Berita

Suara Anak-anak untuk Hutan Indonesia: Murid SD di Surakarta Kampanyekan Stop Karhutla Lewat Poster

Di tengah kabar kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, suara kepedulian datang dari anak-anak sekolah dasar di Kota Surakarta. Sekitar 80 murid kelas IV dan V SDN Nayu Barat 1, Nusukan, menyampaikan pesan sederhana melalui poster yang mereka gambar sendiri: “Stop Karhutla”, “Jaga Hutan Kita”, hingga “Hutan Bukan untuk Dibakar, Tapi Dilindungi!”. Dengan mengenakan masker serta membawa buku gambar, krayon, dan pensil warna, mereka mengingatkan bahwa persoalan kebakaran hutan bukan hanya urusan pemerintah, petugas pemadam, atau masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Masa depan hutan Indonesia juga berkaitan erat dengan generasi yang hari ini masih duduk di bangku sekolah.

Aksi kepedulian tersebut berlangsung pada 21 Oktober 2026 di halaman SDN Nayu Barat 1, Surakarta, Jawa Tengah. Para murid menggelar doa bersama sekaligus kampanye kreatif mengenai kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia dengan menunjukkan poster hasil karya mereka sendiri. Berbagai gambar menampilkan kondisi hutan terbakar, kabut asap, satwa yang kehilangan habitat, hingga helikopter yang melakukan water bombing untuk memadamkan api. Melalui kegiatan tersebut, persoalan karhutla yang biasanya hadir sebagai berita dan angka statistik diterjemahkan menjadi sesuatu yang lebih mudah dipahami oleh anak-anak.

Masker yang dikenakan para murid juga mempunyai makna tersendiri. Menurut keterangan pihak sekolah, penggunaan masker menjadi bentuk empati terhadap masyarakat yang terdampak asap karhutla, khususnya di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Ketika kebakaran berlangsung dalam skala besar, dampaknya memang tidak selalu berhenti di lokasi api karena asap dapat bergerak mengikuti kondisi atmosfer dan memengaruhi kualitas udara di wilayah lain. Dari kegiatan sederhana tersebut, anak-anak mulai diperkenalkan pada hubungan antara hutan, kualitas udara, kesehatan manusia, kehidupan satwa, dan kondisi lingkungan secara lebih luas.

Poster Sederhana Membawa Pesan Besar

Tidak diperlukan teknologi rumit untuk mulai mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan kepada anak-anak. Selembar kertas, krayon, pensil warna, diskusi bersama guru, dan beberapa kalimat sederhana dapat menjadi media pendidikan yang efektif apabila anak memahami makna di baliknya. Kalimat seperti “Hutan Bukan untuk Dibakar, Tapi Dilindungi!” mungkin terdengar sangat sederhana bagi orang dewasa, tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat pesannya mudah dipahami dan diingat oleh anak-anak.

Sebelum memahami persoalan kompleks seperti emisi karbon, perubahan iklim, degradasi gambut, konsesi lahan, atau tata kelola kehutanan, anak dapat terlebih dahulu memahami hubungan dasar antara manusia dan alam. Hutan merupakan tempat hidup tumbuhan dan satwa, sementara kebakaran dapat merusak pepohonan, menghasilkan asap, mengganggu kesehatan, serta membuat berbagai satwa kehilangan tempat berlindung dan mencari makanan. Pemahaman sederhana seperti inilah yang kemudian dapat berkembang menjadi literasi lingkungan yang lebih luas ketika mereka bertambah dewasa.

Guru kelas V SDN Nayu Barat 1, Erwin Kurniati, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran berbasis science, technology, engineering, and mathematics atau STEM dengan pendekatan lingkungan. Anak-anak tidak hanya diminta menggambar, tetapi diperkenalkan pada dampak karhutla, cara pencegahan, serta berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Dengan demikian, kegiatan menggambar tidak berdiri sendiri sebagai aktivitas seni, melainkan menjadi media untuk menghubungkan pengetahuan, empati, dan pembentukan karakter.

Karhutla Bukan Persoalan yang Terlalu Jauh bagi Anak-anak

Persoalan kebakaran hutan sering dibicarakan melalui bahasa yang cukup kompleks, mulai dari jumlah hotspot, luas kawasan terbakar, emisi karbon, status tanggap darurat, operasi modifikasi cuaca, hingga jumlah helikopter yang dikerahkan untuk melakukan pemadaman. Semua informasi tersebut penting bagi pengambilan kebijakan, tetapi anak-anak dapat memahami persoalan yang sama melalui pengalaman yang jauh lebih dekat dengan kehidupan mereka. Ketika hutan terbakar, udara dapat menjadi berasap, kegiatan di luar rumah harus dikurangi, masker perlu digunakan, sekolah dapat terganggu, dan satwa kehilangan tempat hidupnya.

Pendekatan seperti ini membuat persoalan lingkungan tidak terasa sebagai sesuatu yang abstrak atau terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari. Anak mulai memahami bahwa kerusakan yang terjadi ratusan bahkan ribuan kilometer dari tempat tinggalnya tetap dapat mempunyai dampak bagi manusia dan lingkungan. Hutan yang berada di Sumatra atau Kalimantan memang tidak terlihat dari halaman sekolah di Surakarta, tetapi fungsi ekologisnya merupakan bagian dari sistem lingkungan Indonesia yang saling terhubung.

Salah seorang murid kelas V bahkan menggambarkan kebakaran hutan beserta satwa yang kehilangan tempat tinggalnya. Melalui gambar tersebut, anak mampu menerjemahkan informasi yang mereka terima menjadi pemahaman sederhana mengenai konsekuensi kebakaran terhadap makhluk hidup lain. Pendidikan seperti ini penting karena kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya dibangun melalui hafalan, melainkan juga melalui kemampuan memahami dampak sebuah peristiwa terhadap kehidupan di sekitarnya.

Masker Anak-anak Menjadi Simbol Dampak Asap

Pemandangan murid sekolah dasar mengenakan masker sambil membawa poster “Stop Karhutla” memberikan pesan visual yang kuat. Masker yang mereka gunakan memang merupakan simbol empati terhadap korban asap, tetapi pada wilayah yang benar-benar terdampak karhutla, perlindungan terhadap anak-anak merupakan kebutuhan nyata karena memburuknya kualitas udara dapat memengaruhi aktivitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Pada 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bahkan menerbitkan kebijakan khusus mengenai penyelenggaraan layanan pendidikan di wilayah terdampak asap karhutla. Penyesuaian kegiatan belajar dilakukan dengan mempertimbangkan Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU, tingkat risiko kesehatan, serta kondisi peserta didik. Ketika kualitas udara memburuk hingga kategori tertentu, aktivitas di luar ruangan dapat dibatasi, kelompok rentan dapat dialihkan ke pembelajaran jarak jauh, bahkan pembelajaran tatap muka dapat dihentikan sementara apabila kondisi udara mencapai tingkat sangat tidak sehat atau berbahaya.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan kehutanan. Ketika asap menyebar ke wilayah permukiman, dampaknya dapat masuk ke ruang kelas dan memengaruhi proses belajar anak. Karena itu, ketika murid sekolah dasar di Surakarta mengenakan masker sambil menyerukan penghentian karhutla, pesan tersebut mempunyai relevansi yang jauh lebih luas: anak-anak bukan hanya generasi yang akan mewarisi kondisi lingkungan pada masa depan, tetapi juga kelompok yang dapat merasakan dampak kerusakan lingkungan hari ini.

“Jaga Hutan Kita”

Salah satu pesan yang dibawa para murid adalah “Jaga Hutan Kita”. Dua kata terakhir dalam kalimat tersebut mempunyai makna penting karena menunjukkan bahwa hutan tidak semestinya dipandang hanya sebagai urusan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Seorang anak di Surakarta mungkin tidak tinggal di tengah hutan Sumatra atau Kalimantan, tetapi manfaat ekologis hutan melampaui batas desa, kabupaten, provinsi, bahkan negara.

Hutan menyimpan karbon, melindungi tanah, membantu menjaga sistem air, menjadi habitat keanekaragaman hayati, menyediakan berbagai sumber daya, serta menjadi ruang hidup bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada ekosistem tersebut. Karena itu, ketika kawasan hutan mengalami kerusakan atau kebakaran dalam skala luas, konsekuensinya tidak selalu berhenti pada batas administratif tempat kebakaran terjadi.

Pemahaman mengenai “hutan kita” dapat menjadi pintu masuk untuk membangun rasa tanggung jawab bersama. Anak-anak tidak perlu tinggal di sekitar kawasan konservasi untuk belajar mencintai satwa liar, sebagaimana mereka tidak perlu mengalami langsung kabut asap untuk memahami bahwa udara bersih mempunyai nilai yang sangat penting bagi kehidupan. Pendidikan lingkungan membantu memperluas cara pandang tersebut sehingga alam tidak dipahami hanya berdasarkan manfaat langsung yang diterima seseorang.

Hutan Bukan Sekadar Kumpulan Pohon

Pesan “Hutan Bukan untuk Dibakar, Tapi Dilindungi!” juga mempunyai makna yang lebih luas apabila dijelaskan melalui pendidikan lingkungan. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon yang dapat diganti dengan menanam sejumlah bibit setelah kebakaran. Di dalam sebuah hutan terdapat hubungan kompleks antara pepohonan, tumbuhan bawah, satwa, mikroorganisme, tanah, air, serta kondisi iklim setempat yang berkembang dalam waktu sangat panjang.

Ketika kebakaran besar terjadi, kerusakan yang muncul karena itu tidak hanya dapat dihitung dari jumlah pohon yang terbakar. Habitat satwa dapat hilang, sumber makanan berkurang, struktur tanah berubah, kualitas udara memburuk, dan fungsi ekologis kawasan dapat terganggu. Pada ekosistem gambut, persoalannya bahkan lebih kompleks karena api dapat menjalar di bawah permukaan sehingga sulit ditemukan dan dipadamkan sepenuhnya.

Melalui penjelasan yang sesuai dengan usia, anak-anak dapat mulai memahami bahwa mencegah kebakaran jauh lebih baik dibandingkan mencoba memulihkan ekosistem setelah kerusakan terjadi. Pesan tersebut sebenarnya sejalan dengan prinsip utama penanganan karhutla: perlindungan terbaik dilakukan sebelum api berkembang menjadi kebakaran besar.

Ketika Satwa Tidak Bisa Melindungi Diri dari Asap

Kampanye para murid juga menyinggung perlindungan satwa liar dari ancaman kebakaran. Aspek ini penting karena satwa sering menjadi korban yang tidak terlihat ketika perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada luas lahan terbakar dan asap yang menyelimuti permukiman. Ketika habitat terbakar, satwa harus mencari jalan sendiri untuk menyelamatkan diri dan tidak mempunyai sistem evakuasi seperti manusia.

Sebagian satwa mungkin dapat bergerak menuju kawasan hutan yang belum terbakar, tetapi sebagian lainnya dapat terdorong menuju perkebunan, jalan, atau permukiman. Satwa yang masih sangat muda, terluka, bergerak lambat, atau berada di kawasan hutan yang telah terfragmentasi menghadapi risiko lebih tinggi. Bahkan setelah api padam, kerusakan pohon buah, tempat berlindung, lokasi berkembang biak, dan sumber air dapat terus memberikan tekanan terhadap kehidupan mereka.

Melalui gambar satwa yang kehilangan rumah akibat kebakaran, anak-anak sebenarnya sedang belajar mengenai konsep habitat tanpa harus menggunakan istilah ekologis yang rumit. Mereka memahami hubungan paling mendasar bahwa apabila rumah suatu makhluk hidup rusak, kehidupan makhluk tersebut juga akan terganggu. Pemahaman sederhana ini dapat menjadi dasar bagi pendidikan konservasi yang lebih mendalam pada jenjang berikutnya.

Pendidikan Lingkungan Bisa Dimulai Sejak Sekolah Dasar

Kegiatan SDN Nayu Barat 1 memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus menunggu anak memasuki sekolah menengah atau perguruan tinggi. Materi dapat diperkenalkan melalui aktivitas sederhana yang sesuai dengan usia, seperti menggambar, mengamati lingkungan sekolah, mengenali berbagai jenis sampah, menanam pohon, membuat kompos, belajar menghemat air dan listrik, memahami bahaya membakar sampah sembarangan, hingga mengenal satwa asli Indonesia dan habitatnya.

Pendekatan tersebut menjadi lebih efektif ketika anak tidak hanya menerima instruksi mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi juga memahami alasannya. Ketika diminta menghemat air, misalnya, mereka dapat diajak memahami bahwa air bersih tidak tersedia tanpa batas. Ketika diminta tidak membuang sampah ke sungai, mereka dapat diperlihatkan bagaimana sampah memengaruhi aliran air dan ekosistem. Begitu pula ketika membicarakan karhutla, anak dapat belajar mengenai hubungan antara api, hutan, asap, kesehatan, satwa, dan kehidupan manusia.

Namun pendidikan lingkungan kepada anak juga harus ditempatkan secara proporsional. Anak-anak tidak seharusnya dibebani tanggung jawab menyelesaikan persoalan kompleks yang merupakan kewajiban generasi dewasa. Penegakan hukum, pengelolaan konsesi, perlindungan gambut, restorasi ekosistem, pengendalian emisi, serta tata kelola kehutanan tetap menjadi tanggung jawab pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dewasa. Tugas pendidikan adalah membekali generasi berikutnya dengan pengetahuan dan nilai agar mereka tumbuh dengan kesadaran lingkungan yang lebih kuat.

Dari Poster Menuju Kebiasaan Sehari-hari

Tantangan setelah kegiatan kampanye selesai adalah memastikan pesan yang tertulis pada poster dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan sehari-hari. “Jaga Hutan Kita” tidak berarti seorang anak harus pergi ke kawasan hutan dan melakukan patroli, tetapi dapat dimulai dengan tindakan yang sesuai dengan kehidupannya, seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak membakar sampah, menghemat penggunaan kertas, menjaga tanaman, menghemat listrik dan air, serta menghargai satwa liar.

Sekolah mempunyai posisi strategis untuk membangun kebiasaan tersebut karena anak menghabiskan sebagian besar waktunya dalam lingkungan pendidikan. Apa yang mereka pelajari tidak hanya berasal dari buku, tetapi juga dari pengalaman yang berulang. Ketika sekolah menyediakan tempat pemilahan sampah, mengelola taman, mengurangi plastik sekali pakai, melakukan penghematan energi, atau mengajak siswa memahami persoalan lingkungan di sekitar mereka, pendidikan lingkungan berubah dari sekadar teori menjadi praktik.

Kegiatan membuat poster karhutla merupakan salah satu bentuk pembelajaran tersebut. Anak memperoleh informasi mengenai suatu masalah, mendiskusikannya, menerjemahkannya ke dalam gambar, kemudian menyampaikan pesan kepada orang lain. Proses itu membuat mereka tidak hanya mengetahui bahwa karhutla terjadi, tetapi juga belajar menyampaikan kepedulian dan memahami alasan mengapa kebakaran perlu dicegah.

Anak-anak Akan Hidup dengan Konsekuensi Keputusan Hari Ini

Ada alasan lain mengapa keterlibatan anak dalam pendidikan lingkungan mempunyai arti penting. Mereka merupakan generasi yang akan hidup lebih lama dengan konsekuensi dari berbagai keputusan yang dibuat hari ini. Hutan yang rusak sekarang mungkin membutuhkan puluhan tahun untuk pulih, lahan gambut yang mengalami degradasi tidak dapat dikembalikan dalam waktu singkat, sementara spesies yang telah punah tidak dapat dihadirkan kembali hanya melalui program rehabilitasi.

Persoalan lingkungan karena itu selalu mempunyai dimensi antargenerasi. Keputusan mengenai penggunaan lahan, perlindungan hutan, pengelolaan sumber daya alam, pembangunan industri, dan pengendalian pencemaran yang dibuat hari ini akan membentuk kondisi lingkungan yang diterima anak-anak ketika mereka dewasa. Poster yang mereka bawa seolah menjadi pengingat bahwa generasi yang belum mempunyai kewenangan mengambil keputusan justru mempunyai kepentingan paling panjang terhadap kualitas lingkungan.

Anak-anak tentu tidak perlu dibebani kecemasan berlebihan mengenai masa depan bumi. Pendidikan lingkungan yang baik seharusnya tidak hanya menunjukkan masalah, tetapi juga memperkenalkan solusi dan menumbuhkan keyakinan bahwa perubahan dapat dilakukan melalui ilmu pengetahuan, kebijakan yang baik, inovasi teknologi, penegakan hukum, kerja sama masyarakat, serta perubahan perilaku.

Poster Tidak Memadamkan Api, tetapi Pendidikan Membentuk Generasi Berikutnya

Sebuah poster tentu tidak dapat memadamkan kebakaran yang sedang berlangsung. Krayon tidak dapat menggantikan petugas Manggala Agni, helikopter water bombing, operasi darat, maupun upaya penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal. Namun pendidikan bekerja pada lapisan yang berbeda karena berusaha membentuk pengetahuan, nilai, dan cara berpikir seseorang sebelum ia berada pada posisi untuk membuat keputusan yang lebih besar.

Seorang anak yang sejak kecil memahami nilai hutan dapat tumbuh menjadi masyarakat yang lebih berhati-hati menggunakan api. Ia mungkin menjadi petani yang memahami pengelolaan lahan tanpa bakar, pengusaha yang mempertimbangkan dampak lingkungan, insinyur yang mengembangkan teknologi rendah emisi, guru yang mendidik generasi berikutnya, aparat yang menjaga kawasan konservasi, atau pembuat kebijakan yang memahami bahwa pembangunan ekonomi perlu berjalan bersama perlindungan lingkungan.

Dampak pendidikan seperti itu memang tidak dapat dihitung dalam satu atau dua tahun. Hasilnya mungkin baru terlihat ketika anak-anak tersebut memasuki dunia kerja dan mengambil keputusan sendiri. Namun justru karena persoalan lingkungan bersifat jangka panjang, pendidikan lingkungan juga perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang.

“Stop Karhutla” Tidak Boleh Berhenti di Atas Kertas

Pada akhirnya, pesan yang dibawa murid SDN Nayu Barat 1 sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada teman-teman seusia mereka. Kalimat “Stop Karhutla”, “Jaga Hutan Kita”, dan “Hutan Bukan untuk Dibakar, Tapi Dilindungi!” justru perlu dibaca oleh generasi dewasa yang saat ini mempunyai kewenangan mengambil keputusan mengenai pengelolaan lingkungan.

Mewujudkan pesan sederhana tersebut membutuhkan pekerjaan yang jauh lebih kompleks dibandingkan menggambarnya di atas kertas. Pencegahan karhutla membutuhkan patroli, sistem deteksi dini, pengelolaan lahan tanpa bakar, perlindungan dan pembasahan gambut, kesiapan sarana pemadaman, pemberdayaan masyarakat, pengawasan perusahaan, penegakan hukum yang konsisten, serta pemulihan kawasan yang telah mengalami kerusakan. Semua pekerjaan tersebut berada terutama di tangan orang dewasa.

Anak-anak dapat menggambar seperti apa hutan yang ingin mereka lihat pada masa depan. Tanggung jawab generasi sekarang adalah memastikan hutan tersebut masih ada ketika mereka tumbuh besar.

Suara Anak-anak untuk Hutan Indonesia

Pemandangan puluhan murid sekolah dasar berdiri mengenakan masker sambil memegang poster hasil karya mereka sendiri memberikan pesan yang lebih dalam daripada sekadar kegiatan sekolah. Mereka tidak membawa dokumen kebijakan, tidak berbicara mengenai angka emisi, dan tidak menjelaskan data hotspot. Mereka hanya menyampaikan sesuatu yang sangat mudah dipahami: jangan bakar hutan, jaga lingkungan, dan lindungi satwa yang hidup di dalamnya.

Karhutla memang tidak dapat diselesaikan hanya melalui kampanye di sekolah. Namun kegiatan seperti yang dilakukan SDN Nayu Barat 1 dapat menanam sesuatu yang sama pentingnya dengan menanam pohon, yaitu kesadaran bahwa hutan mempunyai nilai, satwa membutuhkan habitat, udara bersih tidak boleh dianggap selalu tersedia, dan manusia mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan tempatnya hidup.

Ukuran keberhasilan penanganan karhutla pada akhirnya bukan hanya berapa banyak api yang berhasil dipadamkan tahun ini, melainkan apakah kejadian yang sama terus berulang pada musim kemarau berikutnya. Jika generasi yang hari ini masih menggambar hutan dengan krayon tumbuh dengan pemahaman tersebut, pendidikan dapat menjadi salah satu fondasi penting untuk memutus siklus kerusakan lingkungan dalam jangka panjang.

Hari itu, anak-anak Surakarta menggambar pesan untuk hutan Indonesia dengan krayon dan pensil warna. Harapannya, ketika mereka dewasa nanti, “Stop Karhutla” tidak lagi menjadi seruan yang harus terus mereka tuliskan setiap musim kemarau, tetapi menjadi bagian dari sejarah tentang bagaimana Indonesia akhirnya belajar melindungi hutannya sebelum api datang.


Sumber: https://www.antaranews.com/berita/5806435/murid-sdn-nayu-barat-1-di-kota-surakarta-kampanyekan-stop-karhutla-lewat-poster

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO