Artikel

Deforestasi picu ribuan kematian tambahan di Indonesia

Deforestasi di Asia Tenggara Picu 13.000 Kematian Tambahan dan Kerugian Rp139 Triliun akibat Polusi

Perubahan fungsi lahan secara masif di kawasan Asia Tenggara dalam 15 tahun terakhir berdampak fatal bagi kesehatan publik. Studi terbaru yang dipimpin oleh para peneliti dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura mengungkapkan bahwa penggundulan hutan (deforestasi) dan alih fungsi lahan telah memperburuk polusi udara secara drastis, hingga memicu ribuan kasus kematian tambahan setiap tahunnya.

Dampak Nyata Perubahan Lahan di Tahun 2018

Berdasarkan pemodelan data dari studi tersebut, perubahan tutupan lahan di wilayah Asia Tenggara menyebabkan konsekuensi berat, khususnya pada tahun 2018:

  • 13.000 Kasus Kematian Tambahan: Terdapat sekitar 13.000 kematian prematur dalam satu tahun yang berkorelasi langsung dengan memburuknya kualitas udara akibat perubahan penggunaan lahan. Angka ini merupakan lonjakan di luar prediksi kematian normal jika tutupan hutan tetap terjaga.
  • Kerugian Ekonomi US$ 7,8 Miliar (± Rp139 Triliun): Kerugian ekonomi yang masif ini membengkak akibat beban biaya kesehatan, penurunan produktivitas kerja, dan penanganan medis untuk mengobati penyakit yang dipicu oleh meningkatnya polusi udara.

Bagaimana Deforestasi Membakar Paru-Paru Kawasan?

Studi ini menjelaskan rantai sebab-akibat bagaimana penebangan hutan bertransformasi menjadi ancaman mematikan bagi kesehatan:

1. Hilangnya “Penyaring” Polusi Alami

Hutan tropis bertindak sebagai paru-paru bumi yang menyerap emisi karbon dan partikel polutan berbahaya dari udara. Ketika pohon-pohon ditebang untuk perkebunan, pertambangan, atau pemukiman, kemampuan alam untuk membersihkan udara menghilang secara drastis.

2. Peningkatan Partikel Berbahaya (PM2.5)

Alih fungsi lahan di Asia Tenggara sering kali melibatkan metode pembakaran hutan (slash-and-burn). Pembakaran ini melepaskan partikel halus berbahaya bernama PM2.5 dalam jumlah besar ke atmosfer. Partikel yang sangat kecil ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah, memicu penyakit kardiovaskular, stroke, serta gangguan pernapasan kronis.

Riset dari NTU ini menegaskan bahwa deforestasi bukan sekadar isu hilangnya pepohonan atau satwa liar, melainkan krisis kesehatan masyarakat yang nyata. Biaya ekonomi yang timbul dari pembengkakan beban kesehatan terbukti jauh lebih mahal ketimbang keuntungan jangka pendek dari eksploitasi lahan yang merusak lingkungan.

sumber:
https://www.instagram.com/p/DZKcf8hD5ws/

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO