Dokumen

Sistem Kelistrikan Sulawesi Butuh Fleksibilitas Lebih Besar untuk Menampung Energi Terbarukan

Transisi menuju sistem kelistrikan rendah karbon tidak cukup hanya dengan menambah kapasitas pembangkit energi terbarukan. Ketika porsi energi surya dan angin semakin besar, sistem kelistrikan juga harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan pasokan dan permintaan secara cepat dan fleksibel.

Institute for Essential Services Reform (IESR) menyoroti persoalan ini melalui studi mengenai fleksibilitas sistem ketenagalistrikan di Pulau Sulawesi. Sulawesi dipilih karena pertumbuhan energi terbarukan variabel atau variable renewable energy cukup pesat, kondisi geografisnya kompleks, dan wilayah ini memiliki posisi penting dalam pengembangan industri nasional.

Studi tersebut menggunakan pemodelan sistem ketenagalistrikan hingga 2060 untuk membandingkan skenario berdasarkan kebijakan nasional dengan skenario biaya terendah. Hasilnya menunjukkan bahwa kebutuhan fleksibilitas sistem akan meningkat seiring bertambahnya energi surya dan angin serta semakin dinamisnya pola konsumsi listrik.

Kebutuhan paling besar terjadi pada fleksibilitas harian. Artinya, sistem harus mampu merespons perubahan produksi energi terbarukan dalam hitungan jam, misalnya ketika produksi listrik tenaga surya turun pada sore hari sementara kebutuhan listrik masih tinggi.

Dalam jangka lebih panjang, kebutuhan fleksibilitas musiman juga diperkirakan meningkat tajam. Perubahan pola cuaca, musim, dan permintaan listrik dapat membuat produksi energi terbarukan berbeda secara signifikan sepanjang tahun.

Salah satu solusi utama yang diidentifikasi adalah Battery Energy Storage System atau BESS. Sistem baterai dapat menyimpan listrik ketika produksi berlebih dan mengembalikannya ke jaringan ketika kebutuhan meningkat. Baterai dengan durasi penyimpanan berbeda dinilai cocok untuk membantu menyeimbangkan sistem dalam skala harian.

Selain baterai, interkoneksi antarpulau juga memiliki peran penting. Koneksi Sulawesi dengan Kalimantan dan Nusa Tenggara, misalnya, berpotensi memungkinkan kelebihan listrik dari satu wilayah dialirkan ke wilayah lain yang sedang membutuhkan.

Menariknya, skenario biaya terendah yang dianalisis dalam studi tersebut menunjukkan kecenderungan lebih besar menggunakan energi terbarukan variabel, bioenergi, dan BESS dibandingkan tenaga nuklir. Skenario ini diperkirakan mampu menurunkan rata-rata biaya pembangkitan sekitar 27 persen pada 2060, dengan tingkat emisi yang setara dengan skenario kebijakan nasional.

Studi tersebut juga menyoroti potensi bioenergi Sulawesi yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal. Bioenergi dapat menjadi salah satu sumber pembangkit yang lebih fleksibel untuk membantu menjaga kestabilan sistem ketika produksi energi surya dan angin berubah.

Namun, teknologi saja tidak cukup. Perencanaan sistem kelistrikan perlu memasukkan penilaian kebutuhan fleksibilitas sejak awal. Kontrak jual beli listrik juga perlu dirancang lebih fleksibel agar pembangkit dapat menyesuaikan operasinya terhadap kondisi sistem.

Regulasi untuk pengembangan BESS, mekanisme layanan pendukung jaringan, serta investasi pada transmisi juga menjadi bagian penting dari transformasi tersebut.

Masa depan energi terbarukan tidak hanya bergantung pada berapa banyak panel surya atau turbin angin yang dibangun. Sistem listrik juga harus mampu menyimpan, memindahkan, dan mengatur energi secara fleksibel. Jika direncanakan dengan baik, Sulawesi dapat menjadi contoh bagaimana sistem kelistrikan rendah karbon dapat tetap andal sekaligus lebih ekonomis.

Sumber: Institute for Essential Services Reform (IESR)
https://iesr.or.id/pustaka/fleksibilitas-dalam-pengembangan-sistem-ketenagalistrikan-studi-kasus-pulau-sulawesi/

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO