Kang Lekan membuka bicaranya dengan perumpamaan “Saya dekat dengan batu, tapi jauh dengan ratu,” candanya merujuk pada desanya yang bersebelahan dengan Candi Borobudur tetapi jauh dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sedangkan, semua ilmu tentang air, tanah, dan musim yang turun-temurun justru berasal dari Keraton.
Selama hampir tiga tahun Program Seger Waras, Kang Lekan terlibat sebagai fasilitator penanggulangan bencana, tim pendata, dan narasumber. Ia juga baru masuk nominasi Kalpataru. Kalpataru adalah penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di wilayahnya.
Pesannya sederhana: banyak jawaban atas krisis iklim sebenarnya sudah lama ada di sekitar kita. Kita hanya perlu kembali membacanya. Berikut enam pelajaran dari Giritengah yang dibagikan oleh Kang Lekan.
1. Membaca tanda-tanda alam adalah sistem peringatan dini tertua
Warga Giritengah masih memegang erat pranata mangsa, kalender musim Jawa yang membaca perubahan alam. Pada mangsa kapitu (sekitar Januari), misalnya, angin kencang mengguncang rumpun bambu betung. Setelah itu, rebung-rebung (tunas bambu) baru bermunculan.
Bagi Kang Lekan ini bukan mitos. Ini ilmu titen yang merupakan pengetahuan yang lahir dari mengamati pola alam bertahun-tahun. Titen sendiri merupakan bahasa Jawa yang bermakna kepekaan, kecermatan, dan kemampuan seseorang untuk mengingat, memperhatikan, serta membaca tanda-tanda alam atau perilaku manusia berdasarkan pengamatan yang berulang kali. Ilmu titen kerap digunakan untuk menyebut pengetahuan tradisional yang lahir dari pengalaman dan pencatatan pola kehidupan dari masa ke masa.
“Mungkin tahun ini BMKG bilangnya El Niño, orang Jawa bilangnya tahun Dal. Jadi sebelum ada El Niño, sebenarnya orang Jawa sudah punya ilmu titen.”
Tahun Dal adalah tahun kelima dalam satu siklus delapan tahunan (windu) pada penanggalan atau kalender Jawa. Tahun ini dianggap sebagai periode yang sakral, berat, dan penuh kewaspadaan karena membawa energi perubahan besar dalam kehidupan sosial maupun alam. Pengetahuan ini kini tidak berhenti sebagai cerita. Bersama Seger Waras, pranata mangsa diakui sebagai pengetahuan lokal dan dimasukkan ke dalam dokumen kajian risiko bencana desa, protokol Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD), dan proses perencanaan pembangunan desa.
2. Infrastruktur membantu, tapi kebiasaan warga yang menentukan
Dulu, saat kemarau, Pemerintah Desa Giritengah pernah menyalurkan dropping air bersih hingga 220.000 liter dari anggaran desa sendiri dalam kurun satu tahun. Jumlah tersebut belum menghitung dropping air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tahun ini, meski El Niño melanda, dropping sejauh ini hanya 25.000 liter.
Kang Lekan menyebut dua alasan. Pertama, kehadiran Kelompok Pengelola Sarana Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (KPSPAM). KPSPAM sendiri dibentuk dari kolaborasi Program Seger Waras dengan warga Desa Giritengah. Kedua, kesadaran warga tentang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) yang terus ditumbuhkan oleh LPRB dan para pegiat desa. Menurut Kang Lekan, poin kedua ini menjadi hal yang sangat penting.
Masyarakat Desa Giritengah kini tidak hanya memikirkan kebutuhan air bagi diri sendiri, tetapi juga bagi tetangganya. Perubahan ini dibentuk dari pengelolaan air oleh KPSPAM yang terus bertumbuh perlahan-lahan menuju pengelolaan air yang adil.
3. Tanam sekali, panen sepanjang tahun
Banyak desa memakai pola monokultur: sekali cangkul, satu jenis tanaman, panen, lalu mencangkul lagi. Giritengah memilih tumpang sari bergilir yang dirancang agar desa tetap panen bahkan di musim kemarau. Tumpang sari adalah sistem tanam di bidang pertanian yang menanam dua jenis tanaman atau lebih secara bersamaan di atas satu lahan yang sama.
Sekali olah lahan, petani menanam sawi (panen 25 hari), mentimun (32 hari), lalu cabai (mulai panen 90 hari). Setelah panen raya cabai, tanaman lain disisipkan. Ada juga kacang koro, tanaman yang justru berbuah saat kemarau.
“Musim kemarau jangan sampai kita enggak ada panenan.”
Pola tanam yang rapat ini juga menjaga tanah tetap tertutup, sehingga air di dalam tanah tidak cepat menguap.
4. Kenali tanahmu sebelum mengolahnya
Penelitian geofisika menunjukkan lapisan tanah di Giritengah sangat tipis, di atas batuan gunung purba. Akibatnya, desa ini menghadapi dua risiko sekaligus: longsor saat hujan dan kekeringan saat kemarau.
Karena itu, mitigasi dimulai dari tanah. Warga menanam vetiver dan tanaman konservasi di sekitar sumber mata air. Pembuatan kompos pun tidak asal-asalan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman:
- Daun bambu kaya fosfor dan silika, untuk menggemburkan tanah liat yang merekah keras pada mangsa karo (awal Agustus).
- Daun jati cocok untuk tanaman yang dipanen daunnya, seperti sawi.
- Daun nangka kandungan kaliumnya tinggi, cocok untuk tanaman yang dipanen buahnya.
5. Rawat mata air secara lahir dan batin
Setiap bulan Sapar (bulan kedua dalam penanggalan Kalender Hijriah), warga Giritengah masih menggelar tradisi merawat mata air. Bagi Kang Lekan, tradisi ini mengingatkan bahwa menjaga sumber air bukan sekadar pekerjaan teknis.
“Jangan sampai kita merawat cuma dengan fisik, tapi batin kita enggak ke situ. Jangan sampai kita cuma pakai akal dan kekuatan, tapi rasa kita enggak di sumbernya.”
Kearifan ini juga praktis. Banyak mata air justru mati setelah disemen. Warga Giritengah memilih material alami, seperti tumpukan batu, agar daun-daun yang jatuh tersaring dan tidak masuk ke sumber air.
6. Dana boleh kecil, pemberdayaan harus tetap jalan
Kang Lekan jujur soal tantangan ke depan. Anggaran desa kini mengecil, dan desa sedang dalam masa peralihan kepemimpinan. Target LPRB tetap sama: Giritengah menjadi desa low dropping.
Ia juga mendampingi kelompok wanita tani secara mandiri. Hasil olahan desa kini dipasarkan lewat toko daring.
“Meskipun dana desa enggak jalan, pemberdayaan yang harus jalan.”
Menjaga, sekaligus berani melawan
Kang Lekan menutup dengan mengutip falsafah Jawa memayu hayuning bawana yang maknanya menjaga keselamatan dan keindahan dunia. Moderator kemudian melengkapinya: memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara. Artinya, kita tidak hanya merawat alam, tapi juga berani berkata tidak kepada siapa pun yang merusaknya.
Dari Giritengah, kita belajar bahwa adaptasi iklim tidak selalu dimulai dari teknologi baru. Kadang ia dimulai dari mendengarkan kembali apa yang sudah lama diajarkan alam.




