Surabaya Petakan Konsumsi Energi Bangunan untuk Dorong Kota Rendah Karbon

Surabaya mulai memperkuat langkah menuju kota rendah karbon melalui pemetaan konsumsi energi pada sektor bangunan. Langkah ini penting karena aktivitas operasional gedung pemerintah, bangunan komersial, dan hunian menjadi salah satu sumber konsumsi energi sekaligus emisi perkotaan yang cukup besar.
Studi Baseline Energy Consumption in the Building Sector menunjukkan bahwa Surabaya memiliki lebih dari 780.000 bangunan. Pada 2024, aktivitas operasional bangunan tersebut diperkirakan menghasilkan lebih dari 4 juta ton CO₂ ekuivalen setiap tahun.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa sektor bangunan perlu menjadi bagian penting dari strategi dekarbonisasi kota. Tanpa intervensi yang tepat, peningkatan jumlah bangunan, aktivitas ekonomi, penggunaan pendingin ruangan, pencahayaan, dan berbagai peralatan listrik dapat terus meningkatkan konsumsi energi serta emisi.
Salah satu langkah awal yang diperlukan adalah mengetahui baseline atau nilai dasar konsumsi energi. Data tersebut memungkinkan pemerintah mengidentifikasi jenis bangunan yang paling boros energi sekaligus menentukan program efisiensi yang memberikan dampak terbesar.
Bangunan pemerintah dapat menjadi salah satu titik awal penerapan konservasi energi. Audit energi, penggantian lampu dengan teknologi hemat energi, optimalisasi sistem pendingin ruangan, hingga pemasangan sistem pemantauan konsumsi listrik dapat membantu menekan kebutuhan energi.
Pada bangunan komersial seperti pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran, dan fasilitas bisnis lainnya, efisiensi energi dapat memberikan manfaat ganda. Selain mengurangi emisi, penurunan konsumsi listrik juga dapat menekan biaya operasional dalam jangka panjang.
Sektor hunian juga memiliki peran besar karena jumlahnya mendominasi lingkungan binaan Surabaya. Penggunaan perangkat elektronik hemat energi, desain rumah yang memanfaatkan pencahayaan dan ventilasi alami, serta pemanfaatan energi surya dapat menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Studi ini tidak hanya menghasilkan data konsumsi energi, tetapi juga menjadi dasar untuk menyusun roadmap pengurangan emisi sektor bangunan. Pemerintah Kota Surabaya dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dapat menggunakan hasilnya untuk menentukan proyek percontohan konservasi energi, memperkuat penerapan bangunan hijau, serta meningkatkan pengelolaan energi.
Pembangunan kota rendah karbon pada akhirnya tidak hanya bergantung pada pembangkit energi terbarukan. Efisiensi pada sisi pengguna juga memiliki peran yang sama pentingnya. Energi yang tidak perlu digunakan berarti kebutuhan pembangkitan listrik dan emisi yang terkait dengannya juga dapat dikurangi.
Surabaya menunjukkan bahwa perjalanan menuju kota rendah karbon dapat dimulai dari langkah yang sangat mendasar: mengukur berapa banyak energi yang digunakan setiap bangunan, menemukan sumber pemborosan, kemudian mengubah data tersebut menjadi kebijakan dan aksi nyata.
Sumber: Institute for Essential Services Reform (IESR)
Baseline Energy Consumption in the Building Sector – Kota Surabaya




