Praktik Baik

Teknologi Biogas: Solusi Energi Terbarukan yang Mengubah Hidup Peternak di Cisarua

Di tengah kelangkaan gas elpiji 3 kg yang melanda berbagai wilayah pada awal Februari 2025, Taufik Hidayatullah, seorang peternak sapi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, tetap tenang. Tidak seperti warga lainnya yang harus mengantre panjang untuk mendapatkan gas bersubsidi, Taufik tidak lagi bergantung pada elpiji. Sejak Januari 2025, ia beralih menggunakan teknologi biogas modern untuk memenuhi kebutuhan energi dapurnya.

Teknologi biogas yang digunakan Taufik adalah Sistema.bio , inovasi yang mengubah kotoran ternak menjadi energi terbarukan melalui proses fermentasi anaerob (tanpa oksigen). Alat pengolah limbah organik ini, atau yang disebut biodigester, dipasang tak jauh dari kandang sapinya. Melalui pipa, biogas dialirkan langsung ke kompor rumah untuk memasak.

“Proses memasak menjadi lebih cepat dan aman,” ungkap Taufik saat ditemui Kompas.com, Kamis (27/2/2025). Ia juga menambahkan bahwa kualitas biogas bahkan lebih baik dibandingkan gas elpiji biasa.

Dampak Positif Teknologi Biogas

Taufik bukan satu-satunya yang merasakan manfaat teknologi ini. Dadan Wahyudin, peternak lain di daerah yang sama, juga telah menikmati hasil dari pemasangan instalasi biogas. Dengan lima ekor sapi yang menghasilkan lebih dari 100 kg kotoran per hari, Dadan berhasil menghemat pengeluaran dapur secara signifikan.

“Biasanya, setiap minggu saya menghabiskan satu tabung gas melon. Sekarang, dengan biogas, saya bahkan bisa mandi air hangat tanpa khawatir kehabisan gas,” kata Dadan sambil tertawa. Setiap harinya, ia mengisi biodigester dengan 20 kg kotoran yang dicampur air dengan perbandingan 1:2. Saat pertama kali dipasang, ia mengisi alat tersebut dengan 500 liter kotoran sapi.

Menurut Dadan, biogas tidak hanya membantu menghemat biaya, tetapi juga memberikan pasokan energi yang stabil. “Alhamdulillah, sekarang gas melimpah. Saya tidak pernah kehabisan, tidak perlu antre mencari gas. Semoga peternak lain juga bisa mendapatkan bantuan ini,” ujarnya.

Namun, Dadan mengakui bahwa biaya pemasangan instalasi biogas cukup besar, berkisar antara Rp 1,4 hingga Rp 1,6 juta. Untungnya, ia mendapatkan bantuan pemasangan gratis melalui program percontohan yang diinisiasi oleh PT Biru Karbon Nusantara (BKN).

Inisiatif Hijau untuk Peternak

Teknologi biogas Sistema.bio merupakan bagian dari proyek percontohan yang dijalankan oleh PT Biru Karbon Nusantara (BKN), unit bisnis Yayasan Rumah Energi, bekerja sama dengan Forward7 —gerakan Inisiatif Hijau Timur Tengah (Middle East Green Initiative/MGI) dari Pemerintah Arab Saudi. Program ini bertujuan untuk menyasar peternak di lima wilayah Indonesia sebagai pilot project.

Agung Permadi, Business Development Manager BKN, menjelaskan bahwa teknologi ini tidak hanya memberikan solusi hemat energi bagi peternak, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. “Kami berharap teknologi ini dapat diterapkan secara luas, sehingga semakin banyak masyarakat yang terbantu,” ujarnya.

Melalui inovasi ini, peternak seperti Taufik dan Dadan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada gas elpiji, tetapi juga berperan aktif dalam menghadapi tantangan energi masa depan. Selain itu, limbah cair hasil fermentasi biogas dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, menambah nilai ekonomi bagi peternak.

Harapan untuk Masa Depan

Teknologi biogas menunjukkan potensi besar sebagai solusi energi terbarukan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan dukungan pemerintah dan lembaga internasional, diharapkan semakin banyak peternak di Indonesia yang dapat mengakses teknologi ini. Bagi Taufik dan Dadan, biogas bukan sekadar alternatif energi, tetapi juga langkah nyata menuju kehidupan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Sumber: Teknologi Biogas di Peternakan Jadi Solusi Energi Terbarukan yang Tak Pernah Padam

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO