Peluang Dagang Karbon Rp 184 Triliun dari Restorasi Gambut dan Rehabilitasi Mangrove

Restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar. Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Tata Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan KLH, Sigit Reliantoro, dalam acara ESG Sustainable Forum 2025 pada Jumat (31/1/2025). Sigit menekankan bahwa kedua upaya ini menjadi fokus penting bagi investasi berkelanjutan dunia usaha.
Restorasi Gambut: Potensi Pengurangan Emisi dan Perdagangan Karbon
Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah melakukan restorasi gambut seluas 4,1 juta hektare. Upaya ini berpotensi mengurangi emisi karbon dioksida hingga 302,9 juta ton per tahun. Menurut Sigit, hal ini membuka peluang perdagangan karbon senilai Rp 48 triliun hingga Rp 184 triliun per tahun.
“Restorasi gambut tidak hanya mendukung upaya pengurangan emisi, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi melalui perdagangan karbon,” ujar Sigit, seperti dilansir Antara.
Sigit berharap perusahaan-perusahaan yang menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dapat mulai melirik restorasi gambut sebagai bagian dari strategi bisnis dan investasi mereka. ESG sendiri merupakan panduan praktik perusahaan untuk pengambilan keputusan yang berkelanjutan.
Rehabilitasi Mangrove: Nilai Ekonomi dan Ekologis yang Besar
Selain restorasi gambut, rehabilitasi mangrove juga menawarkan potensi ekonomi yang signifikan. Sigit menjelaskan bahwa rehabilitasi mangrove memerlukan biaya sekitar 3.900 dolar AS per hektare. Namun, nilai ekosistem mangrove dapat meningkat hingga 15.000 dolar AS per hektare per tahun, dan bahkan mencapai 50.000 dolar AS per hektare jika dikombinasikan dengan sistem silvofishery—budidaya ikan yang mempertahankan ekosistem mangrove.
Pemulihan kawasan pesisir juga diperkirakan menghasilkan 6.760 dolar AS per hektare, yang berasal dari sektor perikanan dan penyimpanan karbon di ekosistem mangrove. Indonesia sendiri memiliki luas mangrove sekitar 3 juta hektare dengan jenis tutupan yang beragam.
Peluang Perdagangan Karbon Domestik dan Internasional
Sigit menegaskan bahwa restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia, khususnya dalam mengembangkan ekonomi hijau dan ekonomi biru. Indonesia telah memulai perdagangan karbon tidak hanya di tingkat domestik, tetapi juga di tingkat internasional, yang resmi diluncurkan pada Januari 2025.
“Restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove dapat dimanfaatkan untuk offset (penebusan karbon) dan perdagangan karbon, baik di dalam negeri maupun di pasar global,” ujar Sigit.
Restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove menawarkan peluang ekonomi yang besar, terutama melalui perdagangan karbon. Dengan potensi nilai mencapai Rp 184 triliun per tahun, kedua upaya ini tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang investasi berkelanjutan bagi dunia usaha. Pemerintah Indonesia terus mendorong partisipasi aktif dari sektor swasta untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Sumber: Kompas.com
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




