Berita

TPA Gunung Santri Cirebon Terbakar, Enam Armada Dikerahkan Hadapi Api yang Bertahan di Bawah Tumpukan Sampah

Kebakaran lahan di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Gunung Santri, Kabupaten Cirebon, merembet hingga ke area timbunan sampah dan memaksa petugas bekerja selama berjam-jam untuk mengendalikan api. Enam kendaraan pemadam dan enam regu akhirnya dikerahkan setelah api yang sempat terlihat padam kembali menghasilkan kepulan asap dari bagian dalam tumpukan. Peristiwa ini menunjukkan mengapa kebakaran di fasilitas pembuangan sampah berbeda dengan kebakaran lahan biasa: api dapat bertahan jauh di bawah permukaan dan kembali muncul ketika kondisi memungkinkan.

Kebakaran pertama kali dilaporkan masyarakat pada Senin, 5 Oktober 2026 sekitar pukul 16.00 WIB. Berdasarkan keterangan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Cirebon, api bermula dari lahan di sekitar kawasan perbukitan Gunung Leneng, di perbatasan Desa Kepuh dan Kedondong, sebelum bergerak mendekati kawasan TPA Gunung Santri dan mengenai sebagian timbunan sampah.

Petugas awalnya mengerahkan tiga regu dengan tiga kendaraan pemadam dari sektor Sumber, Palimanan, dan Weru. Upaya pemadaman berlangsung hingga dini hari, tetapi prosesnya tidak mudah karena petugas menghadapi keterbatasan pasokan air dan kondisi medan di sekitar lokasi yang berbukit serta terjal.

Sekitar pukul 02.00 WIB, petugas menghentikan sementara operasi untuk beristirahat. Penanganan kemudian dilanjutkan sekitar pukul 07.00 WIB pada Selasa setelah asap dan kobaran api masih terlihat di beberapa titik.

Situasi menjadi semakin menantang ketika sekitar pukul 08.00 WIB asap hitam kembali muncul dari tumpukan yang sebelumnya terlihat telah padam. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa material di bagian dalam masih terbakar.

Api di Permukaan Padam, Bagian Dalam Masih Membara

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Cirebon Dadang Suhendra menjelaskan bahwa kebakaran pada tumpukan sampah mempunyai karakter berbeda dengan kebakaran biasa. Air yang disemprotkan ke permukaan belum tentu dapat mencapai sumber panas yang berada jauh di dalam timbunan.

Inilah salah satu alasan kebakaran TPA dapat berlangsung lama. Tumpukan sampah membentuk lapisan material yang tidak seragam dengan berbagai rongga dan material mudah terbakar. Ketika panas masuk ke bagian dalam, air yang disemprotkan dari atas dapat kesulitan menjangkau titik pembakaran tersebut.

Permukaan kemudian dapat terlihat gelap dan tidak lagi mengeluarkan api, padahal bagian bawah masih menyimpan panas. Ketika mendapatkan oksigen melalui celah di antara material, titik panas tersebut dapat kembali menghasilkan asap atau api.

Di Gunung Santri, petugas menduga terdapat material yang sulit dipadamkan secara menyeluruh di dalam timbunan, termasuk ban. Kondisi itulah yang membuat proses pemadaman tidak cukup dilakukan dengan menyemprot permukaan.

Petugas harus mengurai tumpukan sehingga air dapat menjangkau lapisan yang masih membara.

Enam Armada dan Lebih dari Sepuluh Tangki Air

Ketika asap kembali terlihat, kekuatan pemadaman ditambah hingga mencapai enam kendaraan dan enam regu petugas. Sejak operasi dimulai pada malam sebelumnya hingga penanganan berikutnya, lebih dari sepuluh tangki air telah digunakan.

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon turut memberikan dukungan pasokan air. Kolaborasi juga melibatkan Kodim 0620 Kabupaten Cirebon serta pihak Indocement.

Ketersediaan air menjadi faktor penting karena lokasi kebakaran tidak selalu mempunyai sumber air dengan kapasitas yang cukup dekat dari titik api. Ketika kendaraan harus berulang kali mengambil air dari lokasi lain, kesinambungan proses pemadaman dapat terganggu.

Pada kebakaran timbunan sampah, kebutuhan air juga dapat menjadi sangat besar karena petugas tidak hanya memadamkan api yang terlihat, tetapi harus melakukan pendinginan sampai ke bagian dalam material.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa kebakaran dengan area yang secara visual tidak terlalu luas tetap dapat membutuhkan sumber daya pemadaman dalam jumlah besar.

Ekskavator Dikerahkan untuk Membongkar Timbunan

Salah satu langkah penting dalam penanganan kebakaran Gunung Santri adalah penggunaan ekskavator. Alat berat tersebut digunakan untuk membantu mengurai material sehingga titik panas di bagian dalam dapat terbuka dan dijangkau air.

Strategi seperti ini diperlukan ketika penyemprotan dari permukaan tidak lagi efektif.

Material yang masih panas dibongkar secara bertahap, kemudian dilakukan penyiraman dan pendinginan. Proses tersebut harus dilakukan dengan hati-hati karena pembongkaran juga dapat membuka jalur masuk oksigen menuju material yang masih membara.

Selain mengurai timbunan, ekskavator membantu membuka akses di kawasan yang mempunyai kontur sulit. Medan berbukit dan terjal menjadi salah satu kendala kendaraan pemadam untuk menjangkau beberapa bagian lokasi.

Pengelolaan akses seperti ini menjadi komponen penting dalam mitigasi kebakaran TPA. Jalan operasional harus memungkinkan kendaraan pemadam dan alat berat mencapai berbagai zona ketika terjadi keadaan darurat.

Area Terbakar Diperkirakan Beberapa Ratus Meter Persegi

TPA Gunung Santri memiliki luas sekitar 4,7 hektare. Berdasarkan perkiraan petugas saat proses penanganan berlangsung, area yang terdampak kebakaran hanya beberapa ratus meter persegi.

Api dapat dilokalisasi sebelum menjalar ke bagian yang lebih luas dari kawasan TPA.

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon juga melakukan penanganan terhadap lahan dan kebun masyarakat di sekitar fasilitas. Langkah tersebut dilakukan untuk memutus jalur pergerakan api sekaligus mencegah kebakaran lahan kembali merambat menuju tumpukan sampah.

Petugas gabungan membuat sekat bakar dan membasahi area sekitar TPA yang dinilai berpotensi menjadi jalur rambatan.

Upaya tersebut penting karena dalam kasus Gunung Santri, ancaman tidak hanya berasal dari dalam fasilitas pembuangan. Kebakaran justru dilaporkan bermula dari lahan sekitar sebelum mencapai timbunan sampah.

Artinya, mitigasi kebakaran TPA juga perlu mempertimbangkan kondisi kawasan penyangga di sekelilingnya.

Kebakaran TPA Lebih Kompleks daripada yang Terlihat

Peristiwa Gunung Santri memberikan gambaran mengenai kompleksitas kebakaran di tempat pembuangan sampah. Ketika api terlihat di permukaan, bagian yang terbakar sebenarnya dapat jauh lebih luas atau lebih dalam dibandingkan yang terlihat.

Komposisi sampah juga sangat beragam. Plastik, tekstil, karet, kayu, kertas, sampah organik, dan berbagai material lain dapat berada dalam satu timbunan. Masing-masing mempunyai karakter pembakaran yang berbeda.

Beberapa material dapat terbakar dengan cepat, sementara material lainnya dapat membara dalam waktu lama.

Karena itu, indikator keberhasilan pemadaman tidak cukup hanya memastikan tidak ada lagi kobaran api. Petugas perlu memastikan temperatur turun dan tidak terdapat titik panas yang dapat memicu kebakaran kembali.

Pemantauan setelah pemadaman menjadi sama pentingnya dengan operasi ketika api masih terlihat.

Asap Kebakaran Sampah Perlu Diwaspadai

Kebakaran sampah juga berbeda dari pembakaran material tunggal karena komposisinya tidak homogen. Ketika berbagai jenis material terbakar secara bersamaan, asap dapat mengandung campuran partikulat dan berbagai produk pembakaran.

Partikel halus seperti PM2.5 menjadi salah satu komponen yang perlu diperhatikan karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke sistem pernapasan. Komposisi kimia asap sendiri bergantung pada material yang terbakar dan kondisi pembakaran.

Karena itu, masyarakat di sekitar lokasi kebakaran sebaiknya mengurangi paparan asap apabila arah angin membawa asap menuju permukiman, terutama kelompok yang lebih rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan atau kardiovaskular.

Pada saat pemberitaan mengenai penanganan berlangsung, DLH Kabupaten Cirebon menyatakan belum menerima laporan mengenai dampak kebakaran terhadap permukiman warga sekitar. Meski demikian, arah angin tetap menjadi salah satu faktor yang dipantau karena dapat memengaruhi arah penyebaran asap maupun pergerakan api.

Petugas Pemadam Juga Menghadapi Risiko Tinggi

Perhatian terhadap kebakaran TPA tidak seharusnya hanya difokuskan pada masyarakat sekitar. Petugas yang bekerja langsung di lokasi menghadapi paparan jauh lebih tinggi.

Mereka harus bekerja dekat dengan asap, permukaan yang tidak stabil, material panas, alat berat, serta medan yang sulit. Operasi juga dapat berlangsung berjam-jam sehingga risiko kelelahan meningkat.

Keputusan untuk menghentikan sementara operasi pada dini hari agar petugas dapat beristirahat menunjukkan pentingnya pengelolaan keselamatan personel. Dalam operasi berkepanjangan, rotasi regu, ketersediaan air minum, perlindungan pernapasan yang sesuai, komunikasi lapangan, serta pemantauan kondisi petugas menjadi bagian penting dari keselamatan kerja.

Sebab pemadaman yang efektif tidak hanya membutuhkan kendaraan dan air, tetapi juga personel yang dapat bekerja secara aman selama operasi berlangsung.

TPA Membutuhkan Sistem Pencegahan Kebakaran

Insiden Gunung Santri juga dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem mitigasi kebakaran pada fasilitas pembuangan sampah.

Ketersediaan sumber air darurat menjadi salah satu kebutuhan paling mendasar. Jika kebakaran terjadi sementara sumber air berada jauh dari lokasi, proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit.

TPA juga membutuhkan akses jalan yang dapat dilalui kendaraan pemadam dan alat berat. Timbunan perlu dikelola agar tidak menciptakan area yang sama sekali tidak dapat dijangkau ketika terjadi kebakaran.

Zona penyangga di sekeliling fasilitas perlu diperhatikan, terutama pada musim kering ketika vegetasi di lahan sekitar mudah terbakar. Sekat bakar dan pembersihan material mudah terbakar di titik strategis dapat membantu mengurangi kemungkinan api dari luar menjalar menuju timbunan sampah.

Sistem pemantauan juga dapat diperkuat. Petugas dapat memperhatikan munculnya asap, peningkatan temperatur pada area tertentu, atau aktivitas lain yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

Semakin cepat titik panas diketahui, semakin besar peluang mengendalikannya sebelum berkembang menjadi kebakaran besar.

Mengurangi Timbunan Adalah Mitigasi Jangka Panjang

Selain kesiapsiagaan pemadaman, terdapat persoalan yang lebih mendasar: semakin besar timbunan sampah, semakin kompleks risiko yang harus dikelola.

Karena itu, mitigasi kebakaran TPA dalam jangka panjang tidak dapat dipisahkan dari kebijakan pengurangan sampah.

Sampah organik dapat dipisahkan dan diolah melalui komposting atau teknologi biologis lain yang sesuai. Material anorganik yang masih mempunyai nilai dapat masuk ke sistem penggunaan kembali dan daur ulang, sedangkan hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang dikirim ke fasilitas pembuangan akhir.

Pendekatan tersebut bukan berarti kebakaran TPA otomatis tidak akan terjadi. Namun mengurangi volume material yang ditimbun dapat membantu mengurangi tekanan terhadap fasilitas sekaligus membuat pengelolaan kawasan lebih terkendali.

Pemilahan juga dapat mencegah material tertentu masuk ke timbunan tanpa pengelolaan yang semestinya.

TPA Seharusnya Menjadi Tempat Residu Terakhir

Dalam sistem persampahan yang lebih maju, TPA seharusnya berada pada ujung rantai pengelolaan. Material yang masih dapat digunakan, didaur ulang, dikomposkan, atau diproses melalui jalur lain sudah dipisahkan sebelumnya.

Yang masuk ke fasilitas pembuangan akhir terutama adalah residu.

Namun ketika sistem masih didominasi pola kumpul-angkut-buang, berbagai jenis sampah akhirnya terkonsentrasi pada satu lokasi. TPA kemudian harus menghadapi bukan hanya persoalan kapasitas, tetapi juga air lindi, gas hasil dekomposisi, bau, stabilitas timbunan, hingga risiko kebakaran.

Peristiwa Gunung Santri memperlihatkan salah satu konsekuensi dari kompleksitas tersebut.

Api yang berasal dari lahan sekitar dapat berubah menjadi persoalan yang jauh lebih sulit ketika mencapai timbunan sampah.

Kawasan Penyangga TPA Sama Pentingnya

Karena kebakaran Gunung Santri dilaporkan bermula dari lahan sekitar, strategi pencegahan juga perlu memperhatikan area di luar batas operasional TPA.

Vegetasi kering di sekitar fasilitas dapat menjadi jalur rambatan api. Aktivitas pembakaran terbuka di sekitar kawasan juga perlu diawasi, terutama ketika kondisi cuaca mendukung penyebaran kebakaran.

Koordinasi dengan masyarakat sekitar menjadi penting karena mereka sering menjadi pihak pertama yang melihat asap atau api dari lahan di sekitar fasilitas.

Sistem pelaporan cepat dapat membantu petugas merespons sebelum api mencapai timbunan sampah.

Dengan demikian, perlindungan TPA sebenarnya membutuhkan pendekatan kawasan, bukan hanya pengamanan di dalam pagar fasilitas.

Setelah Api Padam, Evaluasi Harus Dimulai

Ketika seluruh titik api akhirnya berhasil dipadamkan, pekerjaan seharusnya tidak berhenti pada pendinginan lokasi.

Insiden perlu dievaluasi untuk mengetahui bagaimana api dapat mencapai area timbunan, apakah sumber air darurat memadai, bagaimana kecepatan mobilisasi armada, apakah akses kendaraan cukup baik, serta bagian mana dari prosedur penanganan yang perlu diperbaiki.

Data mengenai volume air yang digunakan, waktu pemadaman, jumlah personel, lokasi titik api, arah rambatan, serta material yang paling sulit dipadamkan dapat menjadi bahan evaluasi.

Dari informasi tersebut, pemerintah dapat menentukan kebutuhan berikutnya, mulai dari pembangunan sumber air, perbaikan jalan operasional, penambahan sekat bakar, peningkatan peralatan, hingga perubahan tata kelola timbunan.

Insiden yang terdokumentasi dengan baik dapat menjadi dasar untuk mencegah kejadian serupa berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Kebakaran Gunung Santri Menjadi Peringatan

Kebakaran di TPA Gunung Santri memang berhasil dilokalisasi pada area yang relatif kecil dibandingkan keseluruhan kawasan seluas sekitar 4,7 hektare. Namun kebutuhan enam armada pemadam, enam regu, lebih dari sepuluh tangki air, alat berat, serta keterlibatan berbagai instansi menunjukkan betapa kompleksnya menangani api ketika sudah mencapai timbunan sampah.

Peristiwa tersebut juga memperlihatkan bahwa persoalan kebakaran TPA tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah kendaraan pemadam. Pencegahan membutuhkan sumber air yang tersedia, akses yang memadai, pengelolaan timbunan, kawasan penyangga yang aman, pemantauan titik panas, perlindungan petugas, serta koordinasi lintas instansi.

Lebih jauh lagi, strategi jangka panjang tetap harus menyentuh sumber persoalan: jumlah sampah yang terus masuk ke fasilitas pembuangan.

Semakin banyak sampah yang dapat dikurangi, dipilah, digunakan kembali, dikomposkan, dan didaur ulang sebelum mencapai TPA, semakin kecil tekanan yang harus ditanggung fasilitas tersebut.

Kebakaran Gunung Santri akhirnya memberikan pelajaran bahwa keamanan TPA tidak dimulai ketika mobil pemadam tiba. Pencegahan justru dimulai jauh sebelumnya—dari pengelolaan lahan sekitar, kesiapan fasilitas darurat, tata kelola timbunan, hingga keputusan setiap rumah tangga untuk mengurangi dan memilah sampah sebelum material tersebut berakhir di tempat pembuangan.


Sumber: https://www.detik.com/jabar/cirebon-raya/d-8696317/tpa-gunung-santri-terbakar-damkar-kerahkan-enam-armada

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO