Danantara: Kekuatan Baru untuk Transisi Energi yang Perlu Pengelolaan Jangka Panjang

Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) diharapkan menjadi kekuatan baru dalam mendorong transisi energi di Indonesia. Namun, Managing Director Energy Shift, Putra Adhiguna, menegaskan bahwa keberhasilan Danantara tidak dapat dinilai hanya dalam jangka pendek satu atau dua tahun. Sebaliknya, pengelolaannya harus dipandang sebagai strategi jangka panjang dengan tata kelola yang profesional dan stabil.
“Kehadiran Danantara bisa menjadi kekuatan baru di luar PLN untuk mendorong transisi energi di Indonesia. Namun, Danantara tetap perlu bermitra dengan sumber pendanaan lain, seperti investor, untuk memuluskan agenda transisi energi,” kata Putra.
Belajar dari Temasek Holdings
Putra mengambil contoh keberhasilan Temasek Holdings, perusahaan investasi milik pemerintah Singapura, yang telah berdiri selama 40-50 tahun dan memiliki reputasi global yang kuat. Keberhasilan Temasek tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan dibangun melalui mindset jangka panjang dan tata kelola yang baik.
“Temasek itu bisa bertahan selama ini karena dikelola dengan mindset jangka panjang, dengan tata kelola yang bagus. Sementara semua orang seolah-olah ingin melihat Danantara beraksi dalam dua tahun ke depan. Padahal, untuk mencapai hasil signifikan, butuh waktu dan kesabaran,” ujar Putra.
Dia menambahkan bahwa investor akan menunggu untuk memastikan bahwa Danantara dikelola secara profesional sebelum menanamkan modalnya. Investor yang tertarik pada proyek jangka panjang tentu membutuhkan mitra usaha yang stabil dan kredibel.
Pekerjaan Rumah untuk Danantara
Salah satu pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemerintah adalah meyakinkan investor bahwa Danantara adalah lembaga yang stabil dan memiliki tata kelola yang baik. “PR awal kita adalah meyakinkan dulu bahwa investor untuk masuk ke dalam Danantara adalah sebuah langkah yang tepat,” papar Putra.
Selain itu, untuk mendukung transisi energi, Putra menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan pembentukan entitas baru selain Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sudah ada. Menurutnya, menggelontorkan investasi khusus energi terbarukan ke BUMN eksisting memiliki tantangan tersendiri, seperti beban utang yang tinggi atau prioritas bisnis yang tidak selaras dengan agenda transisi energi.
“Bisa jadi membutuhkan entitas baru akan lebih menjanjikan, paling tidak untuk transisi energi,” jelas Putra.
Proyek-Proyek Energi Terbarukan sebagai Daya Tarik
Putra juga menyoroti pentingnya penciptaan proyek-proyek energi terbarukan yang konkret untuk menarik minat investor. Selama ini, salah satu kendala utama dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia adalah minimnya proyek yang siap dieksekusi.
“Indonesia ini sebenarnya tidak kekurangan pendanaan untuk transisi energi. Yang kurang itu proyeknya saja. Jadi, kalau ditanya dalam kerangka investor, yang mereka cari itu proyek,” tutur Putra.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mempercepat realisasi proyek-proyek energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya, angin, atau hidrogen hijau, agar Danantara dapat berperan aktif dalam mendorong eksekusi dan pengembangan proyek tersebut.
Harapan untuk Danantara
Keberadaan Danantara diharapkan dapat menjadi solusi bagi tantangan transisi energi di Indonesia. Dengan modal yang dimiliki, Danantara memiliki potensi besar untuk mendorong pengembangan energi terbarukan, seperti produksi green steel dan transformasi PLN menuju net zero emission.
Namun, keberhasilan Danantara sangat bergantung pada tata kelola yang profesional, stabilitas jangka panjang, serta kolaborasi dengan investor dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan pendekatan yang tepat, Danantara dapat menjadi motor penggerak transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan bagi Indonesia.
Sumber: Jadi Tenaga Baru untuk Transisi Energi, Danantara Harus Dikelola Secara Stabil
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




